google-site-verification: google99d00c1a52e95c01.html Rahasia Tuhan - Dunia Imajinasi dan Inspirasi

Rahasia Tuhan



Saat itu usiaku masih sangat muda,
dan aku belum mengerti makna hidup bagiku.

            Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan diriku ini, seolah merasa tidak berguna, lihatlah, aku duduk termenung, tidak ada siapa-siapa disampingku, mataku menatap harapan kosong, hampa, hampa sekali hatiku ini, tidak menghiraukan sama sekali apa yang terjadi di sekitarku.
            Sesaat melihat masa laluku ketika mereka merasakan kesusahan dan kesedihan tidak sedikitpun aku peka, aku gembira, aku senang, aku berfoya-foya, aku tidak tahu siapa selain diriku yang sedang bahagia saat itu, benar-benar jahat entah setan apa yang merasuki tubuhku.
@http://bit.ly/2qwkC7U
            Lantas aku bertanya, siapakah aku? apakah aku ditakdirkan seperti ini? apakah aku bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lalu? yang ada sekarang hanya penyesalan, memang benar kata orang penyesalan itu selalu datang di akhir, dan semua harapanku tiba-tiba saja runtuh, kenangan masa lalu sirna begitu saja.
            Lagi-lagi aku bertanya pada diriku sendiri tapi tetap sama jawabannya hanyalah  penyesalan, tubuhku lunglai, nafasku mulai berhembus pelan, tidak ada daya dalam diriku ini.
            Kupejamkan mataku
            “Oh.... Tuhan aku hanyalah makhluk lemah dihadapanmu, akankah engkau mengakhiri segala penderitaanku ini, hanya engkaulah yang bisa membebaskanku dari belenggu-belenggu dosa yang telah aku perbuat, sejenak aku berdoa dalam hati, semua aku serahkan padamu... Tuhan”
            Sedikit demi sedikit aku mulai tersadar ketika angin semilir menyentuh kulitku, sontak bulukudukku merinding hingga darah mengalir begitu cepat sampai ke otak, semua syaraf dalam tubuhku seakan dibangkitkan lagi dari tidur, dan aku merasakannya.
            Aku terbangun dari halusinasi yang telah membelenggu pikiranku ini, mulailah aku membuka kedua mataku, perlahan-lahan hingga terbuka secara utuh, akankah ini jawaban dari Tuhan, aku bertanya dan lagi-lagi tidak ada jawaban untukku.
            Tapi ada sedikit harapan datang dan aku meyakininya, untuk sementara aku menebak kepastian itu, telah dibukakan pintu hatiku, kepekaan mulai terasa, kedua mataku disuguhkan pemandangan yang tidak biasa aku lihat sebelumnya, hamparan sawah nan hijau membentang luas memenuhi setiap petak lahan di tempat sekarang aku berada, dan lama-kelamaan aku mulai terbiasa, rasa sedihku perlahan mulai kulupakan untuk sesaat, berhektar-hektar tanaman padi yang masih menghijau menjulur ke atas dan berbaris rapi seakan padi itu melenggak-lenggok mengikuti arah angin yang menggerakkannya.
            Tiba-tiba bulu kudukku bergidik lebih terasa, kini angin lebih kencang seperti badai yang mengamuk
            “Wusssttt...... “, tubuhku tertiup angin, rambutku terberai dengan sendirinya, dingin dan dingin, suasananya telah berubah, aku peluk diriku sendiri agar hangat, kugosok-gosok kedua telapak tanganku dibahu, semakin lama semakin terasa, tubuhku yang lemas berubah menjadi hiperaktif, bergerak dan terus bergerak agar diriku tidak kedinginan.
            “Sssstttt..... dingin sekali,”  aku masih duduk ditempat yang sama, aku melihat ke atas, redup, sinar matahari tidak begitu terang sehingga dengan mudahnya aku membuka mata selebar-lebarnya, waktu itu sinar matahari tertutup awan, aku berharap awan itu segera pergi agar sinarnya bisa menghangatkan tubuhku yang sedang kedinginan.
            “Dasar bodoh siapa yang akan mendengar harapanku itu”
            Aku kembali melamun dan merenung, sepintas ingatanku terbawa ke masa lalu seakan-akan aku berperan di dalamnya dimana kesedihan dan kesusahan yang menimpa diriku, aku mencoba untuk merasakannya, miris, jika aku bandingkan dengan kehidupan glamor yang aku lakukan di masa itu.
            Aku mengubah posisi dudukku, kulipat kedua paha kaki hingga menyentuh dada lalu kutenggelamkan kepalaku di antara kedua paha itu, sambil kurangkul belakang kepala dengan kedua tangan hingga kepalaku benar-benar tersembunyi, disaat itulah aku merasakan kepedihan yang mendalam, sepertinya semua yang kualami saat itu hilang seketika, tubuhku yang kedinginan tidak kurasakan lagi, keadaan yang ada disekilingku pun aku juga tak tahu.
