google-site-verification: google99d00c1a52e95c01.html Sporadis - Dunia Imajinasi dan Inspirasi

Sporadis



Alika Putrinisa berlari terenggah-enggah. Anak tangga didaki. Bajunya berkelabetan karena angin. “Masih dua lantai lagi,” bisiknya sambil berlari kecil. Ia mengejar waktu, kelas sebentar lagi dimulai. Alika, itulah sapaan akrabnya. Salah satu Mahasiswa jurusan MIPA yang belum lama belajar di Universitas Gadjah Mada, sekarang ia semester dua. Dia sosok perempuan yang enerjik, ceria dan biang kerok di kampus. Pakaiannya terlihat seperti laki-laki, namun siapa yang tahu hati seseorang, hatinya tetaplah seorang perempuan.
Terlihat anak-anak memasuki kelas, Alika belum juga menampakkan batang hidungnya. Kelas telah dimulai. Semua mahasiswa menyimak pak Margono. “Alika belum datang pasti kesiangan lagi, tugasnya jangan-jangan belum dikerjakan,” bisik Rima kepada Febri. BRAK!! Spidol melayang ke arah mereka berdua “Jika mau diskusi sendiri, keluar saja dari ruangan ini!” Teriak Pak Margono menyeramkan. Mereka berdua terdiam dan kembali memperhatikan pelajaran. Sebelum akhirnya Alika masuk dengan teregopoh-gopoh ke kelas besar.
Semua mata tertuju pada gadis bergaya rambut segi pendek, dengan pakaian yang terlihat berandalan. “Kenapa kamu masuk?!” Teriak Pak Margono. “Maaf Pak, kesiangan dan tadi kehabisan bensin,” Jawabnya sekenanya. “Sana duduk, nanti hukumannya bapak tambah!”. Alika duduk tidak jauh dari kedua sahabatnya.
***
Jam pagi telah usai, seperti biasa, mereka bertiga Rima, Febri dan Alika menuju ke kantin. “Eh, nanti ada konser, dateng yuk?” ajak Rima yang gila dengan musik Jazz. “Tiket sesuai dengan dompet kita kan?” tanya Febri, ia salah satu laki-laki yang tetap memiliki percaya diri bergaul dengan sekelompok perempuan. “Okelah, aku ngikut kalian saja,” sahut Alika.
***
“Wa, ayo foto bareng dengan pemainnya,” geger Rima
“Lumayan tuh buat bukti kalo tidak hoax ketemu artis setenar mereka,” Febri menambahkan. Mereka berdua berlari bak anak kecil berebut permen. Alika yang selalu tidak peduli dengan hal remeh temeh terpaksa mengikuti mereka. Jalannya pelan dan terkesan tak berminat. Memang, sejak awal Alika tidak suka dengan musik Jazz.
“Ka! Fotoin kita dong!” teriak Rima. Febri berlari mendekati Alika yang masih tertinggal di belakang mereka, Febri menyodorkan sebuah kamera miliknya. Alika menerimanya dan mulai jeprat jepret mengambil gambar.
Berjalanlah seorang pemuda bertubuh semampai, menggunakan kacamata. Dari balik panggung berjalan mendekati Febri, tak lama kemudian menepuk pundaknya “Hai! Bro! kamu dimana saja sekarang? Kamu Febriprawiro Gunawan kan?” sapa sosok lelaki yang diketahui ternyata teman lama Febri. Putra Pratama, itulah nama panjangnya. Dia merupakan sahabat karib Febri saat masih duduk di bangku SMP dulu di Bandung.

