Tuesday, June 28, 2022

GUNDALA

Joko Anwar baru saja memperkenalkan karya terbarunya –sebuah film mengenai pahlawan berkekuatan super bernama Gundala. Alkisah, Gundala mendapat kekuatan dari petir. Ia menjadi kuat apabila mendapat sengatan listrik dari petir, dan dapat menyalurkan energinya menjadi petir.


Tokoh Gundala sebenarnya merupakan tokoh pahlawan super lokal klasik ciptaan Harya “Hasmi” Suryaminata. Pada tahun 1970-an, Gundala menjadi hit melalui komik karya Hasmi. Cerita tentang Gundala kemudian diangkat kembali oleh Joko Anwar bersama Screenplay Productions dalam bentuk film. Kendati cerita yang disajikan dalam film cukup berbeda dengan cerita asli dalam komik, film Gundala ini adalah film aksi yang menawan dan patut ditonton. 

Sancaka (diperankan oleh Abimana Aryasatya), identitas asli Gundala, adalah seorang penjaga keamanan di pabrik percetakan surat kabar The Djakarta Times. Jakarta, dalam film tersebut, diceritakan sebagai tempat yang sangat suram dan semrawut. Orang-orang hidup sesak dengan ketiadaan aturan. Masyarakat kelas bawah tersengal-sengal untuk bertahan hidup. Sementara masyarakat kelas elit hidup dalam dunia mereka sendiri. Seluruh penjuru kota merupakan tempat terjadinya kejahatan, kekerasan, dan ketidakadilan. Dalam potret yang caruk maruk tersebut, Sancaka yang memiliki kekuatan super praktis menjadi pahlawan. Kehadirannya sebagai Gundala kemudian menjadi harapan bagi semua orang, termasuk temannya sendiri, Wulan (Tara Basro).

 

Kritik pada Isu Sosial

            Pada umumya, cerita mengenai pahlawan super memiliki rumus yang sama. Pemeran utama adalah orang baik yang naif, sementara tokoh antagonis muncul dengan keinginan untuk menguasai dunia. Begitu pula dengan film Gundala. Ketika pertama kali dapat memenangkan perkelahian, Sancaka tidak serta merta menerima kenyataan bahwa dirinya memiliki kekuatan super. Ia perlu waktu untuk menyadari bahwa bantuannya memang dibutuhkan oleh orang-orang di sekitarnya. Dari situlah, Sancaka menjalani perannya sebagai Gundala, hingga akhirnya ia bertemu dengan musuh utama, Pengkor (Bront Palarae).

            Akan tetapi, bukan Joko Anwar namanya jika tidak dapat membuat sesuatu yang biasa menjadi lebih istimewa. Dalam film Gundala, cerita diramu sedemikian rupa sehingga sarat pesan. Di samping penuturan cerita yang segar dan menghibur, film ini banyak mengangkat isu-isu yang terjadi di masyarakat. Salah satu isu yang paling kuat ditampilkan adalah isu trauma yang terjadi pada anak-anak. Sambil membangun karakter Sancaka dan Pengkor, film ini membuat penonton mengingat kembali bahwa apa yang dialami seseorang pada masa kanak-kanak akan memengaruhi perangai dan dirinya di masa yang akan datang. Selain itu, Joko juga menitipkan kritik terhadap isu sosial. Dalam film, anggota parlemen dan wakil rakyat digambarkan seperti barang yang dapat dibeli. Mereka bergerak dengan lamban, asumtif, dan cenderung berorientasi pada kepentingan pribadi. Kelompok masyarakat kelas bawah –yang diwakili pedagang pasar, pengamen, dan kumpulan preman, juga memiliki masalah mereka sendiri. Mereka terlalu sibuk dengan diri sendiri, sehingga mengabaikan orang lain yang membutuhkan pertolongan. Kondisi-kondisi ini digambarkan dengan terus terang dalam film, seolah-olah penonton diminta untuk melihat kenyataan yang terjadi pada kehidupan masyarakat saat ini.

