Dunia Ini Adalah Surga: Tentang Syukur, Takdir, dan Tuhan yang Mencintai Kita di Luar Nalar
Dunia ini adalah surga. Kita sering merasa bahwa dunia ini penuh penderitaan, penuh kesusahan dan hidup tidak pernah usai permasalahannya. Sayangnya, banyak dari kita yang merasa sempit dan bunek. Padahal, jika kita mau melihat ke dalam diri kita, ada banyak berlian dan emas permata yang ada di dalam diri. Dimana kita menemukan ke-awesome-an Tuhan yang mencintai kita tidak sesuai dengan ekpektasi kita.
Tentu saja, untuk bisa menemukan titik balik rasa syukur,
setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri. Sebenarnya ada banyak rasa atau
perspektif yang aku temukan saat menemukan rasa ini. Sayangnya, untuk menemukan
titik balik ini, banyak rasa yang abnormal dan tidak logis bagi pandangan umum.
Tapi pada kesempatan kali ini aku akan menuliskan yang versi umumnya orang aja
ya.
Tuhan Mencintai Kita Di luar Nalar Kita
Pernah nggak sih, kamu ngamatin diri kamu. Kamu punya tujuan
hidup atau idealisme A, B dan C. Menariknya apa yang kita harapkan, kita
impikan dan kamu idealkan justru menjadi ujian hidupmu. Tidak perlu jauh-jauh
nunjuk pengalaman hidupmu, fokus saja ke perjalanan hidupku.
Sejak smk saya tuh sudah ingin banget nikah aja (padahal
waktu itu juga nikah dan berumah tangga itu gimana juga tidak paham) tapi alam
bawah sadarku begitu aja. Tapi apa yang terjadi? Justru aku diberi rejeki
karir. Kemudian nih, aku punya bestie, yang pikirannya itu nikah belakangan aja
deh. Yang penting berkarir dulu, pokoknya karir segalanya. Kenyataannya? Dia malah
mendapatkan rejeki nikah cepet.
Melihat dari perspektif lain, jika hatiku buruk, saya iri. Tapi
alhamdulillah saya ikut senang. Alih-alih aku iri, justru moment ini yang
memberiku kesadaran tentang penemuan pemahaman ini. Dari sinilah, aku belajar
bahwa tuhan itu mencintai kita di luar nalar kita. Dimana tuhan akan memberikan
ujian di titik yang kita harapkan.
Menariknya, jika dilihat dari perspektif lain. Saat Tuhan memberikan
ujian dan masalah dititik yang kita harapkan, seringkali kita melihat Tuhan itu
jahat!, tidak adil! Dan lain sebagainya. Bahkan kita masih terus berharap,
tuhan mengubah takdiknya dengan berdoa terus menerus. Tak terasa kita sampai-sampai
memaksa tuhan. Loh loh piye to? Jadinya kan kebalik to? Kita yang mengatur Tuhan.
Seharusnya Tuhan yang mengatur kita.
Tapi awesomenya, Tuhan tidak marah dengan perilaku kita yang
demikian. Dia mungkin hanya tersenyum melihat ketidakjelasan kita. diam saat
kita merengek agar menuruti permintannya. Dari sini kita bisa tahu bahwa, Tuhan
mencintai kita. dan di sini saya belajar, Tuhan tidak menuntut kita benar,
tetapi tuhan menuntut kita untuk belajar kehidupan (Iruekkawa Elisa).
Dari perspektif lain, bisa jadi Tuhan sengaja memberikan
kita masalah, agar kita ingat kepadaNYA. Toh, kita kalo di kasih yang enak-enak,
sering lupa, berbangga diri dll. Sekalinya kita kena musibah, kita baru sadar
bahwa kita benar-benar tidak mampu menghadapi diri kita sendiri.
