Monday, October 26, 2020

Kenalan Dengan KAPO, Keluarga Alumni Pengurus Osis se-DIY Menjembatani Komunikasi Antar Alumni Pengurus OSIS dengan Program Pendampingan

Mungkin kita sudah tidak asing dengan forum komunikasi pengurus OSIS Yogyakarta (fkpo), tapi bagaimana dengan Keluarga Alumni Pengurus Osis (KAPO)? Ya, mungkin sebagian dari kalian belum mengenal KAPO, wajar saja sebab KAPO memang baru saja dibentuk. Lantas apasih sebenarnya KAPO?


KAPO merupakan singkatan dari Keluarga Alumni Pengurus OSIS se DIY. Cikal bakal terbentuknya KAPO memang tidak lepas dari FKPO. Dari namanya saja menggunakan singkatan 'alumni', maka anggota KAPO merupakan alumni dari pengurus FKPO. KAPO sendiri baru saja dibentuk dan deklarasi pada tanggal 29 Juni 2019. Karena terbilang baru, hingga saat ini anggota KAPO masih berjumlah 10 orang yang terdiri dari sekretaris bendahara, divisi media, data base, dan program. Meski terbilang baru, KAPO sudah merupakan Lembaga semi formal di bawah Dinas Pemuda dan Olahraga DIY. Pada masa jabatan tahun ini, KAPO dipimpin oleh Muhammad Khalid, yang merupakan alumni dari SMA Negeri 1 Yogyakarta.

Khalid bercerita bahwa awal mula dibentuknya KAPO karena keresahan alumni FKPO karena belum terjalinnya ikatan silaturahmi yang baik antar regional. Padahal pengurus OSIS sebelumnya sudah memiliki karya. Dari situlah terpikirkan mengapa tidak membuat forum lagi untuk menhjembatani komunikasi antar regiobal. "Kita mencoba dengan ikatan non formal mengkomunikasikan antar daerah. sayang sekali jika tidak dilanjutkan dengan angkatan sebelumnya," jelasnya.

Pada awalnya KAPO hanya ingin dibentuk sebagai komunitas, namun saat didiskusikan lebih lanjut dengan pihak Dikpora, KAPO disepakati untuk menjadi sebuah lembaga. Tujuannya agar long term dan memiliki tujuan jelas. KAPO memiliki dua tujuan utama, yaitu memperkuat upaya pendampingan pelajar FKPO di DIY dan sebagai wadah silaturahmi antar alumni FKPO. "Meskipun belum ada induknya, kita deklarasi dengan harapan KAPO punya tujuan jelas, kebersamaan alumni juga menghasilkan karya untuk adik2 penerusnya," harap Khalid.

Alvin Sadewa, alumni dari SMK SMTI sebagai penanggung jawab divisi media juga menjelaskan apa saja program kerja yang digarap oleh KAPO. "Kami masih fokus pada dasar. Semester ini mau fokus membuat program berlanjut yaitu Yogyakarta Future Leader Camp," katanya.

Alvin menjelaskan jika diklat yang akan diadakan bulan Oktober bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ini akan ada korelasi dengan regenerasi pengurus FKPO. KAPO sedikit membuatkan alur yang ideal untuk regenerasi FKPO. Alvin berharap dengan adanya KAPO, indikator regenerasi FKPO lebih rapi dan memiliki alur pembinaan yang jelas. "Jika sudah berjalan baik, tidak menutup kemungkinan kita juga merambah ke program lainnya tentu untuk pelajar se DIY," jelas Alvin.

Salah satu ciri khas yang fundamental dari suatu lembaga adalah lambang lembaga tersebut. Maka KAPO juga memiliki lambang yang penuh makna dan harapan. Tulisan KAPO menggunakan jenis font purprecircle yang punya makna dinamis dan flexibel, harapannya pengurus OSIS dapat memposisikan diri dimana saja dan tidak meninggalkan karakter kepemimpinannya. Terdapat pula lambang bunga yang berarti pertumbuhan dan kontribusi setiap alumni pengurus OSIS. Sementara lima kelopak daun bunga merepresentasikan logo OSIS yang menunjukan kemurnian jiwa yang berintikan pancasila. Kemudian bentuk jendela tang melambangkan masa depan yang cerah. Warna hijau yang dominan pada logo KAPO sebagai tanda bentuk kehidupan dan identik dengan Yogyakarta.

Tentang harapan ke depan, Khalid dan Alvin mempunyai harapan yang sama. Khalid menjelaskan jika ia berharap KAPO dapat menjadi wadah pembinaan pelajar khususnya bagi OSIS. Apalgi mereka nantinya yang akan meneruskan tongkat pemimpin di negeri ini. Menurutnya akan lebih mudah jika dilakukan pembinaan sedini mungkin, meskipun masih pelajar dan masih punya idealisme. "Kita didik sejak SMA, kita arahkan, dibimbing orientasinya supaya ke depan menjadi investasi membina pemimpin di masa depan." tutupnya. (Novia Intan)


Dipublikasikan di Tabloid BIAS Edisi 1 | 2019

Friday, October 23, 2020

SCREENING & DISKUSI HASIL RESTORASI FILM : “BINTANG KETJIL” 1963

 Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Pusbang Film) kembali mengajak masyarakat untuk menyaksikan film-film Indonesia yang telah direstorasi. “Bintang Ketjil” (1963) garapan Sutradara Wim Umboh dan Misbach Yusa Biran ini merupakan film restorasi kedua yang dilakukan Pusbang Film.

