google-site-verification: google99d00c1a52e95c01.html Merasionalkan Irasional terhadap Persepsi Subjektif - Dunia Imajinasi dan Inspirasi

Merasionalkan Irasional terhadap Persepsi Subjektif



Foto : Elisa

Merasionalkan irasional langkah menetralkan konflik, judul yang rasanya berat untuk di nikmati bukan?. Mari meregangkan penat aktifitas dengan bermain logika. Kategori rasional itu seperti apa?. Apakah “Kebahagiaan itu harus berupa uang” atau “Uang tidak menjamin kebahagiaan seseorang”. Dua kalimat ini mana kalimat yang rasional dan tidak rasional?
Orang yang hidup sejak kecil terkondisi ekonomi pas-passan dengan orang yang hidup sejak kecil berlimbah materi akan berbeda. Ekonomi kecil akan berfikiran bahwa orang yang tidak memiliki uang tidak akan pernah merasakan bahagia. Berbeda, bagi mereka yang hidup sejak kecil tercukupi dengan limpahan materi. Wajar jika orang yang mapan tersebut berasumsi bahwa uang bukan jaminan kebahagiaan. Bukankah kebahagiaan akan muncul karena pernah merasakan hal yang tidak membahagiakan/tidak menyenangkan? Jadi wajar jika orang yang berlimpah materi sulit merasakan kebahagiaan, karena standar tidak bahagia tidak pernah dirasakan.
Relatifitas menjadi kunci “rasa” yang berbeda-beda bagi orang lain. Analoginya susu kedelai mungkin bagi teman enak, tetapi bagi penulis susu kedelai minuman yang memualkan. Berangkat dari kata relatif berarti tidak boleh diberlakukan sama. Lagi-lagi tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Lalu bagaimana dengan sugesti yang dominan?, tepatnya lebih dianggap sebagai ancaman. Apa dampak yang ditimbulkan? Sebelum ke inti kita melihat beberapa kasus menyangkut hal ini.

Pertemuan penulis kepada teman SMP beberapa hari lalu dipernikahan. Ingat betul yang dikatakan Eni (Teman penulis tersebut) yang menyatakan bahwa bekerja sosial itu perlu dan penting, sehingga kwalitas hidup lebih bermakna. Soal uang belakang. Lewat obrolan panjang penulis menangkap memang kegiatan sosial yang dilakukannya seabrek. Bagi Eni rasional, namun bagi penulis tidak rasional karena banyak faktor yang menyebabkan penulis mengatakan hal itu. Setelah ngobrol lama ternyata dia sekarang sudah bekerja mapan. Bekerja menjadi salah satu manager di salah satu perusahaan yang cukup besar di usianya yang muda muda ini. Kembali menengok kebelakang terjadi perbedaan prinsip saat penulis melakukan perbandingan dengan teman kampus penulis yang harus membanting tulang, tak ada waktu dengan kegiatan sosial.
Manusia sehari memiliki waktu 24 jam. Mengacu aktifitas teman penulis, sejak pukul 07.00 WIB jadwal kuliah. Katakanlah jadwal kuliahnya selesai pukul 11.00 WIB. Sepulang belajar mengabdikan diri bekerja sosial kepada orang tua yang lanjut usia namun memiliki banyak beban, tiap harinya 5 jam. Di tambah bekerja sosial pengabdian masyarakat di kampung dan instansi/organisasi lain, katakana minimal seminggu 2 kali per satu organisasi, katakan total menghabiskan waktu 12 jam per satu minggu. Barulah pencarian nafkah mencukupi kebutuhan hidup sekitar  4 jam. Bekerja 4 jam kira-kira rupiah yang akan di dapatkan berapa? Padahal normal bekerja 8 jam baru mendapatkan gaji pokok UMR?. Beban biaya hidup berapa? Padahal beban biaya hidup juga tidak murah. Angaran waktu tidur yang dipergunakan hanya sedikit jam. Sepintar-pintar apapun memanajemen waktu, tak bisa dipungkiri rasa letih dan depresi ada, namun tak terlihat kasat mata.
Kerja sosialnya tidak ada yang menjadi masalah, dan kerja sosial juga satu keharusan yang mau tidak mau dilakukan oleh setiap masyarakat yang mengaku sosialis. Lalu yang menjadi permasalahan dimana? Dua kasus disinilah menunjukkan adannya kesalahan persepsi subjektif yang digeneralisirkan kepada subyek lain.
Eni beranggapan kerja sosial seperti paragraph di atas, karena secara financial sudah tercukupi. Kerja sosial baginya nilai tambah bagi kualitas hidupnya. Karena persepsinya yang telah dikuatkan, ternyata tidak berlaku untuk orang lain yang memiliki kepentingan sendiri. Ingat pelajaran psikologi yang mengatakan bahwa manusia sebagai manusia yang dinamis – Dari sinilah akan memicu perubahan sikap yang membahas tentang bias negativitas, bias optimistic (kita bahas lain kesempatan)
Persepsi subjektif inilah yang memicu semangat kerja menjadi menurun dan memicu pertentangan maupun konflik batin. Mengapa terjadi persepsi subjektif? Persepsi dapat mengakibatkan individu maupun kelompok mengalami perubahan sikap dan tingkah laku. Manusia sebagai manusia sosial tidak mungkin hidup sendiri. perubahan tingkah laku juga menyangkut tentang kognitif manusia.
Kesalahan Persepsi sering ditemui dalam kehidupan masyarakat. Pernahkah Anda berkumpul bersama teman Anda yang tengah duduk menunggu makanan pesanan diantarkan di meja? Biasanya waktu luang saat menunggu makanan itu hadir apa yang Anda lakukan? Kebanyakan orang akan mengobrol. Di tengah percakapan di meja sebelah juga sedang membicarakan topic yang menarik Anda dan teman Anda. Tidak sengaja menguping pembicaraan orang yang duduk meja sebelah bukan. Topic yang dibicarakan pun menyebut seseorang yang ternyata Anda dan teman Anda kenal. Orang sebelah menceritakan tentang kebiasaan buruknya.
Sepulang makan, di lain waktu Anda dan teman Anda bertemu orang yang dibicarakan saat di warung makan, apa yang akan dilakukan? Pasti sesuatu hal yang negative. Secara alam bawah sadar telah menjastifikasi teman yang dibicarakan hari lalu tersebut sesuai dengan perkataan orang yang belum dikenal di warung makan. Inilah yang disebut sebagai kesalahan persepsi.
Dampak kesalahan persepsi tentu akan berdampak pada perubahan sikap, dari sikap mendorong perubahan tingkah laku. Lagi-lagi alam bawah sadar, Anda mungkin akan menarik diri, menjaga jarak atau memasang wajah tidak enak dipandang. Berkaitan dengan kesalahan persepsi. Jangka panjang perubahan tingkah laku inilah yang akan menimbulkan konflik. Lambat laut persepsi subjektif ini akan me-irasionalkan rasional. Sehingga apa yang sebenarnya tidak masuk akal – akibat kesalahan mengambil informasi – kebenaran yang objektifnya masuk akal.

Daftar Pustaka
Robert a Baron & Donn Byrne. Psikologi Sosial. Erlangga : 2004
Merasionalkan Irasional terhadap Persepsi Subjektif Merasionalkan Irasional terhadap Persepsi Subjektif Reviewed by Elisa ELisa on Wednesday, March 20, 2013 Rating: 5

No comments:

Sahabat

Powered by Blogger.