            Seolah semua pancaindra tidak kumiliki, hanya mata batinku yang sedang bergejolak, seandainya saja ada harimau di sampingku dan dia siap untuk memangsa aku pun dengan rela memberikan tubuhku pada sang harimau.
            Benar-benar sudah pasrah, introspeksi yang mendalam dan berlebihan atas segala kesalahan yang aku lakukan seakan membuat diriku tidak berdaya, dan pada akhirnya aku meneteskan air mata yang sebelumnya belum pernah aku rasakan karena tertutup kesombongan dan gaya hidup serba mewah.
            Satu, dua tetes air mata mengalir membasahi wajah, kepedihanku mendalam, nafasku tersengal hingga tersedu-sedu, tidak kuat rasanya menahan air mata ini.
            “Oh..... Tuhan hapuslah air mataku ini agar aku kuat menahan segala penderitaan,” beberapa kali aku berharap beberapa kali juga aku semakin merasakan kepedihan yang semakin mendalam, bahkan lebih menyiksa dari sebelumnya.
            “Duarr..... “ suara guntur menggelegar di antara sekumpulan awan hitam yang berada tepat di atasku, kilatan-kilatan cahaya petir menyambar-nyambar seolah memberikan suasana seram apalagi aku berada di tengah-tengah sawah yang bisa saja dengan sekali tebasan petir itu aku bisa langsung tewas, tapi tidak sedikitpun aku merasa ketakutan menghantui diriku, sudah aku katakan sebelumnya kalau pikiran dan hatiku sedang dibelenggu oleh dosa-dosa yang telah aku perbuat di masa lalu.
            Satu tetes, dua tetes air hujan turun membasahi bajuku yang sudah kusut kemudian meresap di antara kain yang aku pakai, aku tidak menghiraukannya, memang belum sampai aku rasakan hingga ke dalam tubuhku yang sedang duduk terpaku dengan pilu, menangis dan terus menangis hingga akhirnya hujanpun turun rintik-rintik, sesaat baju yang aku pakai masih bisa menahannya tapi lama-kelamaan basah juga.
            Semakin lama semakin deras air hujan mengalir dari ujung rambut sampai membasahi seluruh tubuhku, aku bisa merasakannya, tapi saat itu aku masih berada dalam bayang-bayang kepedihan, jiwa dan ragaku serasa tidak menyatu, betapapun aku takluk pada belenggu-belenggu dosa, ragaku tetap tidak bisa menolaknya, setiap peristiwa yang terjadi di alam semesta ini ragaku selalu menjadi dinding-dinding penahan dan pastinya aku bisa merasakan hal itu, masalah sesungguhnya ada di hati dan pikiranku, sungguh tak senyawa memang.
            Kini aku jadi mengerti bahwa manusia tidaklah sempurna, dan Tuhan selalu memberikan kelebihan untuk ketidaksempurnaan itu, seandainya aku bisa mengerti, aku terus mencoba dan mencoba untuk berpikir, segala sebab pasti ada akibat, aku terus memutar-mutar rahasia Tuhan dalam kepalaku hingga aku benar-benar mengerti.
            Benar juga air hujan itu membasuh wajahku tak henti-hentinya, semakin lama ragaku semakin lemah, kulitku yang kencang kini menjadi keriput, bibirku pun sudah memecah dan memutih.
            Dalam ketidakberdayaan aku seperti terbangun dari mimpi, wajahku tampak sayu dan pucat, lihatlah bibirku mulai bergetar tidak karuan, lalu kubuka mataku perlahan-lahan, agak lengket tapi lama-lama sudah terbiasa hingga terbuka secara utuh. Pandanganku agak berbeda dari sebelumnya, aku angkat kepalaku memandang jauh tidak terbatas, gelap dan kabur, pandanganku tidak jelas mungkin karena hujan yang begitu lebat.
            Hawa dingin kurasakan hingga menusuk ke dalam tulang, tidak kuat lagi, mulutku terbuka, menyeringai, dan sekilas saat itu aku mengerti apa yang aku pikirkan berbeda sekali dengan yang aku rasakan, semua tampak sekali berbeda, sangat jelas, dan sepertinya aku puas, lama-lama mataku tidak kuat untuk menahan, perlahan selaput mataku menutup, apa yang aku lihat terakhir saat itu menjadi pesan terakhir buatku dan aku simpan baik-baik dalam kepalaku hingga akhirnya aku terjatuh ke samping seperti daun yang layu.
            “Bruukk....... “ aku terkapar, posisi tubuhku tidak berubah masih sama seperti semula, tapi lihat aku sudah tidak berdaya, mataku terpejam, dan entah kemana jiwaku akan pergi, aku pasrah padamu Tuhan.