Foto : Dok. Tabloid BIAS

Selasa, 20 Agustus 2019 bertempat di CGV Sahid J-Walk Mall, Jalan Babarsari No 2, Janti, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Mahasiswa/i Program Studi S-1 Televisi dan Film, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta bekerjasama dengan Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Pusbang Film) mengadakan Screening & Diskusi Hasil Restorasi Film “Bintang Ketjil” 1963. 

Film ini bertemakan anak-anak, yang merupakan film anak-anak pertama di Indonesia. Terhitung sekitar 188 penonton yang telah terdaftar dalam acara ini, yang terdiri dari siswa/i sekolah dan pendamping, mahasiswa, dosen, serta masyarakat umum. Bintang Ketjil merupakan film klasik ketiga yang telah direstorasi pihak Kemendikbud, setelah sebelumnya merestorasi Darah dan Doa dan Pagar Kawat Berduri. Film Bintang Ketjil ini disutradarai oleh Wim Umboh dan Misbach Jusa Biran yang dirilis pada tahun 1963.

Film restorasi tersebut  ditayangkan dengan durasi 120 menit. Setelah pemutaran film, ada diskusi tentang film hasil restorasi yang akan disampaikan oleh Rizka F. Akbar selaku restorator, Maria Umboh dan Suzy Mambo selaku aktor. Diharapkan dengan adanya diskusi tersebut, penonton dapat mengenal kembali film bertemakan anak-anak dan menambah wawasan tentang restorasi film. 

Banyak film era klasik kita yang masih tersimpan dan butuh untuk direstorasi, namun ternyata tak mudah mendapat izin untuk merestorasi. Film Bintang Ketjil ini saja membutuh proses lama hingga akhirnya direstorasi pada tahun 2018 silam. 

Film-film era klasik Indonesia ternyata juga memiliki banyak sekali ilmu yang bisa digali dan dijadikan sebuah pembelajaran bagi generasi masa kini. Isu yang diangkat dalam Bintang Ketjil, faktanya juga masih dialami generasi milenial. Kesenjangan sosial dalam masyarakat, orang tua yang kurang peduli terhadap keinginan anak dan mengumbar janji, namun tidak memenuhinya atau lupa akan hal tersebut.

Acara Screening & Diskusi Hasil Restorasi Film “Bintang Ketjil” 1963 merupakan rangkaian program kerja yang dilakukan oleh pemerintah untuk menyelamatkan warisan film lama. Harapannya ke depan tentu lebih banyak film era klasik kita yang direstorasi selain untuk memajukan perfilman nasional serta juga demi pendidikan di Indonesia yang lebih maju dengan belajar dari sejarah bangsanya melalui medium film. (LINDA, NILAM)


Dipublikasikan di Tabloid BIAS Edisi 1 | 2019


Monday, October 19, 2020

Dimas Aditiya Maulana : Pilihan Tepat Menjadi Millenial Harus Produktif dan Kreatif Agar Tidak Tertinggal

 Teknologi telah menarik perhatian pelajar. Entah itu pelajar dari SD hingga mahasiswa. Teknologi memang menawarkan dua sisi. Yaitu sisi positif dan negatif dalam penggunanaannya. Kita tahu bahwa sekarang teknologi mengalami metamorfosa banyak sekali. Tidak hanya dibidang media sosial saja, tetapi membuat blog hingga perkembangan teknologi yang menggabungkan audio visual, salah satunya adalah video.


Video kini paling banyak dicari bagi para viewer youtuber. Karena youtuber tidak hanya menjadi hobi atau hiburan, tetapi sebagai salah satu mendulang uang. Terlepas dari itu semua, ternyata youtube juga dijadikan sebagai ajang berkreativitas atau ajang perlombaan. Salah satunya Dimas Aditiya Maulana yang mewakili Yogyakarta dalam ajang PUSP|PTEK short movie competition.

Siapa yang menyangka jika anak ke dua dari dua bersaudara ini di bulan September 2019 lolos 5 besar Nasional dalam ajang Puspiptek short movie competetion. Ia berhasil mengalahkan 446 peserta dari seluruh Indonesia, dan pesertanya bukanlah dari tingkat pelajar, melainkan tingkat umum. Pengumuman puncak acara Dimas sukses juara 1 Tingkat Nasional.