 

Tata Kamera dan Tata Suara yang Berkesan

            Keasyikan menonton film Gundala tidak hanya datang dari ceritanya yang menarik. Membuktikan nama besarnya, Joko Anwar memberi berbagai bumbu pelengkap, sehingga film ini dapat menjadi santapan yang nikmat. Sepanjang film, Joko konsisten menghadirkan gambar-gambar yang memikat. Setiap gambar memiliki warna dengan tone tertentu untuk mempertegas suasana, didukung set latar yang detail dan sungguh-sungguh. Penatnya kehidupan masyarakat kelas bawah digambarkan dengan tone yang suram, serta suasana yang sesak, padat, penuh debu dan polusi. Di sisi lain, tone hangat, lampu-lampu kekuningan, serta latar yang klasik hadir untuk menggambarkan kehidupan masyarakat kelas atas yang elit dan mahal. Tidak sampai di situ, film Gundala juga dipenuhi tata kamera dan scoring yang ciamik. Setiap adegan dalam film Gundala diambil dari sudut pandang kamera yang sinematik, kemudian dilengkapi dengan efek suara yang mendukung. Misalnya, untuk memunculkan perasaan panik dan memicu adrenalin, adegan berkelahi diambil dengan tata kamera yang bergoyang dan diberi efek suara yang ribut.  Dengan demikian, setiap momen dan scene dalam film dapat tampil maksimal dan berkesan. (Billa)

Tuesday, June 21, 2022

Kami (Bukan) Sarjana Kertas : "Prestasi Tidak Selalu Identik Dengan Ijazah"

 Judul : Kami (Bukan) Sarjana Kertas

Penulis : J. S. Khairen

Penerbit : Bukune 

Jumlah Halaman : 372 halaman

Tanggal Terbit : Februari 2019



Di kampus UDEL, terjebaklah tujuh mahasiswa yang hidup segan, kuliah tak mau. Mereka terpaksa kuliah di kampus pinggiran yang kalau dicari via google aja nggak akan ketemu. Alasan ke tujuh mahasiswa ini masuk UDEL bermacam-macam. Ada yang otaknya tak mampu masuk negeri, ada yang orangtuanya tak cukup masuk swasta unggul, ada pula yang karena biaya kuliahnya saja. 

Lucunya, hari pertama kuliah, Ibu Lira Estrini, dosen konseling yang masih muda sempat menggemparkan kelas dengan sebuah kejadi gila dan tak masuk akal. Terutama untuk Ogi, Randi, dan Arko. Namun cerita tidak berhenti di ketiga mahasiswa itu. Gala yang merupakan anak konglomerat pun juga punya cerita sendiri. Hingga Sania dan Juwisa yang punya kisah perjuangan masing-masing. 

Membaca buku ini kita diajak untuk menjelajahi tentang impian, persahabatan, perjuangan, usaha, kegagalan, keberhasilan, peluang, solidaritas, keputusasaan, proses, bisnis, dan masih banyak lagi. Isinya dikemas ringan namun memuat kritik praktik pendidikan di Indonesia yang dikemas secara gurih dan menarik.

Secara garis besar buku ini wajib dibaca pelajar SMA, mahasiswa, para orangtua, karyawan, petinggi perusahaan, para pengambil kebijakan di institusi pendidikan, anak start-up, anak muda berkarya, pengemudi ojek online, abang ondel-ondel, hingga Presiden Korea Utara agar kita dapat memutuskan seberapa penting sebenarnya nilai sebuah ijazah.

Penulis, J.S Khairen, menceritakan masing-masing tokoh dengan cukup proporsional, sehingga asik untuk dibaca. Setiap Karakter di buku ini sukses membuat para pembaca pasti sulit meletakkan buku ini di Rak buku. Berbeda dengan novel romance yg tokoh utama cuma sepasang dg satu klimaks dan selesai. Selain itu, dalam buku ini didukung pula cerita tentang perdosenan dan perkampusan yg cukup menarik. Banyak nilai yg bisa diambil dari sini. Bahwa kita tidak pernah tau jalan apa yang akan ada di depan kita, perlunya menghidupkan mimpi agar tak hanya menjadi bunga tidur. Perlunya memaksimalkan peran kita, dimanapun dan apapun. Ketika kita menjadi orang tua, bagaimana kita harus mendampingi anak-anak kita mengarungi hidupnya.

Maka tak heran, buku ini cocok dibaca oleh semua generasi. Bahkan untuk reviewnya saja di salah satu situs terkemuka, Kami Bukan Sarjana Kertas mendapatkan predikat best seller national. Hal ini sepadan dengan isi dan respon dari masyarakat yang memang suka dengan buku pertama dari J. S. Khairen. Jadi tunggu apalagi, yuk baca Kami Bukan Sarjana Kertas sekarang! (Novia Intan)

Dipublikasikan Tabloid BIAS, Edisi 2, 2019


Tuesday, June 14, 2022

Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini : Mengajak Pembaca Untuk Sambat Sebentar

 Format : Full Colour, Hardcover

Jumlah Halaman : 164 halaman

ISBN : 978-602-1318-91-1

Penulis : Mas Aik

Tahun Terbit : Maret 2019

Tahun 2019 generasi muda seolah sedang tren buku berilustrasi dengan sedikit tulisan. Dari akhir 2018 hingga pertengahan 2019 sudah sekitar tiga buku dengan genre sama rilis. Setelah mendulang sukses pada buku "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini" karya Marchella FP yang sempat hits melalui media sosial instagram karena quotes motivasinya, kini hadir pula saingannya dengan isi yang berkebalikan. Judulnya "Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini". 

