Manusia antara Tubuh dan Ruh: Pembacaan Tasawuf tentang Kematian dan Alam Antara
Pertanyaan tentang apa itu manusia selalu melampaui sekadar biologi. Tubuh bisa diukur, ditimbang, dan diteliti, tetapi ada sesuatu yang membuat manusia hidup, sadar, dan bermakna—sesuatu yang tidak dapat direduksi menjadi materi semata. Dalam tradisi Islam, sesuatu itu disebut ruh. Al-Qur’an menyebut ruh sebagai urusan Tuhan, sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh pengetahuan manusia.
“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh
itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit.”
(QS. Al-Isra’: 85)
Ayat ini sejak awal memberi batas: pembicaraan tentang ruh
selalu berada di wilayah kesadaran, iman, dan keterbatasan manusia.
Ruh dan Tubuh: Dua
Unsur, Dua Sifat
Dalam pandangan Islam, manusia tersusun dari jasad (tubuh
fisik) dan ruh. Tubuh berasal dari unsur materi—tanah, air, dan unsur alam
lainnya—yang memiliki sifat sementara. Ia tumbuh, menua, rusak, dan pada
akhirnya kembali ke tanah. Tubuh memiliki masa “kedaluwarsa”.
Ruh berbeda. Ia bukan energi dalam pengertian fisika, tetapi
ciptaan Tuhan yang bersifat non-materi. Al-Qur’an menggambarkan momen
penciptaan manusia sebagai peristiwa ketika Tuhan meniupkan ruh ke dalam jasad:
“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya
ruh ciptaan-Nya.”
(QS. As-Sajdah: 9)
Ruh inilah yang memberi kehidupan, kesadaran, dan tanggung
jawab moral. Namun penting dicatat: ruh bukan bagian dari Tuhan, melainkan
makhluk ciptaan-Nya.
Kematian: Perpisahan,
Bukan Kepunahan
Ketika tubuh tidak lagi mampu menopang kehidupan, terjadilah
kematian. Dalam Islam, kematian bukan akhir dari eksistensi, tetapi perpisahan
ruh dari jasad. Ruh tidak lenyap, dan tubuh tidak lagi menjadi wadahnya.
Al-Qur’an menggambarkan proses ini sebagai sesuatu yang
pasti dan tidak dapat ditunda:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Setelah kematian, ruh memasuki fase yang disebut alam
barzakh, sebuah alam perantara antara dunia dan hari kebangkitan. Di sinilah
Islam memberi batas yang tegas terhadap berbagai spekulasi tentang
“gentayangan” atau ruh yang berkeliaran bebas di dunia manusia.
Apakah Ruh Bisa
Gentayangan?
Pertanyaan tentang ruh yang gentayangan sesungguhnya bukan
sekadar soal benar atau salah secara teologis, melainkan tentang bagaimana
manusia memahami kelanjutan kesadaran setelah kematian. Di banyak tradisi
spiritual, kematian tidak dipandang sebagai peristiwa putus total, melainkan
sebagai pergeseran tingkat keberadaan. Kesadaran tidak lenyap, tetapi berpindah
dari satu modus eksistensi ke modus yang lain.
Dalam kerangka tasawuf, manusia tidak dipahami sebagai
entitas tunggal. Ia adalah susunan berlapis: tubuh yang bersifat material, nafs
dengan segala dorongan dan memorinya, serta ruh yang berasal dari tiupan Ilahi.
Ketika kematian terjadi, yang benar-benar “kembali” kepada Tuhan adalah ruh
dalam pengertian paling murninya. Namun tidak semua lapisan kesadaran
serta-merta luruh dan hening.
Para sufi dan filsuf hikmah mengenal konsep barzakh sebagai
ruang antara, bukan sekadar pembatas pasif, melainkan wilayah transisi
kesadaran. Di sinilah pengalaman, ingatan, dan kemelekatan yang belum terurai
sepenuhnya dapat mengambil bentuk yang masih “terasa”. Bukan dalam arti fisik,
melainkan dalam bentuk imaginal—realitas yang tidak sepenuhnya material, tetapi
juga belum sepenuhnya spiritual. Ibn ‘Arabi menyebut wilayah ini sebagai alam
mitsal: dunia citra, tempat makna mengambil rupa.