Bersyukur Itu Nikmat Dari
Tuhan
Dulu, aku tidak tahu bagaimana rasanya bersyukur. Yang aku
tahu hanya kata bersyukur secara teori, secara lisan, secara ucapan. Tetapi secara
rasa, aku tidak tahu bagaimana. Hingga di 1 tahun terakhir, aku baru menemukan
titik balik rasa bersyukur dari hal-hal kecil, sederhana dan sangat sepele. Termasuk
aku sangat bersyukur memiliki intuisi dan kebijaksanaan dalam hal mengambil
pelajaran hidup.
Bisa mengambil hikmah pelajaran dari masalah hidup orang lain
itu sepele, semua orang bisa. namun tidak semua orang mau dan tidak semua orang
menyadari hal sekecil itu. Dan sudah sepantasnya jika aku merasa bersykur
memiliki itu semua. Semua itu atas rahmat dan kasihNya.
Aku pun juga tidak tahu bagaimana tiba-tiba rasa bersyukur sederhana
ini muncul. Tiba-tiba aja, setiap kali ngantar pesenan turing puluhan kilometer,
kemudian aku melihat banyak orang susah di jalan. Di situlah aku merasa
bersyukur. Karena aku tidak ada niatan menjalankan usaha dari hobiku berkebun,
namun bisa mendapatkan pembeli. Aku hanya nanam sebentar, kemudian tak biarin
tanaman tumbuh besar, tanpa effort bergerak dan lelah seperti mereka. Dan ini
yang aku syukuri.
Lagi-lagi ini bukan masalah laku atau tidak. Karena masalah
laku dan tidaknya lagi-lagi juga atas ijinNYA. Dan yang ingin aku garis bawahi
di sini adalah,ketika kita membandingkan diri dengan orang lain dengan yang
lebih rendah, kita cenderung akan bersyukur. Sebaliknya, ketika kita
membandingkan diri dengan orang yang lebih tinggi, kita jadinya tidak pernah
bisa bersyukur. Dan disinilah pentingnya kita untuk fokus ke diri sendiri,
bukan fokus ke orang lain.
Lagian, ngapain fokus ke orang lain? Kadang kita dinilai
cuek dan tidak peka terhadap orang luar, karena memikirkan diri sendiri. namun,
di era saat ini, menurutku penting untuk fokus ke diri sendiri. kecuali kamu
sudah bisa mengontrol dirimu dengan bijak. Coba deh lihat, berapa orang yang
akhirnya menjadi orang lain? hanya karena terlalu fokus keluar? endingnya hati
gelisah, sepi, sedih, dan hampa. Endingnya vebrasi tubuh kita negatif terus.
Energi yang negatif inilah yang akan berpengaruh pada sudut
pandang kita. berpengaruh pada rejeki kita dll.
Mulai Tidak Mau Berdoa
Dulu, aku selalu berdoa. Apapun berdoa. Hal kecil berdoa. Memang
tidak ada yang salah dengan berdoa. Hal yang perlu digarisbawahi di sini, aku
juga SEDANG TIDAK MEMPEROLOK doa. Justru saya sangat menghormati kekuatan doa. Hanya
sebuah kritik diri sendiri saja.
Karena aku pernah menyalahgunakan doa untuk kepentinganku
sendiri. Aku berdoa setiap malam, setiap hari, setiap aku ingat. Sehari,
seminggu, sebulan hingga bertahun-tahun aku berdoa hal yang sama. Tetapi selama
bertahun-tahun pula aku tidak pernah menemukan hilal terkabul. Di sinilah aku
mulai marah kepada tuhan! Mulai memaksa Tuhan! Dan ngomel-ngomel kepada Tuhan!
Seiring berjalannya waktu. Ketika aku menemukan titik balik
dan menemukan ilmu kebijaksanaan hidup. Ternyata bukan Tuhan yang salah, tetapi
AKULAH YANG SALAH. Selama aku berdoa, aku berdoa egois. Aku berdoa untuk
nafsuku sendiri, egoku dan rencana hidupku. Aku lupa, kalo yang punya rencana
hidup itu BUKAN AKU, tetapi DIA. Tapi aku malah sok ngatur, semacam aku tuh
lebih tahu dari Tuhan.