Dimas, itulah sebutan akrabnya. Ini bukan kali pertamanya meraih prestasi dibidang video. Sejak dibangku SMP sudah tertarik dunia audio video. Lantas, Ia pun mencoba untuk menekuni bisikan hatinya. Ketertarikannya inilah yang akhirnya mengantarkan pelajar kelahiran Indramayu, 20 Februari 2001 ini pun memutuskan masuk ke SMKN 2 Depok Sleman, mengambil jurusan Teknik Elektronika Audio Video.

Pertamakali masuk SMK memang berawal Karena dorongan hati dan hobi.  Siapa yang menyangka, pilihannya semakin mendorongnya terus berkreasi dan berprestasi. Sejak masuk SMK pertamakali, Dimas sudah mengikuti kejuaraan film pendek se kabupaten Sleman. Tidak tanggung-tanggung, baru sekali mengikuti lomba dibidang ini, langsung mendapatkan juara 1 film pendek dalam ajang FLSSN.

Akhirnya, Dimas pun ditunjuk mewakili ketingkat provinsi dalam ajang yang sama, yaitu kategori film pendek di FLSSN.  Sebenarnya ini bukan kali pertama Dimas. Dimas ketika masih dibangku SMP pun juga pernah menyabet juara 2 band festival music pelajar se-Jawa Barat.

Pelajar yang sekarang kelas XIII ini pun mengaku sangat semangat dan antusias dengan aktivitas yang kini dijalaninya.

“Bagiku menarik sih, di akhir masa SMK masih bisa ikut lomba dan bawa nama Jogja di Nasional,” ceritanya.

Memang Dimas salah satu pelajar yang terbilang aktif. Tidak hanya aktif secara akademik, tetapi juga nonakademik pun. Baginya, status menjadi seorang pelajar bukanlah alasan untuk tidak membangun relasi. Dimas memutuskan untuk mengembangkan hobi sebagai media untuk mengeksplorasi potensi, bakat dan kemampuannya. Oleh karenanya, Dimas mengikuti komunitas fotografi. Berawal dari sinilah relasi terbangun, dan perlahan-lahan Dimas memperoleh tawaran untuk projek memotret atau membuat video.

Saat ditanya mengenai projek apa yang dikerjakan, memang ada banyak. Akhir-akhir ini, Dimas mendapatkan tawaran untuk membuat Video dokumenter acara kedutaan besar Romania di Yogyakarta. Dia juga pernah diminta membuat video profil UGM.

Adel, kakak Dimas pun membenarkan bahwa adik semata wayangnya memang super sibuk, padahal masih sekolah SMA. “Sepulang sekolah, sudah ada aktivitas dan pulang malam, hanya untuk mengerjakan tugas sekolah atau menerima job,” ceritanya. Adel pun sangat mendukung semua kegiatannya, asal positif, dan sebenarnya.

Selain proyek dari luar, Dimas pun juga pernah menjadi tim dokumentasi ekstrakulikuler PAKS SMKN 2 Depok. Tidak hanya itu, ternyata juga pernah menjadi pemateri di opening ekstra photo dan video SMK se-kabupaten Sleman, hingga pernah juga menjadi editor film jurusan sekaligus film director loh.

Dimas salah termasuk salah satu pelajar yang merantau ke Yogyakarta demi pendidikan loh. Memang Ia sangat produtif. Sampai-sampai masih sekolah pun, banyak tawaran job yang datang, dan tentunya Ia pun juga mendapatkan uang pemasukan untuk saku sendiri. Ketika ditanya, apa sih rahasia hidup produktif Dimas? Jawabannya ternyata klise tetapi mengena.

“Prinsipnya, selagi memiliki keinginan dan bisa berproses, ya kenapa nggak? Jadi muda dan millennial kalo tidak bisa kreaktif ikutin jaman, rugi sih.” Tutupnya. (Elisa)   

Dipublikasikan di Tabloid BIAS Edisi 2 | 2019


Friday, October 16, 2020

Solusi Pengunci Pintu Otomatis : WALS (Wireless Automatic Locking System)

 

Kejadian yang terkadang terjadi adalah orang-orang lupa untuk mengunci pintu rumahnya karena alasan sibuk atau terburu-buru. Hal ini merupakan masalah yang sangat sering dialami oleh masyarakat umum. Hal ini juga akan menyebabkan kebanyakan orang khawatir dan gelisah akan keamanan rumahnya. Mungkin sang pemilik rumah akan memnita bantuan tetangganya atau saudaranya untuk membantu menjaga rumahnya. Akan tetapi bila terjadi kondisi dimana tidak ada yang bisa dimintai bantuan untuk menjaga rumahnya, maka akan menyebabkan kekhawatiran yang lebih pada sang pemilik rumah. Karena masalah lupanya mengunci pintu ini sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab, maka pemilik rumah dituntut untuk lebih berhati-hati ketika meninggalkan rumah. Meskipun demikian, masih saja banyak orang yang lupa akan mengunci pintu rumahnya.