            Perjalanan waktu tidak akan pernah berhenti, detik, menit, jam, semua akan sirna seiring berjalannya waktu itu, akupun merasakan demikian hal itu terjadi padaku, mungkin Tuhan memberikan kesempatan yang kedua, sungguh beruntungnya aku, kini aku menantikan datangnya kuasamu Tuhan, hanya engkaulah yang bisa membangkitkan dari ketidakpastian ini, aku tidak bisa bergerak, tubuhku kaku, aku tidak bisa menggerakkannya, tapi seolah pikiran dan hatiku bisa melakukan apa yang ingin aku lakukan, bergerak bebas kemana saja yang aku mau, mencita-citakan segala yang aku impikan, seakan rasa itu mati, aneh, mimpi apa aku? aku tidak terbiasa dengan hal seperti ini, dimana ini? aku pun tidak tahu, yang aku rasakan hanyalah kebebasan yang tidak terbatas, tidak ada rasa sedih, tidak ada rasa senang, semuanya seperti hampa dan kosong, tapi aku sangat menikmati kebebasan itu, dan pada akhirnya.
            “Ah.... “  aku kaget, tetesan air hujan mengenai kedua mataku hingga menyentuh kedua bola mata, agak perih, tapi seakan syarafku berfungsi kembali, tidak hanya itu, jari kedua tanganku ikut bergerak meskipun perlahan, aku rasakan hawa sejuk yang berbeda dari sebelumnya, aku mendengar, aku bernafas, terasa udara masuk ke dalam jantungku memompa darah ke seluruh tubuh hingga aku terbangun, perlahan kubuka mata, pemandangan yang berbeda dari sebelumnya.
            “Dimana aku?”  aku bertanya dalam hati, kugerakkan kedua mataku ke kiri dan ke kanan, aku lihat sekeliling tempat itu, “sawah?”  pikirku, itu yang pertama kali aku lihat, dan posisiku masih tetap sama tidak ada yang bergeser sedikitpun, aku mencoba untuk berpikir mengingat kembali peristiwa yang sudah berlalu.
            “Apa yang aku lakukan di sini? Aku seperti mimpi?” kataku, dan akhirnya aku ingat, aku segera sadar.
            “Oh... Tuhan inikah kuasamu hingga aku bisa kembali”, tidak banyak yang bisa aku pikirkan, aku segera bangkit, agak sempoyongan, aku angkat badanku dengan kedua tangan memang agak sedikit lemah fisik ragaku, tapi aku berusaha untuk berdiri walaupun tidak sempurna seperti yang lalu.
            Aku berhasil menegakkan tubuhku tapi masih bersimpuh pada kedua lutut kaki yang aku lipat, aku lihat seluruh badanku, kotor sekali, bajuku yang terlihat bagus saat itu kini tidak terlihat lagi bentuk barunya bahkan lebih jelek dari baju pengemis seperti apa yang aku lihat.
            “Apakah ini jalanmu Tuhan, aku tidak mengerti apa maksudmu?” kataku.
            Air hujan masih mengguyur seluruh tubuhku, tapi...
            “Aku ingat,” aku kegirangan, disamping juga heran, segala kepedihanku hilang, sepertinya semua masalah yang aku hadapi terhapus dari dalam pikiranku, aku penasaran, ada apa ini?  ada beberapa hal yang membuatku bertanya-tanya, aku terbuai memandang lurus ke depan, melihat jauh tidak tentu arahnya, kupasrahkan semua jiwa ragaku padamu Tuhan, dan seakan diriku telah menyatu dengan sang Ilahi, aku merasakan hal itu, entah sadar atau tidak, aneh, hati dan pikiranku tiba-tiba saja berkecamuk, mulutku yang telah lama membisu ingin segera mengeluarkan kata-kata.
            “Tuhan... jawablah pertanyaanku” kataku dengan keras sambil berharap, selama beberapa menit aku menunggu tiak ada tanda-tanda apapun, sesaat keyakinanku runtuh, diriku yang lalu bersemangat kini berubah tertunduk lesu, kuhela nafasku hingga aku tahu jika apa yang aku lakukan hanyalah pepesan kosong belaka.
            “Tidak mungkin semudah itu”
            Tapi kejadian yang tidak terduga telah terjadi, entah aku sedang bermimpi ataukah aku terlalu mengkhayal dengan harapan-harapanku itu, hujan yang sebelumnya sangat deras kini mereda, dan aku melihatnya, mataku bergerak liar tidak tentu kemanapun arah tujuannya, hatiku seperti tersengat.
            “Ya Tuhan inikah jawabanmu padaku,” aku bicara lirih lalu aku lanjutkan untuk kedua kalinya tapi kali ini lebih keras.
            “Tunjukkan kuasamu Tuhan, berikanlah aku petunjukmu, aku tahu engkau adalah Maha Segalanya,” kepalaku menengadah dengan kedua tanganku mengharapkan hidayah darinya (Tuhan).

