Keutamaan dan Fadhilah Surat Al-Isra’: Peringatan Halus tentang Cara Menjadi Manusia


Surat Al-Isra’ merupakan salah satu surat dalam Al-Qur’an yang memiliki makna dan pesan spiritual yang sangat kuat. Surat ke-17 ini terdiri dari 111 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah. Nama Al-Isra’ diambil dari ayat pertama yang menceritakan peristiwa Isra’, perjalanan malam Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Peristiwa agung ini bukan sekadar kisah sejarah, melainkan fondasi spiritual yang menegaskan kekuasaan Allah dan kedudukan Rasulullah sebagai pembawa risalah.

Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama menjelaskan bahwa setiap surat Al-Qur’an memiliki keutamaan (fadhilah) tersendiri, baik dari sisi kandungan, pesan moral, maupun dampaknya bagi kehidupan seorang mukmin. Surat Al-Isra’ termasuk surat yang kaya akan nilai tauhid, akhlak, dan kesadaran tanggung jawab manusia di hadapan Allah.

Keutamaan Surat Al-Isra’ sebagai Penguat Tauhid

Salah satu keutamaan utama Surat Al-Isra’ terletak pada penegasan tauhid yang tegas. Sejak awal hingga akhir surat, Allah menanamkan kesadaran bahwa hanya Dia satu-satunya yang berhak disembah. Larangan menyekutukan Allah ditegaskan kembali dalam ayat-ayat yang membahas etika kehidupan, seolah mengingatkan bahwa semua kebaikan moral berakar dari tauhid yang lurus.

Membaca dan merenungi Surat Al-Isra’ membantu seorang mukmin menata kembali orientasi hidupnya. Ketika tauhid menjadi pusat kesadaran, manusia tidak mudah terombang-ambing oleh ambisi duniawi, kekuasaan, maupun pengakuan manusia. Inilah fadhilah batiniah Surat Al-Isra’: meneguhkan keyakinan bahwa hidup memiliki arah ilahiah yang jelas.

Cara mencapai tauhid sebagaimana yang diajarkan secara implisit dalam Surat Al-Isra’ melalui proses kesadaran yang terus dilatih. Tauhid tumbuh ketika seseorang belajar menempatkan Allah sebagai pusat keputusan hidup, bukan hanya sebagai objek ibadah ritual. Surat Al-Isra’ mengarahkan manusia untuk menimbang setiap tindakan—dalam urusan harta, relasi, ucapan, dan sikap—dengan pertanyaan: apakah ini mendekatkan atau justru menjauhkan diri dari nilai yang diridhai Allah. Ketika pertimbangan ilahiah hadir dalam keputusan-keputusan kecil sehari-hari, tauhid tidak lagi berhenti sebagai keyakinan lisan, tetapi berubah menjadi kompas hidup.

Selain itu, tauhid juga dicapai melalui keberanian melepaskan ketergantungan berlebihan pada selain Allah. Surat Al-Isra’ mengingatkan bahwa ambisi, status sosial, dan pengakuan manusia sering kali secara halus menggantikan posisi Tuhan dalam hati. Proses mentauhidkan Allah berarti melatih diri untuk tidak menggantungkan harga diri pada pujian, tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, dan tidak menjadikan materi sebagai penentu makna hidup. Dalam konteks inilah tauhid menjadi pembebasan batin: manusia tetap berusaha, tetapi tidak diperbudak oleh hasil. Ia bekerja, berikhtiar, dan berelasi, namun hatinya bersandar pada Allah semata.

Tauhid juga dipelihara melalui muhasabah yang konsisten. Surat Al-Isra’ menekankan tanggung jawab personal atas setiap amal, yang secara tidak langsung mengajarkan pentingnya evaluasi diri. Dengan membiasakan refleksi harian—mengoreksi niat, mengakui kelemahan, dan memperbaiki kesalahan—seorang mukmin menjaga kemurnian tauhidnya dari penyimpangan halus seperti riya, kesombongan, dan merasa paling benar. Dari sinilah tauhid menjadi hidup: bukan sekadar doktrin teologis, melainkan kesadaran yang terus diperbarui dalam perjalanan manusia menuju Allah.

Fadhilah Surat Al-Isra’ dalam Pembentukan Akhlak

Surat Al-Isra’ dikenal memuat rangkaian perintah dan larangan yang sering disebut sebagai “wasiat-wasiat moral Al-Qur’an”. Dalam ayat 22–39, Allah menyusun prinsip-prinsip akhlak secara runtut, mulai dari hubungan manusia dengan Allah, orang tua, sesama manusia, hingga tanggung jawab sosial.