Foto: Linda 

Muhammad Nur Fathi (17) dan Muhammad Wahid Ardiyanto (17) adalah dua siswa yang duduk di kelas XII Usaha Perjalanan Wisata yang mengikuti ekstrakurikuler Karya Ilmiah Siswa (KIS) di SMK N 7 Yogyakarta berhasil menciptakan suatu produk inovasi, yang diberi nama WALS (Wireless Automatic Locking System).

WALS (Wireless Automatic Locking System) merupakan alat yang dibuat untuk mengunci pintu rumah yang bekerja secara otomatis dengan sistem program arduino yang dapat mengunci pintu rumah secara otomatis sehingga apabila pemilik rumah lupa menguncinya rumah tetap aman tidak mudah dibobol.

Kelebihan dari inovasi yang dibuat oleh kedua siswa ini adalah Wireless, alat ini menggunakan teknologi wireless dengan jangkauan mencapai 8 meter. Auto Lock System, selain itu terdapat fitur auto lock, jadi jika lupa mengunci pintu selama 60 detik. PIN, alat ini juga dapat diakses mrenggunakan PIN yang telah disediakan, jadi apabila remot hilang atau tertinggal di dalam rumah maka anda dapat membukanya melalui PIN. Selain itu karya inovasi yang diciptakan oleh Fathi dan Wahid juga terbukti telah mendapat kejuaraan dalam Pameran Klinik Sains 2018 dan mendapat Juara 2 tingkat provinsi.

“Adapun manfaat WALS, seperti mengatasi permasalahan tentang lupanya mengunci pintu rumah dan rumah tidak dapat dimasuki oleh oknum-oknum yang ingin mencuri barang di rumah . Harapannya ketika masyarakat menggunakan pengunci otomatis, masyarakat tidak perlu khawatir apabila lupa mengunci pintu rumah ketika sedang berpergian keluar rumah,” jelas Fathi.

Wahid juga menjelaskan perbedaan WALS dengan Kunci biasa yaitu apabila berada ditempat gelap tidak perlu mencari lubang kunci. Apabila kunci atau remot hilang dapat menggunakan PIN. Kunci digantikan dengan remot. Jika baterai remot habis ganti saja menggunakan baterai jam. Kata sandi PIN dapat diganti-ganti. (Linda)


Monday, October 12, 2020

Prestasi Olahraga Dari Srikandi SMK Negeri 7 Yogyakarta

 Kalau ada istilah bahwa perempuan juga bisa, maka dua putri kebanggaan SMK Negeri 7 Yogyakarta ini telah membuktikannya. Adylla Va Prileka Putri Zhehayani dan Bintang Istiqomah salah satunya. Keduanya memiliki prestasi dibidang olahraga. Lantas bagaimana cerita mereka bisa mendapatkan predikat juara tingkat nasional dan provinsi? Berikut ini kisahnya. 

Adylla Va Prileka Putri Zhehayani

Kiri Adylla, Kanan Adilla

Adylla nama sapannya, merupakan salah satu siswi kelas 3 di SMK Negeri 7 Yogyakarta. Di balik badannya yang mungil, ternyata Adylla memiliki kemampuan yang membawanya meraih juara 1 Taekwondo tingkat nasional. Saat ditemui, Adylla dengan girang menceritakan bagaimana awal ia menyukai beladiri. Adylla mengaku dia mulai suka taekwondo sedari kecil. Tapi sayangnya kedua orangtuanya tidak langsung mengijinkan Adylla mengikuti beladiri. Perempuan yang lahir di Sleman, 29 April 2003 ini baru bisa mengikuti ekskul taekwondo saat SMK. 

Gayung bersambut, ternyata keinginan sedari kecil Adylla benar adanya. Sejak mengikuti ekskul taekwondo di sekolahnya, ternyata dari sabeum (pelatih) merekomendasikan buat masuk atlit. "dari aku juga seneng sama sabeum udah diunggulkan jadi ketagihan. Sekolah mendukung, udah dibeliin headguard (pelindung kepala), hugo (pelindung badan)," cerita Adylla. 

Sebelumnya, Adylla pernah ikut seleksi Popda, namun sayangnya saat itu kondisi Adylla sedang tidak fit sehingga membuatnya tidak optimal dalam mengikuti turnamen bergengsi tersebut. "nggak jadi keseleksi karena akunya demam, terus berusaha nglawan tapi lawannya anak kko dan sabuk, sama tinggi badannya udah jauh lebih tinggi, jadi gigiku kehantam kakinya terus gusinya sampai hitam gitu, giginya juga sampe longgar," tambahnya. 

Adylla menambahkan bahwa masalah cidera juga bukan perkara sekali dua kali. Demi mendapatkan juara, ia merasakan banyak cidera di badannya. Mulai dari kaki yang kapalan, tanggannya terkilir, kepleset, hingga kaki yang sobek. 