Inilah tanda-tanda kekuasaan Tuhan, entah disadari atau tidak,
setiap peristiwa alam yang terjadi selalu memberikan makna tersendiri bagi setiap umat manusia, tergantung pada kita bisa menyikapinya atau tidak

            Aku merasakan hawa dalam tubuhku yang tidak kedinginan seperti sedia kala, seperti disuntikkan semangat baru, kulihat kedua telapak tanganku memerah, aku berpikir lagi, kuhilangkan untuk sesaat rasa penasaran itu, tapi aku mencoba mencari jawabannya, lalu kugerak-gerakkan jari-jemariku terus kubolak-balikkan telapak tanganku, ada hawa panas, ternyata darah dalam diriku sudah mengalir secara teratur kemudian aku mencoba untuk untuk berdiri sekuat tenaga, tangan kiriku menapak di tanah tubuhku agak condong ke kiri, kugerakkan kaki kanan yang sebelumnya aku lipat kucoba untuk menapakkan alas kakiku untuk pertamakalinya di tanah, agak sedikit kaku dan susah digerakkan tapi aku terus mencobanya, aku jaga keseimbangan tubuhku agar tidak terjatuh, disaat yang bersamaan kugerakkan kaki kiriku, agak sedikit melonjak, dan akhirnya
            “Bisa.... “  kedua kakiku berhasil menapak sempurna, tubuhku serasa masih membungkuk untuk memastikan kekuatan pada kedua kakiku dan secara perlahan kucoba menegakkan tubuh bagian pinggang ke atas, rasanya luar biasa, sepertinya senyawa-senyawa dalam tubuhku kembali menyatu, otot-ototku mulai menari-nari dengan indah lalu aku mencoba untuk berjalan pelan tidak terburu-buru, setelah beberapa langkah ke depan kulihat genangan air di tempat itu, aku mendekatinya, aku kaget.
            “Hah... inikah wajahku” pantulan cahaya membuat wajah dan seluruh tubuhku terpampang di dalam air, dengan rasa penasaranku aku mencoba untuk meraba-raba seluruh wajahku, kilihat dan kurasakan, angin yang berhembus membuat air dalam genangan itu bergerak, sehingga membuat pandanganku tidak jelas tapi aku terus mengamatinya.
            “Wajahku yang sekarang berbeda dengan yang dulu, apakah sosok sederhana seperti ini yang berusaha engkau (Tuhan) gambarkan untukku,” kataku dalam hati, aku terus berpikir seraya menatap diriku dalam genangan air itu, dan tiba-tiba saja aku tersentak, terpintas dalam pikiranku.
            “Oh Tuhan aku mengerti mengapa engkau mengidam-idamkan sosok yang sederhana dalam diriku” kata batinku, setelah itu aku melamun antara sadar dan tidak, kutatap hamparan sawah yang masih tergenang oleh air hujan, tapi tidak disitu tujuanku, entah aku pun juga tidak tahu, tapi seolah-olah aku memikirkannya.
            “Wussstt..... “ angin semilir membisik di kedua telingaku, sontak aku risih, dan lagi-lagi mataku bergerak melihat sekeliling tempat aku berdiri, pohon-pohon dan dedaunan bergoyang, bergerak seirama mengikuti alur angin, diikuti kemudian awan hitam yang sesaat sebelumnya mengumpul di langit seolah bergerak menjauh meninggalkan tempat itu seperti memberi arti kalau segala masa suram yang telah menimpaku sedikit demi sedikit mulai menghilang, disaat awan hitam itu bergerak menjauh kini pancaran cahaya putih merasuk di antara celah-celah awan itu.
            “Indah sekali”, ribuan semut-semut kecil dan beberapa jenis serangga menampakkan dirinya, berjalan, terbang, dan menari-nari kegirangan.