Jika membaca sekilas dari judulnya tampak sama namun jelas berbeda dari konten yang disajikan. Ibaratnya pembaca disuguhi oleh dua sisi magnet, buku "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini" merupakan kutub positif, sementara buku "Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini" kebalikannya. Isinya lebih jenaka dan mengandung unsur keluhan sehari-hari sebagai manusia.

Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini (NKSTHI) merupakan salah satu terbitan dari Buku Mojok yang ditulis oleh Mas Aik. Dirilis pada awal tahun 2019 buku ini cukup mencuri perhatian karena isinya yang berkembalikan dengan sahabatnya "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini". Meski begitu, konsep konten yang disajikan dalam buku ini cukup menarik. Mas Aik sebagai penulisnya pun memang mengakui jika ia terispirasi dari buku NKCTHI karya Marcella. Jika kita biasa melihat buku atau novel dengan tulisan yang padat, pada buku NKSTHI pembaca lebih disuguhkan dengan tulisan bergambar dengan font yang enak dibaca. Apalagi dengan cover hardcover dengan warna hijau tosca yang cukup menarik untuk segera ingin dibaca. 

Soal isi buku, memang NKSTHI bukan merupakan buku cerita bersambung layaknya novel.  Pada awal halaman buku, NKSTHI memang langsung memberikan sebuah kutipan tentang sambat (bahasa jawa) yang berarti keluhan. Kutipan keluhan tersebut dikolaborasi dengan ilustrasi yang sesuai dengan kalimatnya. Ilustrasi yang menarik dan berwarna bersatu padu dengan kumpulan kutipan kata-kata yang tidak terlalu bijak, jujur, dan apa adanya. Kontennya seolah menyuarakan hati insan-insan di dunia yang sehari-harinya berusaha bersikap manis, tegar, bijak, dan penuh syukur, namun jauh di lubuk hati terdalam sering juga ingin mengeluh. Tidak mengherankan, karena 'sambat' (bahasa Jawa) memang berarti mengeluh. 

NKSTHI dibagi ke dalam empat bagian utama, yaitu Sela-Sela Kelas, Sela-Sela Kerja, Sela-Sela Hati, dan Sela-Sela Hidup. Tidak ada tokoh atau jalan cerita tertentu, hanya potongan keluhan dari realita hidup yang kita hadapi sehari-hari. Hampir setiap halaman membuat tersenyum, tertawa, bahkan gumaman, "Iya banget!"

Tentu ada proses kreativitas di dalam pembuatan NKSTHI. Di saat gempita media sosial seolah ingin memperlihatkan hal-hal yang baik terus, NKTSHI justru menampilkan sisi lain dari kegetiran hidup yang kita hadapi. Kemudian pembaca diajak untuk berhenti sejenak dan menertawakan kegetiran itu. Apalagi bahasa yang digunakan sangat ringan. Kalimat disusun dengan kata-kata ringkas, namun 'ngena' sehingga pembaca tak akan menemukan kesulitan berarti dalam mencerna kalimatnya. Tapi sayangnya buku ini sama sekali tak menawarkan solusi, meski begitu cukuplah bagi pembaca sebagai sarana hiburan. 

Nanti Kita Sambat tentang Hari Ini cocok dibaca semua kalangan. Ini berisi keluhan manusia yang dikemas dalam bentuk tulisan, gambar, warna, serta tata letak yang cukup baik memudahkan pembaca dalam menikmati buku ini. Karena kombinasi antara tulisan dan ilustrasi, meski berjumlah 160 halaman, NKSTHI isinya kurang banyak dan kurang dalam. Bagi pembaca yang tidak begitu meresapi maknanya, bisa jadi dalam waktu 5 menit saja sudah bisa menyelesaikan membaca buku ini. 

"Jika ada bagian-bagian dari hidup yang pantas untuk disyukuri, bukankah ada juga bagian-bagian dari hidup yang patut untuk disambati?"