Dalam pembacaan ini, apa yang oleh masyarakat awam disebut
sebagai gentayangan tidak selalu menunjuk pada ruh dalam makna teologis,
melainkan pada kesadaran residual—bayangan nafs yang belum tersublimasi. Ia
bukan ruh yang bebas berkeliaran, melainkan jejak keberadaan yang belum
sepenuhnya larut dalam sumber asalnya. Sebuah keadaan liminal: tidak tinggal,
tetapi juga belum pulang.
Tasawuf tidak tergesa-gesa menghakimi pengalaman semacam ini
sebagai ilusi belaka, namun juga tidak menjadikannya doktrin. Ia dipahami
sebagai fenomena kesadaran, bukan kepastian ontologis. Karena itu, para sufi
klasik berhati-hati: apa yang dialami secara batin tidak otomatis menjadi
kebenaran universal. Ia sah sebagai pengalaman, tetapi tetap harus dibaca
dengan kerendahan hati.
Al-Qur’an sendiri menggunakan bahasa yang sangat ekonomis
ketika berbicara tentang alam setelah kematian. Ia menyebut barzakh sebagai
pemisah, tanpa merinci detail mekanismenya. Keheningan teks ini justru membuka
ruang tafsir batin, tanpa memberi legitimasi pada klaim-klaim yang terlalu
pasti tentang dunia gaib. Dalam tasawuf, keheningan ini dipahami sebagai
undangan untuk menyadari keterbatasan akal, bukan untuk mengisinya dengan
spekulasi berlebihan.
Dengan demikian, pertanyaan tentang ruh yang gentayangan
barangkali lebih tepat dibaca sebagai cermin kegelisahan manusia sendiri:
ketakutan akan kemelekatan, kecemasan tentang keterikatan yang belum selesai,
dan harapan bahwa kesadaran tidak berakhir begitu saja. Tasawuf tidak
menjawabnya dengan ya atau tidak, melainkan dengan pertanyaan balik: sejauh
mana kesadaran kita, selama hidup, telah belajar untuk melepaskan?
Dalam perspektif ini, kematian bukanlah pintu yang
menentukan segalanya, melainkan kelanjutan dari proses yang telah dimulai sejak
hidup. Ruh yang jernih bukan karena ia “diizinkan pulang”, tetapi karena ia
telah ringan sebelum kematian datang. Dan yang berat bukan karena ditahan,
melainkan karena terlalu lama menggenggam.
Kemelekatan Dunia dan
Nasib Ruh
Dalam tasawuf, kemelekatan terhadap dunia tidak dipahami
semata sebagai cinta pada harta atau kenikmatan lahiriah, melainkan sebagai ketergantungan
kesadaran pada bentuk. Dunia, dalam pengertian ini, bukan sekadar ruang fisik,
tetapi seluruh medan pengalaman yang membuat kesadaran merasa memiliki,
menguasai, atau ingin bertahan. Apa pun yang membuat diri berkata “ini milikku”
atau “aku tidak rela kehilangan ini” adalah bentuk kemelekatan.
Para sufi melihat kematian bukan sebagai peristiwa yang
menghapus kemelekatan secara otomatis. Kematian hanya memisahkan tubuh dari
kesadaran, tetapi tidak serta-merta membersihkan isi batin. Apa yang selama
hidup diolah—atau justru diabaikan—akan menentukan bagaimana kesadaran bergerak
setelah tubuh ditinggalkan. Karena itu, nasib ruh tidak dipahami sebagai
hukuman atau hadiah instan, melainkan sebagai kelanjutan logis dari kualitas
batin yang telah dibentuk sebelumnya.
Dalam kerangka filsafat tasawuf, dikenal konsep barzakh
sebagai ruang antara, sebuah wilayah transisional yang tidak sepenuhnya
material dan tidak pula sepenuhnya spiritual. Di sinilah kesadaran yang masih
bergantung pada bentuk, memori, dan hasrat dapat mengalami keterhentian. Bukan
karena ia “ditahan” oleh kekuatan eksternal, melainkan karena ia belum cukup
ringan untuk bergerak lebih jauh. Kesadaran yang berat tidak tenggelam, tetapi
juga tidak terangkat; ia berada di antara.
