Diskusi Kongres Duta Anak: Merdekakan Hak Anak


Tumbuh Kembang anak banyak mengalami perubahan yang signifikan yang cenderung mengarah ke degradasi (Kemunduran). Seperti adannya pernikahan dini. Tidak tanggung-tanggung pernikahan dini saat berada di bangku sekolah.
Foto: Elisa
Faktor lain kurangnya lahan bermain untuk mereka berkembang. Sehingga pelarian mereka ke permainan modern yang cangih, simpel. Seperti HP, Internet, TV yang lebih banyak menyumbang pada kemunduran dibandingkan dengan nilai positif.
Faktor lain Efek kekerasan rumah tangga dan broken home. Anak merasa pendapat mereka tidak dihargai, keberadaan mereka tidak diakui oleh orangtua mereka, disebabkan oleh kesibukan orangtua. Anak merasa kurang diperhatikan dan kurangnya kasih sayang. Sehingga anak menjadi memilih dunia luar yang bisa memberi kepuasan dan kasih sayang sebagai pengantinya.
Dalam Rangka Pemenuhan Hak Anak, FAD (Forum Anak Daerah) menyelenggarakan Kongres Pemilihan Duta Anak yang diselenggarakan serentak di 5 Kota di DIY. Antara lain di Balai Kota (FAKTA), Gunung Kidul (FAGK), Bantul (FONABA), Kulonprogo (FAKP), dan Sleman (FORANS). Dari kelima Kabupaten tersebut diambil satu perwakilan dari masing-masing Kabupaten untuk tingkat Propinsi. Setiap masing-masing duta itu lolos tingkat propinsi akan mewakili tingkat Nasional.
BACA JUGA 'OPTIMALKAN KEMAMPUAN BERFIKIR ANAK'
Minggu 29 Mei 2011 Kongres untuk Kota Yogyakarta dan Bantul Mengusung tema “Pemenuhan Hak Anak Cermin Masa Depan Bangsa”. Acara Pembuka Diskusi Kongres Bantul dibuka Oleh Drs. Sigit dari Dinas Pendidikan Menengah dan Informal mewakili Bupati Bantul yang berhalangan hadir. Dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Pendidikan Menengah Informal, perwakilan Dinas Sosial, perwakilan BKK PP dan KB.
“Hak Anak memang banyak sekali. Tetapi dari sekian banyak hal tersebut dapat di golongkan menjadi 4 hak, yaitu hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan dan hak partisipasi”. Tutur Krisnoputro seorang mahasiswa kelahiran Trenggalek, sebagai Pembicara.
Seorang anak mempunyai hak menyuarakan aspirasi mereka dengan cara mereka sendiri. Bahwa seorang anak mempunyai perlindungan hukum seperti yang Dijelaskan tentang UUPA No. 23 tahun 2002 yang berisi tentang perlindungan anak.
Konggres ini mengulas tentang perlindungan anak. Membahas Divisi Kesehatan dan Lingkungan, Partisipasi dan Tumbuh Kembang, Pendidikan dan Kebudayaan, Humas dan Jaringan.
Disini ditegaskan bahwa orang tua, teman dan lingkungan harus saling berkaitan satu sama lain. Seorang Teman harus mendukung satu sama lain. Teman baik yang memberi semangat untuk berkembang. Orangtua mampu menjelaskan hak-hak mereka sebagai anak, seperti mendapatkan kasih sayang. Tentunya sebagai anak pula tidak mengacuhkan lingkungan sekitar.
BACA JUGA 'WANITA KARIR, CEMAS ANAK TIDAK NURUT'
Perlindungan Anak antara lain tidak melanggar hak-hak anak, tempat menampung aspirasi anak, tempat mendapatkan kasih sayang dan juga kenyamanan, tempat untuk memenuhi kelangsungan hidup. Faktor hak anak terampas disebabkan adannya masalah tentang Gangster, Pekerja anak, Broken Home, Kekerasan Anak.
Di paparkan pula ini berdampak terhadap Psikologis anak. Mampu mengubah Kepribadian anak yang lembut menjadi pribadi yang keras. Salah satu gejalanya seorang anak tidak betah berlama-lama di dalam rumah. Lebih suka nge-gang, dan keluar dengan teman-teman yang tidak baik. Hal ini menunjukkan terganggunya keseimbangan mental anak.
Di akir acara diskusi memaparkan tentang cara menjaga agar tetap harmonis dengan cara komunikasi antara orangtua dan anak, saling terbuka. Menjadikan orangtua menjadi teman bagi anak. (Elisa, Risa, Arif)


Dipublikasikan di Tabloid BIAS, Edisi 3, 2011
Diskusi Kongres Duta Anak: Merdekakan Hak Anak Diskusi Kongres Duta Anak: Merdekakan Hak Anak Reviewed by elisa on Sunday, May 26, 2019 Rating: 5

No comments:

Sahabat

Powered by Blogger.