***
Berjalan diantara pepohonan trembesi. Musim kemarau membuat dedaunan berguguran. Alika meninggalkan rumah, kali ini tidak lagi bersama kedua sahabatnya. Ia pergi sendiri ke Hotel Santika dalam rangka Launching buku kelima salah satu temannya. Sutarto itulah namanya, atau biasa disapa dengan Mas Tarto. Alika kenal sangat baik dengannya, dia sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri. Bus Transjogja telah membawanya pergi. Shalther Gedongkuning semakin jauh hingga tak terlihat.
“Jadi penjualan buku murni akan disumbangkan seluruhnya ke anak-anak yatim. Jadi buku ini proyek santunan untuk anak-anak Yatim,” Jawabnya ketika ada salah satu orang menanyakan pendapatan Royalti. Alika terpukau dengan penampilan Mas Tarto saat itu. Sosok kakak angkat yang selama ini telah menghidupinya dan mengkuliahkannya hingga Perguruan Tinggi dengan Prestasi yang tidak terlalu buruk.
Kerumunan orang mulai menghilang satu persatu. Alika masih duduk dibangku depan, Alika sengaja menunggu Mas Tarto karena ada hal urusan dengannya. Sementara di ruangan itu tidak ada satupun orang selain panitia dan salah satu pemuda mengenakan kemeja. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, mengenakan kacamata masih asyik berdialog dengan Mas Tarto. Memang tidak asing pemuda yang tengah ngobrol dengan Mas Tarto. Dia adalah Putra Pratama, tak lain dan tidak bukan sahabat Febri.
Kedekatanpun mulai terjalin diantara Alika dan Putra. Entah sejak kapan mereka saling berkomunikasi satu sama lain. Komunikasi sebatas lewat Jejaring sosial dan pesan singkat saja. Selebihnya mereka nyaris tidak pernah bertemu. Tresno Jalaran Seko kulino itulah yang terjadi diantara keduanya. Tak ada kata jadian diantara mereka secara resmi. Seiring berjalannya waktu, mereka sesekali (tidak sering) menyempatkan bertemu. Bercengkrama dan bersendau gurau. Mereka seperti burung pipit yang terbang dari dahan satu ke dahan yang lain penuh suka cita. Suaranya terdengar Indah.
Dibawah pohon Trembesi mereka duduk berdua, mendengarkan sebuah lagu kesukaan mereka. Sesekali mereka melempar pandang sarat makna. Dedaunan trembesi pun sebagai pelengkap harmoni. Angin yang sepoi-sepoi semakin memberikan apersepsi diantara mereka. Sebuah kidung terindah dalam hidup mereka. Keduanya masih cukup muda jika ingin menginjak ke pernikahan, usia Alika 21 tahun, dan Putra 25 tahun. Secara materi mereka belum cukup mapan, karena Diusianya ke-25 Putra akan diwisuda S2nya.
Cinta memang membutakan manusia. Diusia yang cukup muda, mereka memutuskan untuk menikah. Februari tahun 2012 mereka memutuskan untuk mengawali hidup baru. Berkat keberanian mereka menggambil resiko, mereka memutuskan tetap melangsungkan kehidupan mereka, sebagaimana mestinya mereka. Mereka berprinsip tidak berpacaran terlalu lama. Menikah bukan berarti penghambat mengejar karir. Mereka hidup bahagia, meskipun secara materi tidak termasuk keluarga kaya raya, tetapi keluarga yang cukup. Tidak ada suatu kekurangan yang terlalu besar. Buah cinta mereka yang kini telah berusia satu tahun menjadi pelengkap kebahagiaan mereka.
***
Pagi yang begitu cerah. Putra seperti biasa berangkat bekerja. Satu tahun terakhir ia sudah diterima oleh salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang cukup bergengsi di Yogyakarta. Ia telah menjadi seorang dosen teladan. Banyak prestasi yang ia dapatkan. Bahkan di usianya yang ke 27 ia berhasil mendapatkan gelar S3. Awan berarakan, kabut mulai berjatuhan, matahari mulai meninggi. Jalanan Yogyakartapun padat merayap di jam kantor. Takdir siapa yang tahu, di usianya yang ke-27 tahun harus pulang ke sang Pencipta tanpa permisi kepada istri dan orangtua. Tidak sempat mengucapkan maaf kepada mereka, tidak sempat membahagiakan mereka secara total. Siapalah yang tahu batas usia setiap hamba. Semua terserah sang Pencipta, pemiliki alam jagat raya.
***
Alika bekerja siang malam menghidupi keperluan buah hatinya yang masih sangat belia. Setiap pagi Alika bekerja. Sepulang bekerja ia akan merawat buah cinta kasih mereka. Putri Maulidya, itulah nama buah hati kesayangannya. Meskipun sebagai wanita karir, ia tidak ingin sedikitpun menelantarkan Putri. Sebiasa mungkin Alika memberikan kasih sayang yang cukup, memberikan materi agar pertumbuhannya tetap berjalan. Hubungan mertua dan orangtua masih sangat-sangat baik.
Pihak orangtua seringsekali merasa simpatik dengan keadaan putri dan menantunya. Saat kepergian Putra, wajahnya pucat pasi. Namun demikian, hatinya begitu tabah dan tegar. Bagi Alika mencintai itu memberi tanpa berharap diberikan imbalan. Itulah yang diajarkan oleh suaminya sebelum kepergiannya. “Ia tidak pernah memberiku kebahagiaan berupa uang, tetapi ia mengajarkan bagaimana bahagia tanpa uang. Dengan cara mensyukuri dan tidak berharap pada manusia. Cukup hanya Allah tempat bergantung,” paparnya padaku saat bersua beberapa hari lalu.
Alika sosok wanita penyabar. Awalnya dia wanita yang tomboy, setelah bertemu Putra, ia berubah menjadi wanita yang sangat anggun dan bertutur kata yang lemah lembut, seperti hatinya. Apalagi saat Putri lahir di dalam hidupnya, Alika si manja mendadak menjadi wanita yang begitu dewasa. Sebelum berpisah dengan Alika di forum Diskusi, kalimat yang paling aku ingat adalah Aku tidak bisa mewariskan harta kekayaan, tanah dan rumah kepada Putriku kelak. Aku hanya mampu mewariskan Ilmu untuknya. Dengan ilmu, putriku mampu mendapatkan kekayaan. Tetapi dengan harta kekayaan tidak bisa menjamin. Kalimat kedua yang masih aku ingat lagi adalah “Kehidupan itu terlihat sporadis, berserakan. Bahagia, sedih dan sakit itu salah satu tinta yang semakin memberikan keindahan. Meskipun sporadis, cobalah naik dari ketinggian, dan lihatlah ketidakberaturan hidupmu, dia akan tampak indah. Tetap jalani hidup yang sporadis dengan suka cita, kau akan temukan lebih banyak keindahan di sana. Semakin banyak keikhlasan dan jangan menyerah menghadapi masalah, semakin banyak kerlip di hati, semakin mengindahkan kehidupan kita ke depan. Semakin tidak mau berdamai, semakin sedikit kerlip bintang, karena lebih banyak didominasi oleh gelap gulita[1].
________________the end________________
Catatan : Tulisan ini diikutkan dalam Lomba #AkuOraPopo yang diselenggarakan oleh Diva Press

[1] http://matalensa-elisa.blogspot.com/2014/02/sporadis.html
Sporadis Sporadis Reviewed by Elisa ELisa on Sunday, March 30, 2014 Rating: 5

No comments:

Sahabat

Powered by Blogger.