Surga Panganan Khas Jawa : Pasar Ramadhan Kauman


“Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah,” begitu ucap Udin seorang pedagang aneka jajanan berbuka puasa.
           
Foto: Krise
Tiga puluh hari yang membawa berkah bagi Udin, seorang tukang becak yang mendadak beralih profesi menjadi pedagang khusus di bulan Ramadhan. Keseharian Udin yang biasanya ia habiskan bersama penumpang dengan berputar-putar keliling wilayah Keraton Yogyakarta kini tergantikan dengan berdiri di depan meja penuh aneka jajanan menunggu pembeli. Pasar Tiban Ramadhan Kauman, dengan gang sempit yang lebarnya tak sampai 2 meter di Kampung Kauman, Jl. Ahmad Dahlan menjadi lahan Udin berjualan bersama penjual dadakan lainnya.
            Kauman sendiri adalah salah satu daerah di lingkungan Kraton Yogyakarta di mana di situ berkumpul para alim ulama dan ahli agama. Organisasi Muhammadiyah yang dirintis oleh K.H. Ahmad Dahlan pun lahir di sini.
“Kauman sendiri berasal dari kata “qoimuddin” yang kemudian karena lidah Jawa berubah jadi “pakauman” yang berarti orang-orang berilmu agama,” ujar Arnanto seorang pengurus desa Kauman.
Suasana santri begitu terasa begitu kita melangkahkan kaki, menelusuri lorong-lorong sempit di antara rumah-rumah penduduk. Bangunan-bangunan tua berarsitektur jadul masih dapat kita temukan di sini. Tak jarang suara lantunan ayat suci Al Quran terdengar samar-samar namun jelas menyeruak dari rumah-rumah penduduk. Apalagi bulan Ramadahan macam gini. Suasana religinya sangat terasa.
Namun, di balik suasana santri yang terasa, ada keriuhan lain ketika Ramadhan tiba. Di salah satu lorong Kauman, tepatnya di Jalan Nggerjen lorong Pasar Tiban, berderet para ibu-ibu berjualan beraneka macam ragam makanan. Konon kegiatan ini sudah berlangsung selama lebih dari 2 dekade. Sekitar tahun 1973, ibu-ibu warga sekitar mulai merintis usaha dengan menyediakan makanan untuk menu berbuka puasa.
Meskipun dengan latar belakang kampung Islam ini Pasar Ramadhan Kauman sekilas tidak berbeda jauh dengan pasar Ramadhan lainnya. Namun, jika ditelusuri sepanjang gang di Rw 10 hingga Rw 13 kauman ini menjajakan makanan khas Yogya yang sudah sangat jarang ditemui. Mulai dari makanan ringan seperti clorot, sarang gesing, kacang kumbon, bubur saren, semar mendem, serabi kocor, dan kipo hingga menu makanan berat yang beraneka ragam. Bahkan ada kreasi makanan unik pula yakni pecel cap jay, berupa kudapan adaptasi Cap Cay ala Jawa yang disiram bumbu pecel. Selain itu juga ada jajanan khas Ramadhan dan konon hanya ada di pasar ini yakni kicak. Panganan ini terbuat dari beras ketan yang ditumbuk halus, gula, parutan kelapa, nangka, pandan dan vanili. Bahan–bahan ini kemudian dicampur menjadi satu dan dikukus dengan kayu bakar. Semua jajanan tersebut dijual murah meriah mulai dari 1500 rupiah hingga 10.000 rupiah.
“Cari kicak, penasaran dengan rasanya. Terlebih hanya ada setahun sekali selama bulan Ramadhan. Kalo ke Pasar Kauman tanpa beli kicak itu berasa ada yang kurang,” ucap Bambang, salah seorang pengunjung asal Bantul. (Krise Lewi Talenta)


Dipublikasikan Tabloid BIAS, Edisi 1, 2017
Surga Panganan Khas Jawa : Pasar Ramadhan Kauman Surga Panganan Khas Jawa : Pasar Ramadhan Kauman Reviewed by elisa on Thursday, January 31, 2019 Rating: 5

No comments:

Sahabat

Powered by Blogger.