google-site-verification: google99d00c1a52e95c01.html Zona Nyaman vs Zona Gonjang-ganjing - Dunia Imajinasi dan Inspirasi

Zona Nyaman vs Zona Gonjang-ganjing



Tik tok, waktu terus berputar. Tik tok waktu tidak bisa berputar kebelakang. Tik tok, tidak bisa mengulang waktu yang terlanjur terlontar. Tik tok, putaran jarum jam terus melesat ke depan. Bagaimana dengan diri kita? Apakah masih tetap berdiam diri di satu tempat bernama kesedihan dan kegelisahan? Atau tidak mempedulikan aral melintang, tetap melaju dan melupakan semuanya?.
Beberapa hari yang lalu, saya memiliki teman baru yang menceritakan masalahnya. Ya, sebenarnya saya dengan dia sama. sama-sama memiliki masalah sendiri. Hanya saja, bentuk masalah yang saya dan dia hadapi berbeda. Di Bluelogoon ia bercerita banyak kisah. Hingga akhirnya sayapun berfikir dan bertanya pada diri sendiri.
Lagi-lagi masih masalah hati. Yah, namannya anak mudah. Bermain hati dan mempermainkan hati sendiri itu seperti mainan yoyo. Ditarik menjauh, kemudian ditarik mendekat dengan asyik, tapi ketika jidad terbentur oleh yoyo, ya mewek dan kesakitan. Tidak ada salahnya menoleh ke belakang. Tahun pertama, ketika rasa tidak ikut campur, terasa indah, berbunga-bunga dan segala keindahan yang lainnya. Lagi-lagi “tik tok” terus berjalan, mendesak untuk mencari tahu sebuah jawaban, “Sebenarnya apa? kenapa? Bagaimana?”
Ketika terjawab sudah, mulai ada sisi kotor dari hati dan pikiranku. Ibarat seperti mendung, yang mendadak hitam dan mendadak cerah. Waktu terus bergulir, ketika mendung tiba, jangan ditanya, pasti terjadi gerimis dan hujan, baik lokal maupun beberapa lokal ikut turun hujan. Ketika cerah, indahnya hidup, tertawa bersama, senyam-senyum seperti orang gila dan betapa bersyukurnya menemukan sosoknya. Ah, jika mengingat waktu itu, betapa rindunya hati ini.
Tik tok, terus berjalan. Kita tidak boleh jalan ditempat, terus menerus di zona aman. Apapun pergerakannya, harus tetap berpindah dari satu titik lokasi. Jika terus menerus di satu titik dan terlena di zona aman, kita akan tertinggal jauh oleh waktu. Kita juga tertinggal jauh oleh teman-teman kita yang berani melangkah.
Kembali kabut tebal menyelimuti, kemudian cerah lagi. Terus seperti itu, tak terasa hampir satu tahun mendung dan cerah ceria terlewati. Hingga pada satu titik, detik ini saya kembali melihat ke belakang. Dari bulan ke bulan yang fluktuatif itu, semakin memburuk dan semakin sering mendung dan hujan. Ah, setiap kali rindu sebenarnya aku inginkan pagi yang cerah ceria dan membahagiakan. Saling berbagi, saling mengingatkan, saling memperhatikan dan saling mengungkapkan tanpa terhalang oleh perasaan “tidak enak” dan norma “kepantasan atau tidak pantas”.
Sempat berfikir, untuk kembali seperti yang dulu. Karena hidup dalam kekotoran dan prasangka sangat melelahkan.
Kembali bertanya pada diri sendiri, Seberapa lama kuat jalan ditempat dan kembali ke zona aman lagi? Ah, mungkin lain cerita jika rasa dan batasan “kepantasan” & “ketidakpantasan” itu tidak tertanam erat dalam benak. Ah, pasti jika tidak mempermasalahkan komitmen akan terus cerah ceriah. Kembali lagi, fungsi dari sebuah komitmen bukan persoalan menguntungkan pihak saya atau pihak mereka. Tetapi untuk kedua belah pihak.

Komitmen itu seperti rel kereta api agar berjalan sesuai jalurnya. Agar tidak terjadi kecelakan antar kereta api yang berlawanan dan tidak melukai dan menimbulkan kematian penumpang. Fungsi dari sebuah rel adalah meminimalisir terjadinya kematian masal, sekalipun terpaksa terjadi kecelakaan, setidaknya kecelakaan tunggal. Komitmen itu berfungsi sebagai pengingat.
Berbicara soal komitmen, maka akan berbicara tentang keputusan. Berbicara soal keputusan, keputusan kita “tidak mengambil keputusan” juga bagian dari keputusan dan komitmen. Ya, sebagai orang jawa abangan semua itu muncul karena pengaruh dari norma sosial.
Sebagai orang jawa yang patuh pada norma sosial. Tentu menjadi beban tersendiri. Memang, bisa saja tidak mengikuti aturan, namun aturan tetap berfungsi sebagai pembatas. Pembatas pantas dan tidak, pembatas terhormat atau tidak. Bahkan, dalam Islampun juga memberikan batasan-batasannya.
Ah.. tulisannya kok semakin melebar. Ngomongin apa jadi ngomongin apa. Kembali berbicara tentang cuaca yang cerah ceria? Ah saya merindukan masa-masa ceria. Sangat merindukan masa lalu. Semua runyam karena perasaan dan pikiran subjektif. Dimana dua hal itu terjadi ya karena itu tadi, karena memutuskan untuk tidak berkomitmen. Ketidak komitmenan juga bagian dari sebuah komitmen, yang menyebabkan langitnya galau mau cerah atau mau mendung. Dan saya sudah binggung mau nulis apa. Jadi, saya sekian sampai di sini ya.
“Mungkinkah bisa cerah ceria kembali? Dengan rel yang jelas? Betapa bahagianya membayangkannya. Padahal tahu, mendung gelap akan terus menyelimuti sampai tidak sadar “tik tok” waktu meninggalkanku, mengkerdilkan mental. Tidak ada salahnya berekreasi dengan fantasi. Hanya lewat fantasi dan khayalan jiwa mampu mendobrak ketidakmungkinan menjadi mungkin”, itulah pikiran yang cobaku lakukan untuk menghibur diri.
Zona Nyaman vs Zona Gonjang-ganjing Zona Nyaman vs Zona Gonjang-ganjing Reviewed by Elisa ELisa on Thursday, February 05, 2015 Rating: 5

No comments:

Sahabat

Powered by Blogger.