Pelan-pelan, aku mengubah cara doaku. Aku yang sekarang,
JARANG berdoa untuk diriku sendiri. Aku yang sekarang sudah tidak lagi berambisi.
Sekedar menjalni takdir yang Tuhan berikan tanpa protes dan nyinyir. Karena aku
sadar, bahwa tubuh ini hanya sarana. Esensi hidup ini, biarkanlah ruhku
diperjalankan Tuhan untuk hal baikNya.
Tubuhku Bukanlah Aku – Aku
Bergerak Karena Energi/Ruh
Entah mulai kapan aku mendapatkan perspektif ini. Ilmu
tentang Ruh. Ruh itu adalah energi. Diamna energi itu tidak pernah mati, tidak
pernah musnah. Sementara, tubuhku/jasadku/badanku inilah yang mati. Dimana tubuhku
memiliki masa aktif. Ketika tubuhku sudah kadaluarsa, tubuhku akan mati. Dan ruhku
akan kembali ke sang sumber.
Inilah yang menjadi titik balik, yang sebenarnya banyak
pemahaman yang bertentangan dengan perspektif orang pada umumnya. Tapi meski
demikian, itulah yang membuatku tidak takut dengan hidup ini. Lebih sumeleh
menghadapi hidup ini. Dan aku percaya bahwa hidup ini hanyalah tempat belajar.
Jadi, tidak perlulah kita terlalu serius dengna hidup ini. Ingat,
setiap ruh kita memiliki pembelajarannya sendiri-sendiri. tapi karena ruh kita
masuk ke dalam tubuh, ruang gerak kita terjebak. Ruh kita mengalami BIAS
perspektif akibat lingkungan, didikan keluarga, lingkungan dan agama. Sehingga kita
memiliki idealisme masing-masing, memiliki keyakinnan masing-masing yang
terbatasi oleh tubuh yang penuh dengan ego/ambisi dlll.
Namun, jauh di dalam diri kita, ruh kita sebenarnya memiliki
esensi yang paling penting. Disinilah kita terjebak. Bahkan, kita kebingungan
dengan tujuan hidup kita. bahkan, apa yang kita anggap benar secara duniawi,
ternyata belum tentu benar di dunia energi. Karena terbatas oleh materi tubuh.
Panca indra kita menjadi paradoks masuknya sumber informasi.
Contoh mata kita. ketika kita melihat gelas berisi air putih, kemudian kita
masukan sendok di dalamnya, yang kita lihat sendok itu akan bengkok bukan? ini
adalah validasi bahwa materi tubuh kita terbatas.
Kamu tahu kan permainan komunikata? Bagi genarasi millenial pasti
tahu ilmu ini. Dari permainan ilmu komunikata itu, kita juga belajar bahwa
informasi/ilmu yang kita pelajari atau kita dengar dari satu sumber ke sumber
lain, akan terjadi pergeseran pendengaran/penangkapan ilmu. Jadi, apa yang kita
anggap benar selama ini, bisa saja salah bukan? karena melalui banyak user
selama transformasi ilmu itu dibagikan.
Dan, satu-satunya ilmu yang benar adalah ilmu hati. Karena hati
adalah jantung kebenaran. Itu sebabnya, orang-orang yang sudah makrifat, mereka
sudah mengalami. Mereka tidak berpaku pada ilmu teori duniawi, karena ilmu
duniawi ini adalah konsep.
Orang yang sudah berjalan menggunakan mata hatinya, mereka
sudah berjalan sesuai blue print ruh. Dimana tubuh dan hatinya sudah menjadi
satu kesatuan. Dalam bahasa sederhananya, dia orang yang sudah mengetahui ilmu
sadar.
Karena tiba-tiba idenya mandek. Sampai di sini dulu aja ya pembahasannya.
Semoga unek-unek ini bermanfaat. Meski dari paragraf awal sampai akhir kurang
nyambung, tapi semoga bisa menjadi stimulus puzzle yang bisa sedikit menjawab
rasa pertanyaanmu (Iruekkawa Elisa)
Reviewed by elisa
on
Monday, February 02, 2026
Rating:

No comments: