google-site-verification: google99d00c1a52e95c01.html Melarang Tahlil & Sholawat, Tetapi Tetap Melakukannya Tanpa Sadar - Dunia Imajinasi dan Inspirasi

Melarang Tahlil & Sholawat, Tetapi Tetap Melakukannya Tanpa Sadar



Foto : Elisa
Di dalam Islam, Apa hukumnya tahlil dan sholawat? Boleh atau tidak boleh? Ada segolongan yang mengatakan tahlil boleh, ada pula yang mengatakan tidak boleh, itu bid’ah dan lain sebagainya. Kali ini kita membahas hukum tahlil.
Membahas tahlil, untuk lebih jelasnya, kita harus tahu terlebih dahulu sejarah kemunculan NU dan Muhammadiyah (MD). NU lebih fokus pada masyarakat “ndeso”. Karena orang “Ndeso”, mereka sulit dalam menangkap informasi dan pemahaman baru. MD lebih fokus pada masyarakat “kota”. secara logika dan pemahaman jauh lebih baik selangkah dibandingkan orang-orang yang “ndeso” itu tadi.
Sebagian Muhammadiyah ada yang melakukan tahlilan dan sholawat, ada pula yang tidak melakukan tahlilan dan sholawat. Ini karena mereka memiliki dasar sendiri. Mayoritas Muhammadiyah yang melakukan tahlilan dan sholawat adalah mereka yang berada dikawasan perkampungan atau “ndeso” karena berbaur dengan orang-orang “ndeso” yang mayoritas adalah orang NU.
Penyebaran Islam Muhammadiyah dalam mengenalkan agama Islam lebih mudah. Karena mereka lebih memiliki kemampuan kognisi yang lebih maju. Berbeda dengan orang NU, penyebaran islam jauh lebih sulit. Karena di desa, masyarakat lebih kolot dan kuper (nyaris tidak tahu dunia peradaban kota) pada waktu dulu. Orang “ndeso” saat diberikan pengertian A tidak langsung paham, sebaliknya orang kota saat diberi pengertian A, mereka cepat menangkap dan paham, inilah perbedaan yang menyebabkan terjadi perbedaan antara MD dan NU. Agama yang mereka anutpun sebelumnya (Hindu dan Budha) juga masih sangat begitu kental. Mereka juga cukup keras menerima ajaran islam masuk. Karena budaya yang sudah ada pada itulah, Islam diperkenalkan dengan cara-cara yang lebih halus kepada mereka. misalnya dengan tahlilan, sholawatan, dan lain sebagainya.

Tujuannya agar masyarakat lebih paham dan mengerti dengan islam itu sendiri, lebih tepatnya memperkenalkan doa-doa dan dzikir secara tidak langsung lewat budaya yang telah ada. Generasi ke generasi, cara-cara seperti itu masih terus dilakukan sehingga menjadi sebuah budaya dan tradisi. Hal yang ingin saya sampaikan disini perihal tahlilan yang sering menjadi perdebatan. Inti dari tahlilan apa? menyebut/menyanyung nama Allah dan Rosul. Bahkan setiap sholat lima waktu didalam bacaan sholat juga ada sholawat. Secara langsung dan tidak langsung sebenarnya setiap hari kita sholat lima waktu juga bersholawat, selesai sholawat kita juga berdzikir.
Tahlil hanya salah satu cara penyampaian islam kepada mereka yang dulu pertamakali mengenal dan memperkenalkan kalimah-kalimah Tuhan kepada masyarakat “ndeso”. Seperti yang kita tahu sampai saat ini, masyarakat “ndeso” secara pengetahuan dan kognisi tidak secemerlang orang-orang kota yang lebih berpengatahuan. Tujuannya jelas baik, yaitu mengagungkan Tuhan dan Rosul. Jadi tahlil itu diperboleehkan.
Kemudian sebagian besar masyarakat kita tahu ada budaya pengajian, berjanji. Dimana dalam pengajian tersebut biasannya situan rumah memberikan sebuah suguhan makanan dengan niatan shodakoh atau beramal baik. Kemudian si pemilik meniatkan shodaqoh dan amal baik tersebut ditujukan kepada saudara yang sudah meninggal. Atau sebuah kebudayaan, ketika ada orang yang meninggal pihak keluarga melakukan tahlilan dna mengirimkan doa kepada orang yang meninggal. Hal ini nampaknya menjadi perdebatkan lagi untuk beberapa orang yang tidak percaya cara-cara seperti itu hanya sia-sia dilakukan.
Ada sebuah analogi yang dapat menjelaskan paragraf di atas. Anda percaya pada Tuhan bukan? Anda pernah berdoa untuk diri Anda dan Orang Lain bukan? Dan apakah anda juga percaya bahwa doa yang Anda panjatkan didengarkan dan dilain kesempatan juga akan dikabulkan oleh Tuhan bukan?. Jika jawaban iya, maka penjelasannya cukup analogi ini. Jika ternyata jawaban Anda adalah TIDAK PERCAYA PADA TUHAN dan Tidak pula percaya pada doa seperti itu, saya punya sebuah cerita.
Ada kisah nyata, sebut saja si X. Dia tidak mengenal Tuhan. Setiap melakukan apapun ia melakukan sendiri, tanpa bantuan dari Tuhan. X cukup mahir dan tidak pernah mengalami kesulitan yang begitu memojokkan. Sekalipun ada masalah, si X mampu menyelesaikannya. Suatu hari, ketika ia pergi disuatu tempat, ia terjatuh dan masuk ke jurang. Untungnya si X masih bisa bertahan karena tersangkut. Tak ada seorangpun yang menolong dan melihat tragedi jatuhnya si X. dari situlah, si X yang tidak mengakui Tuhan, di hati kecil yang paling dalam, saat posisinya yang diambang kematian, di dalam hati akhirnya ia berteriak meminta tolong pada Tuhan. Saat itulah, ia percaya adannya Tuhan. Ajaibnya, detik setelah pengakuan terkecil dari hatinya, muncullah pertolongan Tuhan lewat seorang petan yang tak sengaja melihat dan menolongnya. Dan masihkah tidak percaya apa yang kita minta pada Tuhan tidak pernah sampai padaNYA??? Tidakkah kau berfikir? . sekian~ (ada yang mau menambahkan, dipersilakan)
Melarang Tahlil & Sholawat, Tetapi Tetap Melakukannya Tanpa Sadar Melarang Tahlil & Sholawat, Tetapi Tetap Melakukannya Tanpa Sadar Reviewed by Elisa ELisa on Friday, June 20, 2014 Rating: 5

No comments:

Sahabat

Powered by Blogger.