Keutamaan membaca Surat Al-Isra’ terletak pada kemampuannya membentuk kepekaan moral. Ayat-ayatnya mengajarkan adab berbicara, larangan bersikap sombong, anjuran berlaku adil, serta peringatan agar tidak boros dan tidak kikir. Nilai-nilai ini jika dibaca secara rutin dan direnungkan akan membentuk karakter yang seimbang antara spiritualitas dan kemanusiaan. Berikut adalah beberapa fadhilah surat Al-Isra’

1.    Menumbuhkan Rasa Tenang di Tengah Tekanan Hidup

Salah satu fadhilah utama Surat Al-Isra’ adalah kemampuannya menenangkan hati yang gelisah. Ayat-ayatnya mengingatkan bahwa Allah Maha Mengetahui kondisi manusia, baik saat berada dalam kesempitan maupun kelapangan. Kesadaran bahwa hidup tidak pernah berjalan di luar pengawasan dan kehendak-Nya membuat beban batin terasa lebih ringan. Hati yang sebelumnya dipenuhi kegelisahan perlahan menemukan solusinya.

Dalam fase hidup yang penuh tekanan—baik karena masalah ekonomi, relasi, maupun kegagalan personal—membaca Surat Al-Isra’ bisa menjadi penenang pikiran dari kesibukan urusan duniawi. Surat Al-Isra’ mengajak pembacanya untuk berhenti sejenak, menurunkan ketegangan batin, dan menyadari bahwa ada kuasa yang lebih besar dari segala persoalan.

Ketenangan yang lahir dari bacaan ini bukan ketenangan semu, melainkan ketenangan yang bersumber dari kesadaran ilahiah. Hati menjadi lebih stabil karena tidak lagi sepenuhnya menggantungkan rasa aman pada keadaan, melainkan pada Allah yang mengatur keadaan itu sendiri.

2.    Setiap Ujian Yang Datang Ada Hikmahnya

Surat Al-Isra’ tidak memposisikan ujian hidup sebagai penderitaan tanpa tujuan. Ayat-ayatnya mengarahkan manusia untuk melihat kesulitan sebagai bagian dari proses kesadaran dan pembentukan diri. Fadhilah ini membuat seseorang tidak larut dalam pertanyaan “mengapa aku diuji”, tetapi beralih pada pertanyaan yang lebih solutif: “apa yang bisa dipelajari dari ujian ini”.

Ketika makna mulai ditemukan, sikap batin pun berubah. Ujian tidak lagi dipandang sebagai hukuman semata, melainkan sebagai peringatan, pelurusan arah, atau sarana pendewasaan. Surat Al-Isra’ membantu membentuk sudut pandang ini dengan cara yang halus, melalui rangkaian ayat yang menegaskan keteraturan sebab-akibat dalam kehidupan.

Kesadaran akan ini membuat hati lebih lapang dalam menerima keadaan. Seseorang tetap merasakan beratnya ujian, namun tidak lagi merasa hampa. Inilah fadhilah penting Surat Al-Isra’: menumbuhkan kekuatan yang membuat manusia mampu bertahan.

3.    Menumbuhkan Optimisme Spiritual

Kisah-kisah dalam Surat Al-Isra’, termasuk sejarah Bani Israil, menyimpan pelajaran tentang dinamika kehidupan manusia. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kisah tersebut bukan sekadar catatan sejarah, melainkan cermin bagi umat setelahnya. Kerusakan moral selalu berujung pada kesempitan, sementara ketaatan dan perbaikan diri membuka jalan pertolongan Allah.

Fadhilah dari kesadaran ini adalah lahirnya optimisme spiritual. Optimisme ini tidak bersifat naif, melainkan realistis dan berlandaskan iman. Manusia diajak percaya bahwa perubahan ke arah yang lebih baik selalu mungkin, selama ada keberanian untuk memperbaiki diri dan kembali pada nilai-nilai ilahiah.

Optimisme yang ditanamkan Surat Al-Isra’ memberi energi batin untuk bangkit. Mencegah seseorang terjebak dalam keputusasaan berkepanjangan dan menguatkan keyakinan bahwa rahmat Allah selalu lebih luas daripada kesalahan manusia.

4.    Menguatkan Daya Tahan Batin (Resiliensi Spiritual)

Membaca dan merenungi Surat Al-Isra’ secara konsisten melatih ketahanan batin seseorang dalam menghadapi realitas hidup. Ayat-ayatnya membentuk kesadaran bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan, namun selalu berada dalam koridor hikmah ilahi. Kesadaran ini membuat seseorang tidak mudah runtuh ketika menghadapi kegagalan atau kehilangan.

Resiliensi spiritual yang lahir dari Surat Al-Isra’ membantu manusia bersikap lebih dewasa dalam menyikapi masalah. Ia tidak reaktif, tidak tergesa-gesa menyalahkan keadaan, dan tidak mudah menyerah. Sebaliknya, ia belajar bertahan sambil terus memperbaiki sikap dan niat.

