Zonasi tak Menyurutkan Prestasi

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan tema kerja pada tahun 2017 lalu, yakni “Pemerataan Pendidikan yang Berkualitas”. Maka, pemerintah menerapkan sistem zonasi mulai tahun ajaran ini. Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan bahwa sistem zonasi yang diterapkan bertujuan untuk pemerataan hak memperolah pendidikan bagi anak-anak usia sekolah. Meningkatkan akses  pendidikan bagi masyarakat kurang mampu juga menjadi alasan utama sistem ini.
Foto: Elisa

Siswi SMA N 1 Pundong, Anggi Narimawati mengatakan jika sistem zonasi ini memiliki kelebihan. Jarak sekolah dari rumah yang dekat akan menguntungkan baginya. “Dengan begitu, kami tidak akan ngebut ke sekolah yang jauh karena takut terlambat.” Paparnya.

Anggi memandang sistem zonasi sangat mendukung proses belajarnya. “Kita akan mudah menjangkau rumah teman untuk belajar kelompok. Tanpa takut berkendara terlalu jauh. Rata-rata teman berasal dari satu wilayah yang sama. Jadi kami akan mudah beradaptasi,”

Gadis yang tengah duduk di kelas 10 ini berargumen bahwa angka kecelakaan memang sedang naik. Mayoritas, anak sekolahlah yang menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan tersebut. Dengan diterapkannya sistem hitung jarak tempat tinggal ini, kita akan masuk ke sekolah yang memang tepat untuk kita.

Beberapa kontroversi zonasi tentang tersingkirnya para pemilik nilai tinggi dari sekolah favorit. Anggi berkomentar, “Memang banyak yang menginginkan masuk ke sekolah favorit. Terlebih bagi mereka yang memiliki prestasi lebih. Misalkan masuk dalam sekolah yang terbilang bukan sekolah favorit, bukankah kita masih memiliki banyak kesempatan meningkatkan prestasi? Hal itu tergantung bagaimana sikap yang kita ambil untuk masa depan. Begitu pula untuk mereka yang dapat masuk ke sekolah favorit. Mereka juga harus memiliki kesadaran untuk tetap rajin belajar. Bukan hanya untuk bergaya,” ujarnya mantap dan berkilat semangat.

Asal sekolah juga berpengaruh pada diterimanya kita di perguruan tinggi. Diharapkan, perguruan tinggi tidak lagi melihat darimana asal sekolah. Bagaimana dengan para siswa berprestasi yang berasal dari sekolah kurang favorit? Mereka juga harus memiliki kesempatan yang sama. Hal itu karena tidak semua siswa berprestasi berasal dari sekolah favorit. Anggi, remaja berperawakan tinggi itu sangat berharap.

Sistem zonasi diharapkan akan tetap diterapkan. Selain untuk pemerataan hak pendidikan dan mengurangi angka kecelakaan juga menjaga kesetaraan tiap sekolah. Kastanisasi sekolah diharapkan tidak ada lagi. Sekolah itu sama saja, hanya bagaimana semangat siswa dalam belajar. Anggi bercerita bahwa salah seorang temannya mengatakan, “Untuk apa kita belajar sungguh-sungguh dan mendapat nilai tinggi? Kalau pada akhirnya juga tidak diterima di sekolah yang diinginkan. Lebih baik langsung saja pindah rumah dekat dengan sekolah favorit. Dengan begitu akan mudah diterima tanpa harus memikirkan belajar dengan keras.”

“Aku tidak menyalahkan pendapatnya. Tetapi, belajar dengan rajin juga tidak akan merugikan diri kita. Justru itu akan sangat menguntungkan. Kita akan merasa puas dengan hasil kerja kita yang sudah maksimal. Kita juga tidak akan malu jika memiliki nilai yang cukup. Meskipun nantinya tetap diterima di sekolah yang bukan pilihan kita, tetapi kita masih bisa meningkatkan prestasi dan tetap rajin belajar.  Prestasi yang tinggi tidak harus berasal dari sekolah favorit,” Gadis pecinta K-Pop ini juga berharap jika teman-temannya tidak akan kecewa dengan sistem zonasi. Menerima keputusan dan tidak melupakan kewajiban sebagai seorang pelajar. “Prestasi bisa diraih asalkan kita bersungguh-sungguh.” ujarnya memberi semangat. (Indah Anggraini)

Dipublikasikan Tabloid BIAS, Edisi 1, 2018

Zonasi tak Menyurutkan Prestasi Zonasi tak Menyurutkan Prestasi Reviewed by Unknown on Wednesday, February 06, 2019 Rating: 5

No comments:

Sahabat

Powered by Blogger.