Tuesday, February 20, 2018

3 Aspek Proses Penting di Dunia Penerbit buku



Penerbit buku indie masih banyak diminati. Setidaknya, jalur penerbitan indie menjadi peluang baik bagi pera penulis yang naskahnya tidak diterima di penerbit mayor. Adapun tujuan dari penerbitan indie sebagai tempat untuk memberikan kesempatan untuk menerbitkan buku mereka sendiri dan memberikan ruang mengeluarkan gagasan ide dalam bentuk buku.
Dibandingkan 20 tahun yang lalu, penulis dimudahkan menerbitkan buku dengan jalur PoD atau indie. mudahnya proses penerbitan kini tidak hanya diperuntukan untuk penulis saja, melainkan banyak diburuoleh pendidik/pengajar dari akademisi. Jadi, Para akademisi juga bisa memanfaatkan peluang ini, khususnya para dosen yang kini dituntut untuk menerbitkan buku. Tidak hanya itu, pembicara seminar pun sangat boleh menerbitkan buku berisi materi seminarnya.
Berbicara tentang proses penerbit buku, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan. Setidaknya, ada tiga tipe proses penerbitan yang perlu penulis ketahui. Sebagai berikut.
Penerbit Konvensional
Penerbitan konvensional merupakan penerbit buku umum. Jadi, penulis memberikan naskah ke penerbit dan menunggu kabar dari penerbit. Dengan kata lain, penulis menunggu kepastian dari penerbit, apakah naskahnya diterima atau di tolak. Jadi naskah yang diterima berdasarkan standar penilaian dari penerbit tersebut.
Naskah yang diterima, penulis akan diajak kerjasama proses penerbitan. Kerjasama juga membahas tentang sistem pembayaran naskah, apakah naskah dibayarkan secara jual putus atau royalti, semua tergantung dari diplomasi penulis dan penerbit.
Menerbitkan buku di penerbit konvensional lebih sulit karena memiliki  banyak persaingan. Tidak heran jika penulis yang mengirimkan naskah ke penerbit konvensional banyak yang naskahnya dikembalikan. Penerbit Konvensional inilah yang disebut juga dengan penerbit mayor.
Penerbit indie
Penerbit indie atau yang sering kita dengar dengan self publishing adalah penerbit buku yang mencetak buku secara mandiri. Jadi penulis dapat mencetak buku dalam jumlah kecil. Proses penerbitan indie dilakukan si penulis dengan cara membiayai biaya cetaknya sendiri.
Tipe penerbitan yang kedua ini juga tidak kalah menguntungkannya. Penulis buku bisa menerbitkan dan melakukan launching bukunya sendiri. Keuntungan yang diperoleh si penulis bisa mencapai tiga kali lipat dari harga bukunya. Si penulis bisa melakukan direct selling dan tidak menggunakan jasa distributor untuk memasok bukunya ke toko-toko buku.
Ia perlu memiliki modal awal untuk mencetak bukunya sendiri. Hal ini juga perlu mempertimbangkan jumlah buku yang akan dicetak. Biasanya semakin banyak buku yang dicetak, semakin murah harga cetaknya. Modal yang besar tentu harus diimbangi dengan promosi yang gencar. Jika penulis tidak bisa memasarkan dengan baik bukunya, bisa jadi karyanya tidak laku terjual dan hanya dibagikan secara cuma-cuma.
Penerbitan Buku Kerjasama
Ada penerbit konvensional (mayor) ada juga penerbit indie. selain dua hal tersebut, ternyata juga ada penerbit kerjasama. Penerbit yang bisa menerbitkan secara konvensional maupun secara indie. penerbit kerjasama melibatkan penulis masuk di dalamnya. Jadi penulis turu menanggung biaya cetak buku, menjual buku sendiri dan juga bisa mendapatkan royalti dari hasil penjualan bukunya.
Khusus bagi penulis yang sudah memiliki popularitas, menggunakan metode penerbitan ketiga ini lebih menguntungkan. Bagaimanapun juga popularitas seorang penulis akan memudahkan proses penjualan buku kepada pembaca. Bukan berarti penulis yang belum memiliki popularitas tidak dapat melakukan hal ini. Penulis tetap bisa melakukannya.

Inilah tiga hal penting yang perlu diperhatikan ketika melakukan proses penerbit buku. Semoga dengan ulasan ini bermanfaat dan memotivasi kamu agar segera cus menulis buku.(Elisa)

