Apa yang Diajarkan Surat Al-Kahfi tentang Hidup di Zaman Sekarang?
Ashabul Kahfi dan
Keteguhan Iman Generasi Muda
Al-Qur’an dalam Surat Al-Kahfi mengisahkan tentang sekelompok
pemuda yang hidup di bawah kekuasaan seorang raja zalim. Pada masa itu,
masyarakat dipaksa untuk menyembah selain Allah dan meninggalkan ajaran tauhid.
Siapa pun yang menolak perintah tersebut menghadapi ancaman hukuman, bahkan
kehilangan nyawa. Dalam situasi yang penuh tekanan itu, para pemuda ini memilih
untuk mempertahankan iman mereka.
Mereka bukan orang-orang yang memiliki kekuasaan atau
pengaruh besar. Namun, mereka memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah. Di
tengah lingkungan yang menekan dan memusuhi keyakinan mereka, para pemuda ini
saling menguatkan iman dan berdoa agar Allah memberikan petunjuk serta
perlindungan. Mereka menyadari bahwa mempertahankan iman di tengah kekuasaan
yang zalim bukanlah perkara mudah.
Ketika ancaman semakin nyata, para pemuda tersebut mengambil
keputusan yang berat: meninggalkan kota dan mengasingkan diri ke sebuah gua.
Keputusan ini bukan bentuk keputusasaan, melainkan ikhtiar untuk menyelamatkan
iman mereka. Di dalam gua itulah, Allah menurunkan perlindungan-Nya dengan cara
yang tidak terduga. Para pemuda itu dibuat tertidur sangat lama, hingga ratusan
tahun berlalu tanpa mereka sadari.
Allah menjaga tubuh mereka selama tidur panjang tersebut.
Waktu terus berjalan, generasi berganti, dan kekuasaan zalim yang dahulu
menindas telah runtuh. Setelah 309 tahun (menurut perhitungan kalender), para
pemuda itu terbangun. Mereka mengira hanya tertidur sehari atau setengah hari.
Ketika salah seorang dari mereka keluar untuk membeli makanan, ia mendapati
bahwa dunia telah berubah. Masyarakat kini hidup dalam keimanan kepada Allah,
dan uang yang dibawanya menjadi saksi bahwa mereka berasal dari masa yang
sangat lampau.
Kisah para pemuda ini kemudian dikenal oleh masyarakat dan
menjadi tanda kekuasaan Allah. Setelah itu, Allah mewafatkan mereka, dan kisah
mereka diabadikan sebagai pelajaran bagi generasi setelahnya.
Kritik terhadap
Materialisme dalam Kisah Pemilik Dua Kebun
Al-Qur’an dalam Surat Al-Kahfi mengisahkan tentang dua orang
laki-laki yang hidup berdampingan, namun memiliki kondisi kehidupan yang sangat
berbeda. Salah satunya dianugerahi Allah dua kebun yang sangat subur—dipenuhi
pohon anggur, dikelilingi kebun kurma, dan di sela-selanya mengalir sungai yang
jernih. Kebun itu tidak pernah gagal panen. Hasilnya melimpah, hartanya
berlipat, dan kehidupannya tampak mapan serta sejahtera.
Pemilik dua kebun itu merasa berada di puncak keberhasilan.
Kekayaannya membuat ia yakin bahwa masa depannya aman dan tidak akan runtuh.
Dengan penuh kepercayaan diri, ia berkata kepada temannya—yang jauh lebih
sederhana hidupnya—bahwa hartanya lebih banyak, pengikutnya lebih kuat, dan
kebunnya tidak mungkin binasa. Bahkan ketika diingatkan agar mengucapkan “MasyaAllah”
sebagai bentuk pengakuan bahwa semua itu berasal dari Allah, ia menepisnya.
Dalam hatinya tumbuh keyakinan bahwa semua yang ia miliki adalah hasil kerja
keras dan kecakapannya sendiri.
