Dinamika Transpotasi Daring di Kalangan Pelajar

Siapa yang tidak kenal gojek? Khusus masyarakat kota, pasti menjawab tahu aplikasi satu ini. Meskipun di pelosok daerah sana ada juga masyarakat yang tidak tahu, karena akses jalan dan sinyal yang tidak mendukung. Bagaimanapun juga, gojek termasuk transportasi daring yang hanya dapat diakses apabila ada sinyal dan ada kuota yang menghubungkan langsung dengan Internet.

Foto: Elisa
Lantas bagaimana menurut para pelajar Yogyakarta terkait dengan transportasi daring dikalangan pelajar? Siswa SMKN 2 Depok, Fransiscus Asisi Fajar Ade Saputra salah satu pelajar yang tidak pernah menggunakan transportasi daring dalam kesehariannya. Dirinya lebih memilih mengendarai sepeda motor sendiri setiap kali sekolah, karena jarak yang jauh dari rumah ke sekolah. Meskipun dirinya tidak pernah menggunakan transportasi daring, dirinya tidak asing dengan Gojek, karena hampir sebagian besar teman-temannya pun juga menggunakan transportasi daring satu ini.

Siswa yang berusia 17 tahun ini pun ikut unjuk suara terkait apa itu yang dimaksud dengan transportasi daring. Menurut Franciscus Asisi Fajar Ade Putra transportasi daring adalah transportasi online.  “Sebenarnya tidak hanya gojek saja, tetapi taksi yang dapat dipesan secara online juga dapat disebut dengan transportasi daring,” imbuhnya.

Melihat teman-temannya yang sering menggunakan transportasi Daring, Fajar pun membocorkan kenapa banyak temannya yang menggunakan jasa ini, karena pemesanan lebih mudah dan terjangkau. Menurutnya, dengan adannya transportasi daring lebih efektif karena memudahkan orang untuk mencari transportasi umum dimana saja dan kapan saja. Memang kehadirannya sangat inovatif, ternyata Fajar kadang juga merasa resah, karena semakin banyak pengemudi gojek di jalan, dan sering didapati para pengemudi ugal-ugalan agar bisa datang lebih cepat tanpa memikirkan sekitarnya.

Lain siswa, lain cerita. Kali ini cerita dari pelajar SMKN 1 Pengasih, Hena Asri Masnisa (16) yang merasa tertolong menggunakan transportasi daring satu ini. Dirinya sebenarnya bukan pengguna rutin gojek. Hena hanya menggunakan gojek beberapa kali saja, ketika terdesak. Misal ketika tidak ada yang menjemput atau ketika motor digunakan untuk keperluan lain.

Menurut penuturan Hena, di lingkungan sekolah SMKN 1 Pengasih, siswa yang menggunakan transportasi daring masih sedikit. Sebagian besar pelajar SMKN 1 Pengasih seperti dirinya lebih memilih menggunakan motor sendiri ketika ke sekolah. Pengalaman pertama Hena menggunakan jasa transportasi daring itu ketika dirinya mengikuti acara di sekolah, tidak ada yang menjemput. Satu-satunya yang dapat dimintai tolong adalah menggunakan transportasi daring.

“Daripada harus meminta tolong teman yang belum tentu pasti. Gojek lebih pasti, dan waktu itu saya pesan gojek malam hari, dan harganya lebih mahal,” ceritanya.
Cerita hampir sama juga pernah dialami oleh siswa dari SMKN 1 Temon, Syaifur Rohman (18) yang merasa tertolong dengan gojek. Saat itu Rohman merasa malas keluar membeli makan. Satu-satunya yang dapat dimintai tolong adalah memanfaatkan go food untuk delivery order makanan. Masalah selesai, tanpa meninggalkan masalah.

“Transportasi daring seperti fitur Gojek itu penting, karena tidak hanya saya yang mendapatkan kemudahan dan kenyamanan,” tutupnya.   (Linda, Elisa)
Dipublikasikan Tabloid BIAS, Edisi 2, 2018
Dinamika Transpotasi Daring di Kalangan Pelajar Dinamika Transpotasi Daring di Kalangan Pelajar Reviewed by aquaphonik mulyo on Saturday, February 23, 2019 Rating: 5

No comments:

Sahabat

Powered by Blogger.