Namun perjuangan Adylla tidak mengkhianati hasil. Latihan yang dilakukan selama enam kali dalam seminggu, bahkan saat itu sedang puasa ternyata menghasilkan hasil yang tidak disangka-sangka. Pada tahun 2019 Adylla berhasil menjadi juara 1 di turnamen Magelang Open Taekwondo Championship. Perempuan yang memiliki cita-cita sebagai wanita karier ini juga membagikan tips dalam berjuang. 

"Jangan pernah ngeluh, tetep berusaha, lewati tantangan yang ada, tetep semangatt, semua hasil yang didapetin tergantung apa yang udah dikorbanin dan dilakuin, jangan lupa doa paling penting, dan usaha," pesannya. 

Bintang Istiqomah

Tidak kalah dari Adilla, Bintang Istiqomah juga menunjukkan prestasi di bidang olahraga cabang bulutangkis dengan membanggakan. Perempuan yang lahir di Sleman, 25 Mei 2003  juga menceritakan bagaimana perjuangan dirinya hingga mendapatkan predikat juara 3 Kejuaraan O2SN tahun 2019. 

Awal mula Bintang, panggilan akrabnya, suka bulutangkis karena dulu suka mengikuti ayahnya jika sedang olahraga bulutangkis. Dari kebiasaan tersebut terus lama kelamaan Bintang juga punya keinginan untuk menjadi seorang atlet bulutangkis. "Pada saat kelas 3 saya di ajak oleh ayah untuk pergi ke sebuah club bulutangkis dan pada akhirnya saya kepincut untuk terjun ke dunia bulutangkis," ujarnya. 

Mulai saat itulah Bintang latihan dengan rutin dan semangat untuk mengejar target yang sudah ia pikirkan sebelumnya. Untuk menjadi atlet itu tidak mudah, banyak hambatan dan rintangan yang harus di hadapi. Namun, Bintang terus semangat demi mendapatkan prestasi terbaik. Bintang pun sangat bersyukur bisa merasakan jatuh bangun seorang atlet bulutangkis apalagi pihak sekolahnya selalu mendukung.

Perjalanan Bintang mendapatkan juara 1 memang berliku. Pertama ia harus mengikuti perlombaan O2SN SMK tingkat provinsi. Diturnamen itu Bintang harus menuntaskan semua atlit DIY yang sudah terseleksi pada O2SN tingkat kota. Sebelum bisa lolos dan melaju ke O2SN tingkat provinsi, Bintang harus menghadapi musuh-musuh  se-kota yogyakarta yang sangat sulit untuk di tuntaskan. 

Karena dengan kegigihan Bintang agar bisa mendapatkan tiket untuk maju ke O2SN SMK, hingga akhirnya mendapatkan juara 1 se-kota yogyakarta dan berhak melanjutkan ke babak O2SN tingkat provinsi. Di tingkat provinsi itu musuh yang dihadapi Bintang semakin ketat dan poinnya pun saling bersautan. 

Pada turnamen tingkat provinsi Bintang mendapatkan juara 3. Meski tidak menjadi juara 1, Bintang berjanji akan membenahi semua kekurangan untuk persiapan 02SN tahun depan nanti. "Aku berjanji dengan diriku sendiri bahwa tahun besok aku akan menjadi juara 1 provinsi dan mendapatkan tiket untuk melanjutkan O2SN tingkat nasional," harapnya.

Soal cita-cita, Bintang pun memiliki cita-cita yang tidak jauh dari dunia bulutangkis. Bintang ingin menjadi dosen olahraga atau menjadi pembisnis yang sukses. Ia pun berbagi tips bagaimana menjadi atlet bulutangkis yang baik. "Buat temen-temen yang ingin juara bulutangkis jangan gampang menyerah walaupun kamu sedang terpuruk. Kejarlah dan jangan kasih kendor semangatmu karena jika kalian sudah mencapai apa yang kamu target, kalian pasti bangga pada dirimu sendiri apalagi orang tua. Oiya jangan lupa beribadah dan berdoa kepada Allah SWT," tutupnya. (Novia Intan)


Monday, October 5, 2020

Luidwina Rindang : Tekuni Viola Sejak SD Antarkan Wina Konser 4 Kali Dalam Setahun

Luidwina Rindang atau yang akrab disapa Wina sukses tour konser viola. Gadis kelahiran 15 Mei 2014  ini tidak hanya sekali dua kali mengikuti orchestra musik, khususnya viola. Dalam waktu sekitar setahun terakhir, telah mengikuti Empat konser.  Tentu ini prestasi, apalagi jika mengingat sekarang dia baru masuk kelas 10 di SMM, Yogyakarta.

Luidwina Rindang (Foto : Dok. BIAS)

Masuk sekolah di jurusan music sudah menjadi tujuan Wina dari SMP. Wina sadar betul dengan passion di dunia music. Hal ini juga benarkah oleh Ibunya, Maria Endang Kristini.