Ketahanan batin inilah yang menjadikan Surat Al-Isra’ relevan sepanjang zaman. Fadhilahnya tidak hanya dirasakan dalam momen ibadah, tetapi juga dalam perjuangan hidup sehari-hari.

5.    Membantu Proses Refleksi dan Penerimaan Diri

Fadhilah lain dari Surat Al-Isra’ sebagai penenteram hati adalah kemampuannya membuka ruang intropeksi diri. Surat ini mengajak manusia menilai kembali pilihan hidup, orientasi tujuan, dan sikap batin yang selama ini dijalani. Refleksi ini bukan untuk menghakimi diri, melainkan untuk menyadari posisi diri secara utuh.

Melalui refleksi tersebut, seseorang belajar menerima keterbatasannya sebagai manusia. Ia menyadari bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan, dan tidak semua kesalahan harus disesali tanpa henti. Surat Al-Isra’ menanamkan keseimbangan antara tanggung jawab dan penerimaan diri.

Ketika penerimaan diri tumbuh, hati menjadi lebih damai. Dari sinilah ketenangan sejati muncul, bukan karena masalah telah selesai, tetapi karena jiwa telah menemukan cara berdamai dengan proses hidup yang sedang dijalani.

6.    Surat Al-Isra’ sebagai Pengingat Tanggung Jawab Individu

Salah satu pesan penting dalam Surat Al-Isra’ adalah penegasan bahwa setiap manusia memikul tanggung jawab atas amalnya sendiri. Allah berfirman bahwa tidak ada satu jiwa pun yang menanggung dosa jiwa lain. Prinsip ini memberikan fadhilah kesadaran diri, yaitu kesadaran bahwa hidup bukan sekadar mengikuti arus, melainkan perjalanan moral yang akan dipertanggungjawabkan.

Bagi orang yang membacanya dengan penghayatan, Surat Al-Isra’ menjadi cermin batin. Ia mengajak pembaca untuk jujur pada diri sendiri, mengevaluasi niat, dan memperbaiki langkah sebelum terlambat. Keutamaan ini sangat relevan dalam kehidupan modern yang sering mendorong manusia untuk menyalahkan keadaan atau orang lain.

7.    Sebagai Penenteram Hati

Al-Qur’an secara umum adalah penenang hati, dan Surat Al-Isra’ memiliki peran khusus dalam hal ini. Ayat-ayatnya mengingatkan bahwa Allah Maha Mengetahui keadaan manusia, baik dalam kesempitan maupun kelapangan. Ketika seseorang berada dalam fase hidup yang penuh tekanan, membaca Surat Al-Isra’ dapat menghadirkan rasa tenang karena menyadarkan bahwa setiap ujian memiliki makna.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kisah-kisah dalam Surat Al-Isra’, termasuk kisah Bani Israil, mengandung pelajaran bahwa kerusakan moral membawa akibat, sementara kesabaran dan ketaatan membawa pertolongan. Kesadaran ini menumbuhkan optimisme spiritual dan kekuatan batin.

Surat Al-Isra’ dan Relevansinya di Zaman Modern

Keutamaan Surat Al-Isra’ semakin terasa ketika dikaitkan dengan realitas sosial masa kini. Krisis moral, ketimpangan sosial, dan kegelisahan batin manusia modern seolah telah disinggung dalam surat ini sejak berabad-abad lalu. Pesan tentang keadilan, kejujuran, dan larangan berbuat kerusakan sangat relevan dengan tantangan zaman.

Membaca Surat Al-Isra’ dengan kesadaran kontekstual akan membantu umat Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai solusi, bukan sekadar bacaan ritual. Inilah salah satu fadhilah besar Surat Al-Isra’: menghubungkan wahyu dengan realitas kehidupan.

Keutamaan dan fadhilah Surat Al-Isra’ tidak terletak pada aspek mistis semata, melainkan pada kekuatan transformasinya terhadap jiwa dan perilaku manusia. Surat ini mengajarkan tauhid yang murni, akhlak yang luhur, serta tanggung jawab pribadi yang jujur. Dengan membaca, memahami, dan mengamalkannya, seorang mukmin dapat menemukan arah hidup yang lebih lurus dan bermakna.

Surat Al-Isra’ adalah pengingat bahwa perjalanan hidup, sebagaimana perjalanan Isra’ Nabi Muhammad , selalu memiliki tujuan ilahiah. Tugas manusia adalah menjaga kesadaran itu agar tidak tersesat oleh gemerlap dunia.

 

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim.

Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.

Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an.

Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Lentera Hati.

As-Suyuthi, Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an.

 

Keutamaan dan Fadhilah Surat Al-Isra’: Peringatan Halus tentang Cara Menjadi Manusia    Keutamaan dan Fadhilah Surat Al-Isra’: Peringatan Halus tentang Cara Menjadi Manusia Reviewed by elisa on Tuesday, January 13, 2026 Rating: 5

No comments:

Sahabat

Powered by Blogger.