            “Inilah kuasamu Tuhan, aku sangat kagum dengan segala isi alam semesta ini”, aku pun takjub, tidak henti-hentinya mataku melihat pemandangan itu, sungguh pesona alam yang sangat luar biasa, aku berpikir untuk melangkahkan kakiku, kugerakkan lebih dulu kaki kiri, melangkah dengan mantap, aku tidak merasakan hal ini sebelumnya, kedua kakiku seolah menuntun arah gerak yang akan aku lewati, kuturuni bukit-bukit kecil yang ada di sawah itu, agak becek jadi aku harus berhati-hati karena salah melangkah sedikit saja aku bisa terjatuh, kedua tanganku senantiasa menjaga keseimbangan agar kedua kakiku bisa bergerak dengan bebas mengikuti arah jalan yang kini aku lewati, dan sekarang aku berada di tengah-tengah persawahan yang sangat luas, membentang hijau padi-padi kecil tumbuh yang kembali membuatku penasaran, aku berhenti sebentar, kupandangi padi kecil itu, aku berpikir dan berusaha untuk memaknainya.
            “Padi ini tumbuh tidak percuma begitu saja, setiap hari dia dihantam dengan kerasnya berbagai peristiwa alam, ada hujan, angin, kekeringan, bahkan banjir sekalipun dan dia (padi) tetap berusaha untuk hidup, tumbuh, dan berkembang hingga memberikan manfaat bagi orang lain”
            Aku bergerak melangkah lagi, kubiarkan pandanganku untuk lepas dari padi itu, aku menyusuri jalan kecil di tengah persawahan, susah sekali sepertinya padahal aku terbiasa jalan ditempat yang sangat sempit sekalipun, tapi di sini aku harus berjalan dengan penuh kehati-hatian, dan lagi-lagi belum beberapa langkah aku berjalan, aku dibuat penasaran dengan padi yang sudah tumbuh matang, berbeda sekali dengan yang pertama aku lihat, padi ini terlihat sudah berisi, aku berhenti tepat di depannya seraya berpikir.
            “Hei... padi ini kenapa menunduk, tidak tumbuh menjulang ke atas seperti yang aku lihat pertama kali”, dan lagi-lagi aku berusaha untuk memaknainya, pikiranku melayang-layang mencari jalan keluar dari sebuah masalah yang sedang aku hadapi saat itu hanya untuk memecahkan makna kecil tapi sangat bermanfaat sekali bagi hidupku, dan setelah aku menggali dan terus menggali, kudapat jawaban makna hidup dari sebuah padi itu.
            “Padi ini jika sudah berisi pasti akan menunduk, layaknya juga manusia, ini mengajarkan agar aku harus selalu bersikap rendah hati”, aku tidak berpikir lama-lama, sepertinya diriku sudah ada yang menggerakkan, pikiranku mengatakan kalau sesungguhnya tujuan dan arahku tidak tahu harus kemana, aku terus melangkah mengikuti arah jalan yang berada tepat di depanku, kuikuti saja gerak kakiku, dan tiba-tiba.
            “Wusstt...... “ angin bertiup kencang menerpa tubuhku dari arah belakang.
            Dan aku pun hampir terjatuh dibuatnya, tapi sontak kedua kakiku bisa menahan gerak tubuhku yang saat itu sudah agak condong ke depan
            Angin itu terus bergerak kencang hingga mendorong tubuhku ke depan dan sekuat tenaga aku berusaha untuk menahannya, kedua kakiku kuusahakan agar bisa menahan posisi tubuhku agar bisa berdiri, mataku melirik, dan kulihat daun-daun kering beterbangan, pohon dan tumbuh-tumbuhan bergerak cepat mengikuti arah angin, aku berjalan cukup jauh karena dorongan angin itu, hingga aku tidak tahu dimana posisiku sekarang karena memang pikiranku hanya fokus pada gerak tubuh yang terpontang-panting diterpa angin ganas yang menyebalkan ini.
            “Ah.....” suara keras keluar dari mulutku, aku dihantam angin dan tiba-tiba aku berada di tempat yang belum pernah aku kenal, belum pernah aku lihat sebelumnya, tempat itu berantakkan, daun-daun kering berserakan dimana-mana, dan yang paling aneh ada beberapa bunga mawar merah dan putih jatuh di beberapa tempat.