"Aku, yang gemar sekali menghirup oksigen dan menghembuskan 'hadeh'".

Kalimat-kalimat seperti itu yang akan kamu temui saat membaca buku ini. Tertarik membeli? Jika iya, kamu bisa mendapatkannya di toko-toko buku terdekat. (Novia Intan)

Dipublikas Tabloid BIAS, Edisi 1, 2019


Tuesday, June 7, 2022

Kembali Ke Ndeso : Makan Sego Wader Biar Pinter

 Makan makanan ala lestoran sudah hal yang biasa. Apalagi era sekarang makanan rasa lestoran banyak didapatkan di warung makan dan dijual dengan harga makanan. Memang, Yogyakarta memiliki banyak pilihan rasa makanan yang bisa kita icip. Mulai dari makanan khas luar sampai khas lokal. 

Foto : Irukawa ELisa

Sampai terlalu banyaknya keragaman jenis makanan, untuk dicoba, sampai kadang-kadang kita kesulitan mencari makanan dan minuman yang dulu sangat biasa kita makan. Salah satunya adalah minuman kunir dan sego wader. Apalagi jika dinikmati di tengah-tengah suasana yang sejuk dan menikmati semilir meski sinar terik. 

Sego wader memang bagi kaum millennial kurang mendapat perhatian. Padahal, kandungan baik pada wader bisa meningkatkan konsentrasi dan kecerdasan. Tidak heran orang jaman dulu yang suka makan wader banyak yang pinter. Bagi kaum millennial saat ini, sego wader asing, dan memang juga sedikit sulit ditemukan di lestoran atau warung-warung millennial saat ini. Hanya ditemui di objek wisata Taman Bronjong. 

Sego wader yang disediakan di Objek Wisata Taman Bronjong ini memang memiliki cita rasa berbeda. Rasa dari nasinya sangat pulen, empuk dan enak. Ketika nasi masuk ke mulut, memiliki tekstur tidak biasa, dan memang nasi ini dicampur dengan bumbu rempah-rempah yang tidak disebutkan oleh sang koki, sebagai bumbu rahasia. Tambah nikmat lagi jika wadernya fresh baru di jaring langsung dari sungai. 

Kuliner di Taman Bronjong berlokasi di Wanujoyo Kidul, Srimartani, Piyungan, Bantul ini benar-benar makanan sederhana yang nikmat. Kenapa sederhana? Karena kuliner satu ini hanya menyuguhkan nasi, wader ditepung yang masih kriuk-kriuk dengan rasa asin yang sedang, ditambah sambal bawang yang pedasnya doer, cocok bagi pecinta pedas. Menariknya makan di sini adalah, kita bisa petik sendiri dari taman Bronjong. Kebetulan ketika saya berkunjung, memang saat kemarau jadi tingkat kepedasan cabe memang lebih pedas. Jadi, cabe yang berbuah di musim kemarau memiliki tingkat pedas lebih dibandingkan cabe yang berbuah di musim penghujan. 

Foto : Irukawa Elisa

Cara menikmati sego wader khas taman bronjong ini memang lebih lezat menggunakan tangan. Minumnya pun kali ini saya memilih yang spesial dan tradisional. Saya memilih minuman kunir asem batok. Kenapa kunir asem batok? Mungkin kamu menganggap ini hal biasa. Ternyata, kunir asem yang disajikan dengan batok kelapa memiliki citarasa yang berbeda dibandingkan minuman yang lain. Begitupun dengan kopi yang disediakan di batok. Karena saya kebetulan tidak kuat kopi, maka kunir asem pun jadi. 


Minuman yang disajikan dibatok kelapa menurut sang Koki Taman Bronjong, Mahendra memang memiliki cita rasa lebih khas. Minuman yang disajikan dibatok kelapa akan mengeluarkan aroma khas batok sehingga lebih unik rasanya. Aroma itulah yang akan menimbulkan cita rasa yang berbeda. Terutama untuk minuman yang disajikan ketika panas, akan tercium harum santan. 

Terkait harga yang ditawarkan pun terbilang murah, untuk minuman kopi batok atau kunir asem hanya 4.000 saja, untuk kuliner sego terinya cukup dengan harga 10.000 seporsinya, sangat ramah kantong pelajar. Tentunya dijamin sehat, karena bahan didapatkan secara organik dan tentunya fresh. Model-model kuliner seperti ini biasannya paling disenangi bagi mereka yang sangat memperhatikan kesehatan. (Irukawa Elisa)

Dipublikasi Tabloid BIAS, Edisi 2, 2019