Buah Awal


Duduk di dekat ibu memang sangat menghangatkan, ibuku mendekapku dengan penuh kasih sayang. Angin berhembus dengan kencang saat aku dan ibuku duduk dikursi tua depan rumahku. Tak tentu arah, aku bercerita tentang aku yang sedang dalam proses beradaptasi di rumah baruku ini. Aku yang mulai menangis saat aku mengingat kecerian yang dulu dirasakan keluarga kecil ini. Tapi sekarang aku merasa sedih. 
Foto: Ibu
“Nathan, ayo siap-siap. Udah pagi lo, katanya mau lari pagi keliling komplek rumah kita? Mana buktinya? Kamu malah masih molor”, kata ibu. “Aduh bu, besok aja deh. Aku masih ngantuk banget nih bu, soalnya kemarin aku habis ngelmbur, hehheheh... ngelembur buat komik”, jawabku. Sesudah itu ibuku tetap memaksaku untuk lari pagi, karena ibuku tahu bahwa aku memang anak yang kurang dalam hal olahraga. Aku menyadari bahwa aku lebih memilih di kamar dan asyik dengan sepaket kertas, pensil, dan penghapusku. Dengan itulah aku dapat merasakan ketenangan dihatiku dan aku bisa melampiaskan semua pikiran dan perasaan saat aku merenung dengan dinding kamarku.
            “Gimana, kamu senangkan udah bisa lari pagi sama ibu?”, ujar ibu. “Iya bu, tapi lebih senang lagi kalau kita bisa lari pagi dengan A... Maaf bu, aku tidak sengaja”, kataku. Saat itu pun ibu ku hanya bisa tersenyum, bahkan senyumnya pun memancarkan sinar yang berkilau. Ibuku mengajak ku untuk pergi ke pasar, biasalah ibuku sering membeli jajanan pasar untuk ayah dan aku. “Ibu, aku main ke rumah teman dulu ya bu. Oh iya bu, aku bawa kue lupisnya ya bu. Mau buat temanku bu”. Ibuku hanya mengangguk dan sibuk sekali dengan hp nya.
            Malam harinya, seperti biasa aku sendirian lagi di persembunyian sunyi ku.. Ayah tetap tak kunjung pulang, aku tak tahu apa yang dilakukan ayah sekarang, apakah dia sudah makan, sudah berdoa, apakah ayah sudah berbuat kebaikan. “Ahh... sudah lah lebih baik, daripada aku gelisah, aku tidur sajalah’’.
            “Than, Nathan... Ayo bangun nak, ibu sudah menyiapkan air panasnya”, teriak ibuku. “Iya bu, sebentar aku lagi beres-beres kamar dulu. 5 menit lagi aku keluar bu”. Aku merasa sedih saat aku menyadari bahwa ibuku selalu kesusahan, selalu merasa kesulitan, sedangkan aku sebagai anaknya tak bisa membantunya. Sering aku tersadar dalam mimpiku untuk membantu ibu, tapi kenapa hal itu terlalu sulit untuk aku lakukan. “Ibu, apa yang bisa aku bantu untuk meringankan pekerjaan ibu? Bu, aku ingin ibu selalu memanggil namaku, bukan karena ingin mengajakku makan atau sudah menyiapkan air panas untukku. Aku ingin ibuku memanggil saat ibu membutuhkan pertolonganku. Seperti ibu memanggilku untuk menyuruhku menyiapkan makan malam dan memasak air” jelasku. “Nathan, ibu hanya ingin kamu fokus pada pelajaranmu di sekolah. Ibu ingin kamu menjadi anak yang berprestasi. Jadi, ibu ingin kamu tidak usah terlalu memikirkan hal seperti itu”. Akhirnya dengan penjelasan ibu itu, aku langsung pamit pada ibuku untuk berangkat sekolah.
            Setelah sepulang sekolah, di perjalanan... Aku masih mengingat wajah ayah yang begitu rupawan, gagah, dan berani. Aku ingin seperti ayah yang rela berkorban bagi Indonesia. Ayahku adalah seorang tentara yang meninggal dunia saat ada pemberontakkan. Ayahku memang ayah yang kuat, seperti ibuku. Aku tidak bisa hidup dengan kondisi seperti ini. Aku tidak bisa hanya fokus pada pelajaran sekolah. Seharusnya aku juga harus memperhatikan kedua orangtua ku, walau aku sudah kehilangan ayahku tercinta. Betapa teganya aku yang selama ini hanya bisa di persembunyian sunyiku di kamarku. Mungkin aku sering sadar tentang hal ini, tapi untuk kali ini adalah kesadaran terakhirku untuk mulai mengawali hidup baruku bersama ibuku. Hanya ibuku lah satu-satunya orang yang sangat mencintaiku selamanya, begitu pun denganku.
            “Ibu aku pulang, ibu aku sayang dengan ibu. Aku tidak ingin kehilangan ibu, apakah ibu bisa terus menyayangiku?” air mataku menetes dan membuat ibuku terkejut. “Nak, kamu harus tahu satu hal. Bahwa ibu tidak akan meninggalkanmu nak. Nak, mulai sekarang ibu ingin agar kamu selalu menjadi anak yang berbakti pada orangtua, menjadi anak yang kuat dan tegar”. Sekarang dan akhir hayat hidupku, aku yang akan menggantikan ayah. Untuk benteng perkasa bagi ibu dan istana rumahku. (Chicilia Rosa Linda Keban) 

Dipublikasikan Tabloid BIAS, Edisi 1, 2018
Buah Awal Buah Awal Reviewed by Unknown on Saturday, March 30, 2019 Rating: 5

No comments:

Sahabat

Powered by Blogger.