            “Tempat apa ini?”  aku tertarik untuk melihat lebih dekat, kuambil satu-persatu bunga itu, pertama kali kupandang tidak terlihat indah, tidak menunjukkan keromantisannya sebagai bunga cinta yang sering kaum muda dengung-dengungkan, tidak menarik memang karena bunga itu kotor tercampur debu tanah, aku mengambil beberapa bunga itu lalu aku tiup perlahan, debu itu beterbangan seakan mengembalikan nuansa romantisme yang dimiliki bunga itu, aku tersenyum melihatnya seperti merasa puas, sampai kulakukan beberapa kali kemudian bunga-bunga itu kujadikan satu hingga membentuk sebuah karangan bunga yang sangat indah, berbeda sekali dengan yang kulihat sebelumnya, sesaat aku berpikir sesuatu yang tidak berarti apapun kini berubah menjadi berarti, aku kembali menemukan makna hidup, setiap peristiwa yang kualami selalu aku ambil hikmahnya, dan dari situlah aku mulai belajar untuk menata hidupku, karangan bunga itulah yang menjadi makna terakhir bagiku, kini aku menjalani kehidupanku yang baru, suatu perjalanan hidup yang sangat bermakna, dan pada akhirnya setelah melewati masa-masa remajaku, aku mulai membuka sebuah toko bunga di samping rumah dengan bunga rampai sebagai salah satu favorit anak muda saat itu, laris manis, hingga aku mempunyai beberapa toko cabang di kota-kota besar di Indonesia, tidak hanya itu aku menikah dengan seorang perempuan bernama Santi dan dikaruniai seorang anak bernama Rosa, sekarang aku hidup dengan penuh kebahagiaan, ada sahabat, ada saudara, dan semua sangat menyayangiku, aku merasa sangat bahagia berada di samping mereka.
            Dan pada malam harinya, disaat itu aku berdiri di atap teras rumah menatap gemerlap bintang di langit yang sangat mempesona, aku berkata.
            “Oh Tuhan aku sangat bersyukur tanpamu aku tidak bisa menjadi seperti sekarang ini,” disaat yang tidak terduga-duga tiba-tiba.
            “Ting... Tong... “  terdengar bunyi bel, aku mendengarnya sontak aku langsung turun dari atap teras, beberapa anak tangga aku lewati hingga sampai di depan pintu terus aku buka, aku melihat petugas pos membawa sebuah karangan bunga entah dari mana.
            “Pak Wahyu,” kata petugas pos itu.
            “Benar,” jawabku.
            “Ada kiriman dari Rosa.”
            “Rosa!” aku terkejut, dan tidak lama kemudian datanglah istriku.
            “Siapa yang mengirim bunga ini Pah?” kata istriku.
            “Ini dari Rosa Mah” jawabanku tidak melihat saat istriku datang, (Rosa adalah putri satu-satunya Pak Wahyu, dan sekarang dia sedang kuliah di Inggris).
            Tertulis dalam karangan bunga itu sebuah kata “NOSEGAY”, dan di dalamnya ada sebuah surat, aku membukanya, melihat isi surat bersama dengan istriku, tertulis.

            “Selamat Hari Valentine Papa dan Mamaku tercinta, semoga engkau selalu diberikan kesehatan, kasihku untukmu selamanya”

Salam
Rosa.

(Tepat pada hari itu tanggal 14 Februari)
            Aku pun merasakan kebahagiaan yang tiada kiranya, hatiku tersentak hingga air mata menetes membasahi surat yang masih aku pegang pada saat itu, bersamaan Istriku memelukku dengan penuh kasih sayang, sungguh bahagianya aku, mungkin inilah jawaban makna hidup bagi diriku yang sekarang aku peroleh.
            “Oh Tuhan terimakasih atas segala petunjukmu”
            -END-

Kontributor : Hening Nugroho, Penulis Novel NOMAD
Rahasia Tuhan Rahasia Tuhan Reviewed by Elisa ELisa on Thursday, May 18, 2017 Rating: 5

2 comments:

Sahabat

Powered by Blogger.