“Sejak kecil, sejak TK dia selalu terobsesi memainkan viola. Sampai-sampai, dulu itu ada potongan kayu kecil, dimainkan seolah-olah viola,” Kenang Ibunda. Senada dengan cerita Wina, dia juga teringat ketika masih belum punya viola, dia menggunakan sendok dan garpu dimainkan seperti viola.

Melihat antusiasme Wina kecil inilah, akhirnya Wina mendapatkan kado ulang tahun dari Pak Dhe-nya. Berawal dari situlah bakat dan minat Wina mulai diasah. Wina mulai mengikuti ajang perlombaan viola. Sejak kecil, ayah Wina, Herunimus Riszat selalu mendorong bakat anaknya. Hal ini terlihat ketika ayah dan ibunya selalu kompak mengantarkan Wina kemanapun. Mulai dari mengantarkan les viola hingga mengikuti ajang perlombaan viola.

Saat ditemui di rumahnya, ibunda Wina, Maria Endang Kristini memberikan edukasi kepada Wina untuk tidak menjadikan kemenangan itu sebagai tujuan. Jadi dari pihak orangtua memberikan pesan pada prosesnya. Mendukung Wina mengikuti berbagai ajang perlombaan sebenarnya untuk melatih mental, dan agar wina belajar suportif serta belajar menerima kekalahan.

Sejak SD memang Wina sudah menekuni alat music viola. Ternyata perjalanan Wina menekuni pessionnya sempet mengalami hambatan. Seperti yang dikatakan Wina sebelum berangkat konser Orkestra ke Surabaya. Ia menceritakan bahwa dulu ia sempet fakum selama dua tahun tidak latihan viola dan sempet juga pernah mencoba taekondo dan mencoba olahraga yang menjadi profesi ayahnya, yaitu menjadi pelatih Judo.

“Saya pernah bosan main viola ketika masih kelas 3-4 SD. Saya pernah ikut Judo dan Taekwondo. Hanya sebentar, dan saya merasa tidak cocok di olahraga, dan kembali lagi ke music,” tegasnya. Adapun alasan lain kenapa ia juga sempet vakum, karena mempersiapkan ujian UN dan terkendala faktor ekonomi, dan ini dibenarkan oleh Ibudanya.

Wina masih ingat betul ketika SMP, viola miliknya sudah terlalu kecil dan sudah tidak enak penjariannya. Padahal harga alat music viola tidaklah murah. Demi mendapatkan viola baru, Wina dan orangtua pun akhirnya menabung. Sampai-sampai menjual kedua viola hadiah pertamakali dari Pak Dhe dan viola perolehan hadiah yang diterimanya pertamakali.

Selulus SMP, seperti yang disinggung sebelumnya di atas bahwa Wina sejak awal memang ingin sekolah di music. Sama seperti sebelumnya, mengambil sekolah yang memiliki les atau ekstra music viola. Ketika naik ke SMA, Winapun masih sama, memilih sekolah yang ada kaitannya dengan permainan viola. Di waktu bersamaan, di awal tahun Ajaran Baru, Wina mengikuti seleksi pemain viola, yang diikuti oleh umum.

“Waktu itu tidak percaya mbak, Wina yang masih SMA bisa mengalahkan peserta lain yang sudah dewasa-dewasa,” Tambah Maria Endang Kristini dengan semangat.

Berawal dari situlah, Wina mulai diminta guru dan kakak kelas untuk menjadi bagian pertunjukan ataupun orchestra. Jadi, sejak pertamakali Wina masuk SMM Yogyakarta, Ia langsung diajak mengikuti banyak konser.

Waktu Wina pun semakin padat karena kesibukan sepulang sekolah. Sepulang sekolah Wina harus latihan hingga pukul 10 atau 11 malam, tidak jarang sampai rumah sudah pukul 00.00 WIB. Meskipun kesibukan yang padat, Wina tetap tidak mengesampingkan pelajaran secara akademiknya. Dia pun juga bisa menjalani keduanya secara seimbang.

Ketika ditanya, bagaimana cara agar bisa seperti itu? Jawabannya sederhana. Dia fokus pada apa yang dijalani.

“Kalo aku, kalo pagi di jam pelajaran, aku fokus belajar di kelas. Kalo pas latihan viola, saya fokus latihan viola. Kalo sudah sampai rumah, waktunya istirahat,” imbuh gadis yang memang ingin menjadi soerang violist professional.