Kesombongan semakin menjadi. Ia meragukan adanya hari
kebangkitan. Baginya, jika pun kehidupan akhirat itu benar, ia merasa tetap
akan memperoleh kenikmatan yang sama—atau bahkan lebih—sebagaimana yang ia
nikmati di dunia. Harta telah membentuk cara pandangnya tentang Tuhan,
kehidupan, dan masa depan.
Temannya yang beriman mencoba menasihati dengan lembut. Ia
mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari sesuatu yang hina, dan bahwa harta
bukan jaminan keselamatan. Namun nasihat itu tidak menggoyahkan keyakinan sang
pemilik kebun. Ia tetap merasa aman dalam ilusi kekuasaannya.
Hingga pada suatu saat, tanpa peringatan panjang, bencana
datang. Kebun yang dulu hijau dan subur itu hancur. Tanaman rusak, hasil panen
musnah, dan kekayaan yang selama ini dibanggakan lenyap seketika. Di hadapan
reruntuhan kebunnya, sang pemilik hanya bisa menyesal. Penyesalan itu datang
terlambat—saat ia sadar bahwa harta yang ia andalkan tidak mampu melindunginya
dari kehendak Allah.
Nabi Musa dan Khidir:
Etika Ilmu dan Kesabaran Epistemologis
Dalam Surat Al-Kahfi, Al-Qur’an mengisahkan perjalanan Nabi
Musa—seorang nabi besar yang menerima wahyu dan membawa syariat—dalam mencari
ilmu yang belum ia ketahui. Suatu ketika, Nabi Musa diberi tahu bahwa ada
seorang hamba Allah yang dianugerahi ilmu khusus, yang tidak ia miliki. Hamba
itu dikenal sebagai Khidir.
Didorong oleh semangat menuntut ilmu, Nabi Musa melakukan
perjalanan panjang dan melelahkan hingga akhirnya bertemu dengan Khidir. Sejak
awal, Khidir mengingatkan bahwa Musa tidak akan sanggup bersabar atas apa yang
akan ia lihat, karena peristiwa-peristiwa tersebut berada di luar jangkauan
pengetahuan lahiriah. Meski demikian, Nabi Musa berjanji akan bersabar dan
tidak menentang apa pun yang dilakukan Khidir sebelum mendapatkan penjelasan.
Mereka pun memulai perjalanan bersama. Dalam perjalanan itu,
Nabi Musa menyaksikan tiga peristiwa yang tampak ganjil dan mengusik nurani. Pertama,
ketika mereka menaiki sebuah perahu milik orang miskin, Khidir justru
melubanginya. Nabi Musa, yang melihat tindakan itu sebagai perbuatan zalim,
segera menegur. Kedua, Khidir membunuh seorang anak laki-laki tanpa alasan yang
tampak jelas. Musa kembali tidak dapat menahan diri dan memprotes keras.
Ketiga, mereka tiba di sebuah negeri yang penduduknya enggan
menjamu mereka. Namun di sana, Khidir justru memperbaiki dinding rumah yang
hampir roboh tanpa meminta imbalan apa pun. Bagi Musa, tindakan ini terasa
tidak masuk akal dan tidak adil. Setiap kali Nabi Musa mempertanyakan
tindakan-tindakan tersebut, Khidir mengingatkannya akan janji untuk bersabar
dan tidak bertanya sebelum waktunya. Hingga akhirnya, setelah pelanggaran yang
ketiga, Khidir menyatakan bahwa kebersamaan mereka harus berakhir. Namun
sebelum berpisah, Khidir menjelaskan makna di balik setiap peristiwa.
Perahu yang dilubangi ternyata bertujuan menyelamatkan
pemiliknya dari perampasan oleh raja zalim. Anak yang dibunuh kelak akan tumbuh
menjadi sumber kesesatan dan penderitaan bagi orang tuanya yang beriman,
sehingga Allah menggantinya dengan anak yang lebih baik. Sementara dinding yang
diperbaiki menyimpan harta anak yatim, dan perbaikan itu dilakukan agar harta
tersebut tetap aman hingga mereka dewasa.
