google-site-verification: google99d00c1a52e95c01.html Sekolah Alam - Dunia Imajinasi dan Inspirasi

Sekolah Alam



Pagiku berlari menyusur gang kampung. Satu putaran, nampaknya cukup menarik perhatian keponakan paling kecil. Jihan, adalah keponakan paling kecil. Akhirnya ia menawarkan diri ikut berlari, tak tega hati melihat keponakan lelah berlari dengan jarak yang cukup jauh, ku putuskan untuk mengajaknya jalan-jalan ke sawah.
Usia 4-5 tahun anak memiliki kemampuan merekam pengalaman dengan sangat bagus. Di sisi lain, seorang anak tidak akan bersedia di ceramahi berjam-jam dengan metode duduk di atas meja dan bersikap tenang. Mengetahui hal inilah, kali ini kita akan belajar sambil bermain. Kali ini penulis tidak menjadi bulik yang suka rebutan makanan, tetapi juga menjadi bulik semi guru.
Memasuki parit kecil. Jihan nampaknya mulai lihat berjalan di atas tanah setapak. Perkembangan motorik dan kemampuan Jihan menyeimbangkan tubuh berkembang dengan cepat. Sekitar sebulan yang lalu, ia masih jatuh berkali-kali.
Tak jauh berjalan memasuki persawahan, di bagian kiri tertanam Jagung yang sedang berbunga. Matahari masih hangat menyapa kulit, bau tanah selepas hujan tadi malam masih tercium segar. Kaki kita basah oleh embun, sejuk dan begitu indah. Itulah yang penulis rasakan. Berkelabetan suara lebah di telinga. Sebelum kutengoh. Lebah-lebah cantik sedang berayun-ayun di bunga Jagung.

“Adik, ini namanya apa?”
“Apa?” tanya Jihan Antusias.
“Ini namanya lebah atau tawon”,
“Apa adik?”
“Lebah!”
“Horeeeee!!!” pekik penulis sambil bertepuk tangan, sebelum akhirnya memberikan hadiah berupa pelukan kepada keponakan. Keponakanpun kembali membalas pelukan, merangkulkan tangannya di leherku.
“Oke! Kita jalan lagi!” seru penulis
Berjalan diatas parit kecil. Nampak gembira dan senang tentu saja. Di sawah yang letaknya tidak jauh dari rumah, hanya 100 meter saja dari rumah bisa dijadikan kelas super besar, mewah dan memiliki banyak materi yang tak terhingga. Bahkan jika ingin fokus dipelajari, tak habis untuk dipelajari hingga tuntas hingga perguruan tinggi.
Jihan mulai belajar berbagai jenis tanaman secara langsung. Bisa dilihat, disentuh. Bukan sekedar teori yang ada di buku dan diberi buku.
“Lik.. lik.. lik.. iki lik!”, seru Jihan sambil menuding salah satu bunga agar di foto penulis. Kebetulan hobi penulis adalah memotret apapun yang dianggap menarik. Keponakan terbiasa dengan aktifitas bulik motret di rumah, sehingga setiap melihat objek yang menurut mereka menarik, mereka meminta untuk di foto. Itulah kehebatan anak-anak dalam meniru sikap dan perilaku orang-orang terdekatnya.
Kami kembali berjalan setelah berfoto-foto. Jalan-jalan pagi ini sengaja, selain otak masih fresh untuk belajar, sinar matahari pagi hari memiliki vitamin D yang baik untuk tubuh kita. Semua itu dipertimbangkan terlebih dahulu. Gelak tawa Jihan pecah ketika terjatuh di sungai dangkal. Jihan tidak menangis, justru tertawa karena terlalu girang.
“Stop dik!!” Seruku
“Lihat itu!. Itu adalah capung. Capungnya punya warna apa itu dik?” tanya penulis
“Rah”, jawabnya,yang maksudnya merah.
“Pintar!” kata bulik sambil memberi hadiah kecupan di pipi kanan, sebelum akhirnya keponakan membalas satu kecupan di pipi kiri penulis.
Berjalan lagi, keringat kami mulai menetes. Kami menikmati kebersamaan ini.
“Stop!” perintahku
“Coba lihat dibalik rumput, ada hewan unik” membungkukan badan, sambil menjulurkan telunjuk ke suatu arah hewan itu berada. Keponakan nampak antusias dan serius mencari lokasi hewan itu berada “Ini namanya hewan walang kadung. Adik pernah lihat walang kadung seperti ini?” dia geleng-geleng kepala sambil mengamati walang kadung.
“Lik.. lik.. lik. Kui??” sambil menunjuk belalang sawah
“Kalo itu juga walang namannya. Tapi beda jenis. Yang walang kadung tubuhnya kecil begini, dan walang itu (sambil nunjuk) lebih gede”
“Wuiiiiihh.. coba lihat dik, ada hewan cantik lain dik. Ini namannya kepik!”
“Lik ithi? (nunjuk walang kadung)”
“Walang kadung”
“Ithi lik?” (nunjuk kepik)
“ini kepik”
“ikut lik?” (nunjuk walang sawah)
“itu juga walang”
Dengan singkat penulis pun kembali yang bertanya “Yang kepik mana dik?” (keponakan menunjuk dengan benar). “Yang walang sawah mana? Mana?” (ponakan nunjuk benar. “Yang terakhir ini namannya apa??” tanyaku sambil nunjuk walang kadung “Lang Dung”, maksudnya walang kadung.

Itulah sekilas perjalanan pagi ini. Belajar tidak harus di dalam ruangan. Belajar tidak harus di meja formal. Belajar bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Bermain-main bukan berarti buang-buang waktu. Bermain bisa saja sambil belajar. Sedangkan belajar tidak boleh sambil bermain.
Sekolah Alam Sekolah Alam Reviewed by Elisa ELisa on Tuesday, November 11, 2014 Rating: 5

No comments:

Sahabat

Powered by Blogger.