Di akhir dialog, Wina berpesan untuk dirinya dan mungkin untuk teman-teman diluar sana, jika sudah memiliki tujuan jelas dan memiliki bakat, maka tugas kita adalah mengembangkannya. “Siapa tahu besok dikemudian hari bisa menjajdi penghasilkan. Terus jangan lupa juga sekolah, kita harus pandai bagi waktu,” tutupnya. (Elisa)

 

Prestasi:

1.       Masuk grand final akzee prestazee, Yogyakarta 2013

2.       Juara 1, kids violin contest, gishan project, 2013

3.       Juara 2, lomba viola tingkat sekolah dasar, Yogyakarta 2014

4.       Juara 2, kids violin competition 2014

5.       50 besar audisi jagoan clevo, 2014

6.       Juara 2 kategori B4-6SD, diselenggarakan oleh Kawai Junior Violin Competitiion, 2014

7.       The best performance lomba viola tingkat SD, diselenggaarakan gamefantasia, 2014

8.       Juara harapan 2, the first Amari violin competitioin 2015.

9.       Violist at amazing concert of serenade (ACS), 2015

10.   Juara 1 lomba music Digifest

11.   Serenade Orkestra, 2015

12.   Jogja Stdudent Orkestra 2016

13.   Jogja Student Orkestra 2017

14.   Yuana Arifin, 2017

15.   Sebagai pemain viola dalam #konserpendidikan 2016 dengan tema cita cinta dari Jogja. Yogyakarta 2016

16.   Apresiasi pemain viola dalam kegiatan #konserpendidikan 2017, jogja student orchestra, 2017

17.   Lulus ujian tingkat III, Serenade Jogja, 2017

18.   Peserta Festival seni karawitan gending gerejani (sekargeni) ke-5 “Nabur Bingah Awoh Paseduluran”, 2017

19.   Juara 3, SMI Got music talent. Plasa Ambarukmo, 2017

20.   Juara 2, Viola Yogyakarta tingkat sekolah dasar, 2017

21.   Juara 2, lomba Revive the glory, Yogyakarta, 2017

22.   Melbourne Symphony Orchestra, 2019

23.   Sawo Kecik String Orchestra, 2019

24.   Java Orchestra, 2019

25.   Konsers Musik Biru bersama Adddie MS 2019

26.   masih banyak orchestra sekolah


Dipublikasikan di Tabloid BIAS Edisi 2| 2019

Monday, September 28, 2020

Ayu Fadjri Agustiani : Ingin Kuliah Di Fashion Paris Lewat Jalur Prestasi

Siapa sih yang tidak ingin menjadi orang sukses? Semua orang pasti ingin sukses. Berbicara tentang sukses, tidak hanya diperuntukan untuk mereka yang berkarir saja. Tetapi juga bisa sukses sejak dini, sejak masih dibangku SMA. Salah satunya pelajar dari SMA 2 Yogyakarta, Ayu Fadjri Agustiani.

Ayu Fadjri Agustiani

Beberapa penghargaan Ayfa dapatkan, baik tingkat Provinsi hingga tingkat Nasional. Adapun beberapa prestasi yang pernah disabetnya, missal Juara 3 Lomba debat ketua osis/MPK tingkat Nasional, Juara 2 English Debat Tingkat Provinsi, menjadi juara 1 putri muslimah provinsi di Kalimantan barat dan di tahun 2019 di delegasikan Indonesia dalam konferensi pemuda Asia BIYSC.

Semua prestasi dan penghargaan tersebut ternyata tidaklah mudah diperoleh. Butuh kerja keras dan perjuangan. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh siswi yang sekarang duduk dibangku XII MIPA 3 ini. Ayfa menceritakan proses membangun karirnya sebenarnya diawali sejak dirinya masih MTs.

“Sebenarnya sejak SD tidak suka bahasa Inggris karena nilainya jelek, ketika masuk MTs orangtua mengertak dan disitulah mulai belajar bahasa Inggris lebih dalam,” ceritanya.

Kunci kesuksesan gadis yang hobi desain baju ini sebenarnya hanya mengikuti passion. Ia sangat menikmati dan menelateni passion yang dimiliki, sampai tidak terasa mengantarkan Fajri memperoleh banyak penghargaan.

Masih ada rahasia kesuksesan lain, dirinya tidak pernah melewatkan kesempatan yang datang. Prinsipnya adalah, jika ada kesempatan, telateni dan difokuskan. Sekalipun banyak ada tugas sekolah. Jika ada kesempatan yang sesuai dengan Passion, tetap ambil dan mencoba.

“Jangan sampai kehilangan kesempatan dan jangan ngilangi kesempatan, karena kesempatan itu tidak datang dua kali,” tegasnya.

Memang risikonya akan super padat karena harus membagi waktu antara sekolah dan fokus ke passion. Maka, Ayfa pun sudah memperhitungkan segalanya. Karena dia tipe pelajar yang mementingkan pendidikan dan passion, maka Ia pun rajin belajar. Ia sangat menghindari system belajar system kejar semalam. Sehingga, ketika ulangan, ia tinggal mengulang sedikit-sedikit, dan tentunya beban belajarnya tidak terlalu berat.

Di luar mengikuti lomba dan sekolah, ternyata dia salah satu pelajar yang juga produktif sekaligus pelajar yang eksploratif. Hal ini terlihat bahwa tidak hanya fokus belajar dan mengikuti ajang perlombaan saja. Tetapi juga memiliki segudang aktivitas, ketika ada waktu luang. Misal, ketika luang, diisi dengan mendesain baju. Ia pun juga memiliki hobi menari dan kesemuanya dipelajari secara otodidak.