Dari penjelasan itu, Nabi Musa memahami bahwa apa yang
tampak buruk secara kasat mata dapat mengandung kebaikan yang tersembunyi, dan
bahwa pengetahuan manusia—sekalipun seorang nabi—tetap memiliki batas.
Dzulqarnain dan Konsep
Kepemimpinan Beretika
Dalam Surat Al-Kahfi, Al-Qur’an mengisahkan sosok Dzulqarnain,
seorang pemimpin besar yang dianugerahi Allah kekuasaan luas, kemampuan
strategis, dan sarana untuk menata wilayah kekuasaannya. Ia bukan hanya seorang
penakluk, tetapi juga seorang penguasa yang memiliki kesadaran moral dalam
menjalankan kekuasaan.
Dzulqarnain melakukan perjalanan ke berbagai penjuru dunia.
Dalam perjalanannya ke arah barat, ia menjumpai suatu kaum yang hidup dalam
keterbatasan. Allah memberinya pilihan: menggunakan kekuasaannya untuk
menghukum atau memperlakukan mereka dengan baik. Dzulqarnain memilih jalan
keadilan—ia menegaskan bahwa siapa pun yang berbuat zalim akan mendapat balasan
yang setimpal, sementara mereka yang beriman dan berbuat baik akan diperlakukan
dengan penuh kebaikan.
Perjalanan kemudian berlanjut ke arah timur. Di sana,
Dzulqarnain bertemu dengan kaum yang hidup tanpa perlindungan memadai dari
panas dan kondisi alam yang keras. Alih-alih menundukkan mereka, ia membiarkan
mereka hidup sesuai kondisi dan kebutuhannya, tanpa memaksakan sistem yang
justru dapat merugikan mereka. Sikap ini menunjukkan kepekaan sosial seorang
pemimpin terhadap keragaman kondisi masyarakat yang dipimpinnya.
Puncak kisah Dzulqarnain terjadi ketika ia tiba di suatu
wilayah yang penduduknya hidup dalam ketakutan akibat ancaman Ya’juj dan Ma’juj,
kelompok perusak yang kerap menimbulkan kerusakan. Masyarakat setempat meminta
Dzulqarnain membangun penghalang untuk melindungi mereka dan bahkan menawarkan
imbalan materi. Namun Dzulqarnain menolak bayaran tersebut. Ia menegaskan bahwa
kekuasaan dan kemampuan yang ia miliki adalah amanah dari Allah, dan bahwa
tugasnya adalah melindungi masyarakat, bukan mencari keuntungan pribadi.
Dengan melibatkan partisipasi masyarakat, Dzulqarnain
membangun sebuah dinding kokoh dari besi dan tembaga, yang mampu menahan
ancaman tersebut. Setelah selesai, ia tidak menyombongkan hasil kerjanya.
Sebaliknya, ia menyatakan bahwa keberhasilan itu adalah rahmat dari Tuhan, dan
bahwa kekuatan manusia tetap memiliki batas ketika berhadapan dengan kehendak
Allah.
Fadhilah Surat Al-Kahfi sejatinya terletak pada kemampuannya
menerangi cara pandang manusia dalam menghadapi ujian zaman. Kisah Ashabul
Kahfi meneguhkan iman generasi muda, pemilik dua kebun mengingatkan bahaya
materialisme, perjalanan Nabi Musa dan Khidir menanamkan etika ilmu dan
kesabaran, sementara Dzulqarnain menghadirkan teladan kepemimpinan beretika.
Ketika surat ini dibaca dengan kesadaran dan perenungan, ia bukan hanya menjadi
cahaya di antara dua Jumat, tetapi juga kompas moral yang menuntun manusia agar
tidak tersesat oleh kekuasaan, harta, dan kesombongan intelektual. Inilah
fadhilah Surat Al-Kahfi yang paling hakiki: membentuk keimanan yang kokoh dan
kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.
Reviewed by elisa
on
Saturday, January 24, 2026
Rating:

No comments: