Jamanne Jaman Edan : Tontonan Bukan Lagi Tuntunan – Pergeseran Peran Media

Generasi semakin maju. Teknologi semakin melesat jauh ke depan. Banyak kawula muda yang duduk manis di rumah bisa menghasilkan uang. Banyak generasi muda yang eksplor bakat mereka lewat jalur digital. Tentunya masih banyak lagi serba-serbi di negeri Wakanda ini.

Teknologi memang memberikan sarana dan akses untuk meningkatkan potensi dan bakat kita. Namun, teknologi juga memiliki sisi negatif bagi yang belum memiliki mentalitas yang matang. Alih-alih meningkatkan skill, tetapi menjadikan teknologi sebagai sarana untuk mempermalukan diri, menjatuhkan harkat martabat, dan menikam sesama


saudara kita yang menjadi korban digital, dalam bentuk apapun itu.

Beberapa tahun terakhir, dunia media sosial semakin gila. Banjir informasi. Mulai dari informasi positif hingga informasi negatif. Yang saya sesalkan saat ini adalah, kenapa semakin banyak berita-berita gila, yang tidak pernah aku temukan sebelumnya.

Banyak berita yang seolah menunjukan moral dan adab semakin bobrok. Banyak contoh berita, banyak pencabulan yang dilakukan ustad kepada santri, yang seharusnya mengarahkan dan membentuk akhlak, kok malah begini.

Belum lagi yang viral belakangan ini, banyak orang yang viral lewat jalur tidak baik. misal rela mandi berjam-jam agar dapat gift dan uang, Berita ibu yang bercumbu dengan menantu, aksi pembunuhan – kok ya tega – ini membunuh manusia lo, bukan membunuh semut, membunuh kecoa atau membunuh ular.

Yang membuat saya geleng-geleng lagi adalah kondisi media saat ini. Setahu saya (kalo salah mohon dikoreksi) media itu dulu sangat disegani, dan ditakuti. Dulu media sebagai kekuatan untuk menggerakan masa. Tapi kok sekarang media semakin amburadul (meskipun tidak semua media). Apalagi sekarang ada youtube yang dikendalikan oleh masyarakat.

Dimana secara kode etik jurnalisme tidak dimiliki semua masyarakat. Maka semakin menjadilah kesemrawutan Negara Wakanda ini. Banyak media yang menampilkan tayangan yang sebenarnya kurang mengedukasi.

Pertanyaannya adalah, kenapa media tidak fokus mempublikasi hal-hal yang positif? Yap, segala sesuatu yang bersifat positif dan edukatif memang kurang seksi dan kurang menarik. Lagi-lagi kembali pada nafsu manusia.  Tidak peduli dengan semuanya, yang terpenting adalah mendapatkan uang.

Lagi-lagi semua karena uang. kemiskinan menjadi pembelaan. Padahal menurut saya pribadi itu hanya rasa kurang bersyukur dengan rezeki yang Gusti berikan. Sebenarnya jika pandai melihat nikmat, banyak sumber kebahagiaan dan rasa syukur. Tapi, karena pola pikir yang sudah terkontaminasi dengan tontonan yang tidak lagi menjadi tuntunan.

Jamannya, sudah jaman edan. Kita terlalu sibuk dengan apa yang jauh di depan kita. sementara kita lupa melihat apa yang sudah ada. Gusti sudah memberikan kecukupan, tetapi kita menolak dan menuntut lebih. Jadilah miskin dan hilang moral.

Ah, mungkin hanya saya saja yang sensi melihat hiruk pikuk dunia.  Ah, sudahlah. Suaraku pun mungkin tidak terdengar. Bagi kamu yang membaca keresahanku ini, mungkin hanya 0,00001%nya saja, dan saya pun berterima kasih sudah membaca keprihatinan saya. Semoga kualitas moral dan akhlak Indonesia semakin baik.

Kita serahkan pada Gusti.  Dialah yang berhak mengatur alam jagat semesta ini. Kita hanya cukup melebur mengikuti scenario dan menjadi saksi, yang semoga senantiasa bisa diberikan kesadaran diri untuk menemukan hikmah hidup dan menjadi orang yang bijak. (Irukawa Elisa)


Jamanne Jaman Edan : Tontonan Bukan Lagi Tuntunan – Pergeseran Peran Media Jamanne Jaman Edan : Tontonan Bukan Lagi Tuntunan – Pergeseran Peran Media Reviewed by elisa on Thursday, January 19, 2023 Rating: 5

No comments:

Sahabat

Powered by Blogger.