“Oh, kalo untuk desain baju ya? Baju yang saya gunakan dalam acara puncak duta Remaja Genre 2019 saya yang mendesain baju saya sendiri,” pungkasnya. Ia pun juga mengawalinya dari iseng dan coba-coba mengambar, dan ternyata banyak teman-teman yang suka dan ada yang pesan.

Ketika ditanya harapan ke depan, Ayfa sangat ingin sekali mendapatkan beasiswa di Paris, di jurusan fashion. Tentunya kemampuan bahasa Inggris yang dimilikinya, banyak membantu ketika kuliah di luar negeri. (Elisa)


Dipubulikasi Di Tabloid BIAS | Edisi 1 | 2019

Monday, September 7, 2020

Membangun Kolaborasi Entrepreneur Muda

Proporsi jumlah pemuda Indonesia sedang berada pada titik tertinggi dalam sejarah Negara ini, menjadikan generasi muda modal kuat bagi Indonesia untuk menghadapi tantangan dunia 4.0.Sebesar 26% jumlah penduduk Indonesia masuk dalam kategori pemuda, angka ini setara dengan lebih dari 60 juta jiwa yang akan menjadi pemimpin di masa depan dan bidang kewirausahaan menjadi salah satu aspek  yang sangat berpotensi membawa perubahan.

Foto: Dok. BIAS

Sebagai bentuk partsipasi dalam pengembangan kapasitas pemuda Indonesia, United in Diversity Foundation (UID) bekerjasama dengan DANA Indonesia,  English Café dan Muni School dalam penyelenggaraan “Youth Dialog Studio Yogyakarta : Membangun Kewirausahaan Pemuda” untuk mengangkat aspirasi generasi muda dalam bidang wirausaha.

Pak Putu Putrayasa, owner Bernas.id menjadi pembicara pertama dalam dialog ini. Beliau memberikan sesiing spirasi kepada generasi muda  yang sedang memula inisiatif bisnis etc.

Garnadipa Gilang, Program Coordinator UN SDSN mengangkat topik “Entrepreneur Muda untuk Pembangunan Berkelanjutan” menyatakan bahwa entrepreneurship memiliki potensi tak terbatas untuk membuat dampak positif bagi masyarakat.

“Generasi millennial  memiliki kepedulian social dan lingkungan; ini menjadi dasar niatan kuat untuk dapat  menerapkan business  model  yang tidak hanya menghasilkan keuntungan tetapi jugai nklusi f dan berkelanjutan”, ungkapnya. Gilang juga menambahkan bahwa kegiatan dialog seperti ini menjadi kesempatan bagi entrepreneur muda untuk saling berkolaborasi dengan dasar kepedulian yang sama.

Mohammad Zainollah, CEO English Café Yogyakarta, memaparkan bahwa untuk memulai usaha itu sebetulnya tidak sesulit  yang  biasa dibayangkan.

“English Café dirintis tanpa modal, dan sekarang sudah berjalan di 120 cabang di 50 kota”,paparnya. “Selama kita dapat berfikir dengan kreatif,  pasti akan ada cara untuk meminimalisir  modal yang perlu kita keluarkan” sambung Zen.

Sesi ketiga diisi oleh Alya Mirza, founder PengenLiburan.com, yang berbagi strateg imarkting melalui website. Alya menyebutkan bahwa kunci dari ini adalah kejeliian dalam menentukan nama bisnis dan memanfaatkan  search engine google untuk menggaet konsumen.

“Strategi  yang saya terapkan cukup sederhana; saya menggunakan kata-kata kunci sebagai judul website sehingga ketika orang-orang  melakukan pencarian melalui search engine, website saya akan muncul di halaman pertama.  Jadiya orang-orang akan langsung menemukan  website saya.” Ungkap Alya.

Widyasari Listyowulan, Regional Program Head Innovation DANA menjadi pembicara terakhir dan mengangkat potensi penggunaan pembayaran cashless sebagai metode pembayaran masa depan.

“Sekarang ini semua bias dilakukan dengan menggunakan handphone, termasuk dengan pembayaran dan transaksi lainnya; ini bias mempercepat  proses  transaksi pembelian karena orang-orang  tidak perlu lagi pergi ke bank atau mencari  ATM untuk melakukan pembayaran semua ada di [handphone],” papar Widyasari.

Para  peserta  yang sebagian besar telah memulai usaha kemudian diajak untuk saling berdiskusi dalam sesi “Café Dialog” untuk saling berbagi inspirasi  yang mereka dapat kan dari kelima pembicara.  Harapannya dalam sesi ini pula dapat muncul ide dan inovasi baru dan membuka peluang  bagi kolaborasi antar pengusaha muda  Yogyakarta.

Youth Di alog Studio Yogyakarta merupakan satu dari empat kegiatan serupa, yang juga dilaksanakan di Makassar, Bandar Lampung dan Kota Kupang. (AURA, LINDA)