Monday, February 19, 2018

Komunitas Coin A Chance Jogja Meningkatkan Pendidikan Untuk Anak kurang Mampu



Komunitas Coin a chance jogja atau yang juga disebut dengan CAC Jogja, merupakan komunitas yang bertujuan untuk meningkatkan pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu dan berniat untuk sekolah. Satu koin uang logam sangat berharga bagi mereka.
CAC Jogja mengelola uang recehan untuk ditukarkan atau disalurkan menjadi sebuauh kesempatan beharga bagi mereka untuk melanjutkan pendidikan. CAC Jogja memberikan kesempatan bagi yang ingin dan berniat sekolah dari tingkat SD-SMA. Mereka merasa prihatin dan empati karena rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia yang disebabkan oleh kemiskinan. Dengan demikian komunitas ini berharap bisa membantu mewujudkan mereka untuk mengeyam pendidikan yang layak. Keanggotaan komunitas ini dibuka untuk umum dengan dasar suka rela meluangkan waktu dan tenaganya.
   Komunitas CAC Jogja dibentuk pada bulan Desember tahun 2008. Ide itu muncul dari Karlina yang saat itu menyaksikan komunitas CAC Jakarta yang sudah aktif dan berjalan diacara Kick Andy, lalu terlintas dalam fikirannya untuk membentuk cabang CAC di Yogyakarta. Kondisi saat itu sangat memungkinkan untuk dibentuknya komunitas ini. Banyak sekali anak-anak desa yang tertinggal dalam pendidikan padahal keinginan untuk menuntut ilmu sangat besar. Kegiatan pertama komunitas ini berawal dari tahun 2009 dan saat itu hanya terkumpul 100.000 dengan nominal itu mereka berfikir tak mungkin bisa menyekolahkan anak-anak itu. Hingga akhirnya setiap anggota diwajibkan membayar iuran dengan nominal yang telah ditentukan. Mereka tak berhenti berusaha untuk mencari donatur dan anggota yang aktif. Hingga akhinya kini mereka telah memiliki sekitar 40 an anak asuh yang dibiayai untuk melanjutkan pendidikan.
   Kegiatan lain selain mengumpulkan koin, mereka juga mengadakan untuk membentuk kegiatan non akademis anak didiknya. Dengan cara membentuk kelas mimpi dan kelas karya untuk mengetahui bakat dan minat mereka. Serta memberitahu apa saja profesi yang ada, cara mewujudkannya dan juga kelas karya untuk memberi wadah supaya berkreasi.
“Selama CAC Jogja ini dibentuk, kami selaku anggota komunitas belum mampu mewujudkan visi,misi dan tujuan kami untuk membantu memberikan pendidikan yang layak untuk anak Indonesia, karena saat ini kami baru bisa melakukannya untuk segelintir anak karena kendala berbagai hal. Namuun suatu saat nanti kami pasti mampu mewujudkan semua itu. Semoga pendidikan di negeri ini merata dan anak-anak bangsa mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas,” imbuh Adelia Putri salah satu anggota CAC Jogja beberapa waktu yang lalu. (Dhea)


Dipublikasikan Tabloid BIAS | Eds III | 2017
 

Sunday, February 18, 2018

PAKYO Membangkitkan Geliat Kartun di Indonesia



Bermakna, menyentil, menohok, humoris adalah lumrah karya-karya yang organisasi ini suguhkan. Berawal dari individu-individu yang gemar mengirimkan karya kartun dan komik mereka ke media cetak, karena tidak pernah bertemu dan merasa butuh interaksi untuk bersama-sama membagi cerita dan menyabarkan wawasan, mereka pun akhirnya berinisiatif membuat sebuah komunitas yang dapat menampung kartunis-kartunis dan mengembangkan kartun itu sendiri.
Paguyuban Kartunis Yogyakarta (PAKYO) resmi menyematkan diri mereka sebagai sebuah perkumpulan sejak 5 Desember 1979, tepat ketika pameran pertama mereka ‘Humor Kartun’ digelar. Diinisiasi oleh Teguh Budiarto (Hugo) PAKYO merupakan organisasi kartunis pionir, serta paguyuban paling tua di Indonesia yang menginspirasi munculnya organisasi sejenis di berbagai kota lain. Dari sini pula kartun kemudian menggaung ke mana-mana. 
Menilik sejarah PAKYO sekitar 1979-an, banyak kartunis handal menelurkan karya-karya lucu mereka. Tak sedikit yang menghiasi halaman media cetak yang menyediakan ruang kartun. Seiring berlalunya zaman, media-media cetak yang memberikan lahan bercocok taman kepada kartunis-kartunis di Yogyakarta kian tandus, ada yang menghilangkan halaman kartun ada pulang yang memang telah berhenti terbit.
Walau mengalami pasang-surut namun organisasi yang memiliki kurang lebih 40 orang anggota aktif saat ini tetap terus berusaha untuk memberi napas dan denyut pada kehidupan kartun di Indonesia.Mesti dewasa ini anggota paguyuban lebih sering bekerja secara individu, namun mereka tetap berusaha untuk menjaga eksistensi PAKYO.
Lama berdiri, PAKYO telah menghelat berbagai pameran kartun, Pameran Kartun Nasional di Yogyakarta (1992), MUBES PAKARTI sekaligus Pameran Nasional (1994), lalu Pameran Kartun on Kanvas ‘JogjaKARTUN HadiningART’ (2010), dan lain sebagainya. Demi menggembalikan bara semangat, PAKYO diharapkan untuk rutin hadir dalam Car Free Day (CFD) Tugu Jogja Festival di Jalan Margo Utomo yang dilaksanakan setiap minggu pertama setiap bulannya, dan pada kegiatan Swara Djoko Pekik.
“Karikatur on the spotmenjadi agenda utama kami pada kedua acara tersebut. Interaksi kartunis PAKYO dan publik pun semakin dekat. Saya harap event-event kali ini menjadi ruang kumpul anggota, menyambung silaturahmi, menambah anggota baru, dan tempat nemelurkan gagasan segar PAKYO ke depan,” ungkap Agoes Jumianto, ketua PAKYO saat ditemui di perayaan Festival Kesenian Yogyakarta ke-29. “Kami berharap agar PAKYO tetap bisa memberi ruang edukasi dan pemahaman akan kartun. Ingin agar kami dapat berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain, dan yang paling utama agar kartunis-kartunis dapat hidup dari kartun.” (Adhisti)


Dipublikasikan Tabloid BIAS | Eds III | 2017