google-site-verification: google99d00c1a52e95c01.html Jambu Air Diserambi Rumah Masa Lalu - Dunia Imajinasi dan Inspirasi

Jambu Air Diserambi Rumah Masa Lalu



Foto : Elisa

Jambu air yangku makan mengingatku pada sosok sahabat kecilku. Suatu hari sepulang sekolah, pernah suatu ketika berlari ke halaman rumah mengambil sepeda. Terik yang panas seperti siang ini, aku dan temanku Ratna bersemangat pergi ke dusun Slarongan. Kita bermain ke rumah Indah. Dari kita bertiga, Indahlah yang paling “luwes” menari, persis menirukan gerakan lagu-lagu India. Dari ketiga itu pula, akulah yang paling lincah memanjat pohon.
Suatu siang yang terik, kami sampai di rumah Indah. Kami masuk ke gang, dan berlari girang. Aku melompat kecil sambil bernyanyi tralala dan trilili. “Hai! Aku ambilkan kantong hitam dulu!” seru indah saraya berlari meningkalkanku dan Ratna menuju dapur. Aku tidak menghirakannya. Aku segera menaiki pohon jambu air yang begitu menggoda mata. Pohonya besar, dan memiliki banyak cabang. Aku memanjat dengan gesit. Bak monyet yang kelaparan, aku segera memetik jambu air yang berwarna merah tua. Bak tupai yang cepat bergerak mengambil buah, sebelum akhirnya dilahap dengan nikmat.
Yah, rasanya sama dan persis seperti jambu yang saat ini aku makan. Mengingatkanku pada kenangan itu. Terik yang membakar semakin menambah suasana kala itu. Ketika hampir duapuluh menit bersepeda berpanas-panasan langsung menceburkan diri ke syurga jambu air yang manis, empuk dan tak ada satupun busuk di dalam jambu air. Kami tertawa bersama dan saling lempar jambu busuk dari bawah dan dari atas. Kami tertawa bersama. Kami saling memakan satu jambu yang sama. kami sering mandi bersama sepulang olahraga di rumah. Kami juga saling berbagi makanan. Bahkan, kami juga sering gila-gilaan bersama.
Satu kelas, hanya kitalah yang paling gila. Setiap istirahat kedua. Aku dan Indah – kadang beberapa teman yang lain turut bergabung – Kita menari ala india. Ala Syahrukan dan Kajol yang bergoyang ala india menye-menye. Menyulap bangku meja dan kursi diruang kelas menjadi taman bunga dan pepohonan yang redup. Indah menyelip di balik pohon dan menghirup bunga. Sebelum akhirnya kita berduet menari bersama. Membayangkan seperti bintang india terkenal. Dari sudut ruang, kami juga saling berlari dan menghulurkan tangan, sebelum tangan kita bertemu. Dan kita memutarkan tangan, sebelum akhirnya mata kita saling bertatap sambil berputar-putar. Itulah cara gila kita menghabiskan waktu istirahat.
Ah, jika mengingat waktu itu aku menjadi malu. Namun sangat indah untuk di kenang, seindah aku berteman dengan Indah. Itulah awal mula aku move on dari zona bully-bully-an. Saat itulah aku mulai merasakan bahagia dan indahnya kehidupan. Saat itulah aku merasakan menjadi seorang anak yang sesungguhnya. Seorang yang mengekpresikan khalayalannya dan membiarkan otak berekplorasi dengan bebas tanpa batasan. Secara tidak langsung, disitulah aku mulai merasakan bahagia dan mulai mendefinisikan bahagia dari sudutpandang yang lain.  

Hingga tiba waktu ketika kita lulus SD, Indah pergi ke Solo bersama Ibu dan Ayah tirinya. Ia sekolah di salah satu SMP Negeri bergengsi di Solo. Meskipun demikian, yang aku salut dari sosok dia adalah, setiap dua akhir pekan Indah menyempatkan pulang dan bermain bersama kita. SMP kita masih sering ketemu, meskipun tidak sesering saat SD. Kami menikmati siklus itu.
Pada suatu ketika, Indah meminta kita untuk saling bertukar foto. Saat itu aku menganggap itu hal yang “drama” dan tidak perlu. Karena aku masih menganggap kita akan sering bertemu. Akhirnya, aku tidak memberikan bagian fotoku untuknya, Indah tetap memberikan fotonya untukku. Waktu berlalu tak terasa, hingga suatu ketika terdengar kabar duka. Sahabat kecilku pulang lebih cepat. Ah, sesuatu yang hilang baru akan terasa setelah semuanya terjadi. Kebersamaan yang pernah terjalin mendadak menjadi sebuah kenangan yang seringkali mengingatkan saat aku dewasa seperti ini.
Seperti siang ini, ketika aku duduk diserambi rumah sambil menikmati sebuah jambu air. Membuatku tersenyum dan mengingatkan kenangan itu. Ku lihat jambu yangku gigit, terasa nikmat dan indah. Ku lihat lagi dan lagi, sebelum ku bisikkan surat Al-Fatihah untuk sahabat kecilku.
Catatan Masalalu Yang Terkenang, (11.01) 04112014

Jambu Air Diserambi Rumah Masa Lalu Jambu Air Diserambi Rumah Masa Lalu Reviewed by Elisa ELisa on Tuesday, November 04, 2014 Rating: 5

No comments:

Sahabat

Powered by Blogger.