Ibn ‘Arabi dan para pemikir hikmah menggambarkan kondisi ini
sebagai keberadaan di alam imaginal (alam mitsal), tempat makna masih
membutuhkan rupa. Kesadaran yang masih terikat pada pengalaman duniawi akan
mengekspresikan dirinya dalam bentuk-bentuk yang selaras dengan keterikatannya.
Dalam bahasa simbolik, inilah yang kerap dipahami sebagai ruh yang “terjebak”.
Namun, yang terjebak sesungguhnya bukan ruh dalam makna Ilahinya, melainkan lapisan
kesadaran yang belum tersucikan dari kemelekatan nafsani.
Tasawuf tidak memandang keadaan ini sebagai kutukan,
melainkan sebagai proses. Alam antara bukan penjara, melainkan ruang
penyadaran. Di sana, kesadaran menghadapi bayangannya sendiri: apa yang dulu
dikejar, ditakuti, disangkal, atau dipertahankan dengan keras. Kemelekatan yang
selama hidup disembunyikan oleh aktivitas dunia kini tampil tanpa penutup.
Dalam pengertian ini, barzakh menjadi cermin batin, bukan ruang hukuman.
Yang menarik, tasawuf menegaskan bahwa kemelekatan bukan
diukur dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang tidak sanggup dilepaskan.
Seseorang bisa hidup sederhana namun terikat, atau hidup berkecukupan namun
bebas. Oleh sebab itu, pembebasan ruh bukan peristiwa pascakematian, melainkan
kerja batin yang dimulai sejak hidup. Kematian hanya mengungkap hasilnya.
Dalam perspektif ini, gagasan tentang ruh yang tertahan di
dimensi antara bukanlah klaim metafisik yang harus diperdebatkan secara
literal, melainkan metafora eksistensial tentang kualitas kesadaran. Ruh yang
jernih bukan karena ia diberi jalan khusus, melainkan karena ia telah
melepaskan beban sebelum perjalanan dimulai. Dan ruh yang berat bukan karena
dunia menahannya, tetapi karena ia sendiri enggan melepaskan apa yang telah
lama digenggam.
Dengan demikian, tasawuf menggeser fokus pertanyaan dari
“apa yang terjadi setelah mati” menjadi “bagaimana kita hidup sebelum mati”.
Nasib ruh bukan teka-teki kosmik yang menunggu jawaban, melainkan cermin dari
relasi kita dengan dunia, diri, dan Tuhan—yang pelan-pelan dibentuk setiap
hari, jauh sebelum kematian datang.
Pada akhirnya, pembicaraan tentang ruh, kematian, barzakh,
dan kemelekatan bukanlah upaya untuk menyingkap rahasia gaib secara tuntas,
melainkan ikhtiar manusia memahami dirinya sendiri. Tasawuf tidak menjanjikan
kepastian tentang apa yang sepenuhnya berada di luar jangkauan nalar, tetapi
menawarkan cara hidup yang lebih sadar terhadap apa yang sedang dijalani saat
ini. Kematian, dalam perspektif ini, bukan peristiwa yang tiba-tiba menentukan
segalanya, melainkan kelanjutan dari kualitas kesadaran yang telah lama
dibentuk.
Ruh tidak menjadi ringan atau berat karena keputusan
mendadak setelah mati, melainkan karena kebiasaan batin yang dipelihara
sepanjang hidup. Apa yang dilekatkan dengan keras akan menuntut pelepasan yang
panjang; apa yang telah dilepaskan dengan ikhlas akan bergerak dengan tenang.
Maka, tasawuf tidak mengajak manusia sibuk membayangkan nasib ruh di alam lain,
tetapi mengarahkan perhatian pada satu hal yang paling mungkin diusahakan:
menjernihkan relasi dengan dunia, dengan diri, dan dengan Tuhan, selagi waktu
masih berjalan.
Dalam kesadaran semacam itulah, pertanyaan tentang apa yang
terjadi setelah mati perlahan berubah menjadi pertanyaan yang lebih
mendasar—bagaimana kita sedang hidup, dan sejauh mana kita telah belajar untuk
tidak menggenggam apa yang pada akhirnya memang harus dilepaskan.
Reviewed by elisa
on
Thursday, January 22, 2026
Rating:

No comments: