Saturday, February 21, 2015

5 Hal Yang Sering Dilakukan Oleh Mereka Yang Terjebak Friendzone



Kali ini kita akan membahas beberapa jenis dan golongan romansa. Ada yang bertepuk sebelah tangan, ada yang berpacaran/bersambut cintanya, ada friendzone, SMSzone, OjekZone, dan zone-zone yang lainnya. kali ini kita akan fokus ke hubungan friendzone. Ada yang tidak tahu makanan apa itu? yang jelas itu makanan ati yang penuh sensasi nyeri, gurih, manis, pedas dan asin. Waduh-aduh.. bercanda mulu nih kakak.
Friendzone adalah hubungan yang satu nganggep temenan, satunya berharap lebih dari teman. Jadi, ya hampir mirip-mirip dengan TTM “Teman Tapi Mesra”. Hal-hal yang sering dilakukan oleh mereka yang tersangkut dalam hubungan friendzone adalah sebagai berikut
·         Suka ngecek ponsel, Tapi ponsel selalu sepi. Saat ponsel berbunyi, girang tak kepalang, ternyata sms dari operator dan temannya. Saat itu, biasannya langsung tak bersemangat membalas dan mengetik sms.
Itu hal yang seringkali dilakan oleh mereka yang masuk ke zone Friendzone. Berharap dia menghubungimu menanyakan kabar, ngingetin makan, minum, ngingetin kentut dan sms hal apa saja. Satu kalimat sms darinya saja mampu membuatmu seneng seperti orang kejatuhan uang 100 juta.
·         Suka kangen sendiri, natapin fotonya sendiri. Dianya, tak peduli dengan semua yang kita rasakan.
Hal yang sering dilakukan yang lainnya bagi mereka yang terjebak dalam friendzone adalah, sering kangen sendiri. ketika kangen, yang sering dilakukan adalah, memandangi fotonya dia. Senyum-senyum sendiri membayangkan senyumnya. Kemudian, nangis-nangis sendiri ketika mengingat realita yang memang sebenarnya menyakiti diri sendiri.
·         Ketika banyak teman seangkatan sudah pada berpasangan, cuma berbisik sendiri pada Tuhan “Gue kapan ada orang yang menyayangi dan mencintai gue apa adanya dan tulus”.
Itulah yang sering dirasakan oleh “penderita” sindrom friendzone. Semacam “Rasanya dicintai, disayangi orang yang mencintai gue apa adannya, seperti perasaan yang pernah aku berikan. Senangnya bagaimana ya?” semacam itulah. Atau ketika melihat apapun di jalan jga sering super sensitif, misalnya saat melihat sepasang kekasih di jalan “Ih, bahagianya mereka. Bersyukur mereka menemukan pasangannya”. Dll.

Tuesday, February 17, 2015

4 Kesalahan Jombloer



Bumi yang begitu ramai dan hiruk pikuk terasa sepi, sunyi, senyap dan lenggang bagi mereka yang mencari dayung yang hilang sebelah, terutama bagi para jombloer. Hal-hal yang bisa dilakukan oleh kaum jombloer hanya berandai-andai, misalnya, ketika berjalan, tangan kita digandeng erat berjalan bersama. Sesekali saat lelah menyerang, istirahat bersama. Sesekali saling memandang sekedar tersenyum dan saling menguatkan. Saat letih diperjalanan dan saling berkeringat, saling menyeka keringat. Saat lelah, ada bahu yang siap menjadi sandaran, dan menjadikan sosoknya salah satu semangat untuk terus bertahan.
Kenyataannya, bagi para jombloer masih berjalan sendiri, menyeka keringat sendiri, ketika lelah berteduh dibawah pohon sendiri. Bahkan, saat putus asa tidak ada semangat, satu-satunya alasan untuk membangkitkan diri adalah diri sendiri. Tentu saja, bagi mereka yang menyukai seseorang yang tidak menyukai balik, apalagi beberapa kali dimasa lalu yang hampir sama kasusnya. Mungkin akan bertanya “Bagaimana ya rasanya diperhatikan, disayangi, dicintai seperti yangku rasakan dan berikan?” dan bentuk pertanyaan lain (memang setiap orang berbeda-beda sih inginnya gimana)
Memang di dalam hidup ini manusia hanya sebagai pemain. Penulis skenario dan sutradara adalah Tuhan sang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Seperti salah satu lirik lagu, yang intinya tentang kisah yang bertepuk sebelah tangan. Namannya juga manusia, yang memiliki perasaan. Ketika rindu menyerang, menegur dan mengungkapkannya lah ya. Sebenarnya tahu bahwa perasaannya hanya sepihak. Sebenarnya tahu memang reaksi orang yang tidak memiliki rasa yang sama selalu apa adannya dan datar merespons kita. Sudah tahu begitu, ada juga yang masih terus dicoba dan memaksakan. Dalam kondisi seperti itu, ada beberapa hal yang dirasakan oleh jombloer saat berkomunikasi dengan si target, dan ini nampaknya sering dialami oleh banyak orang yang terjebak dalam kasus yang sama seperti ini

  • Saat mengirim pesan berbau perasaan “korban” hanya di respons seadannya, singkat dan datar.
  • si Korban yang masih dalam hubungan yang masih awal, tidak mempedulikan respon si target. Si korban tetap asyik memancing komunikasi agar tetap berlanjut.
  • Si Korban yang mengetahui dan memahami posisinya sebagai apa dan batasannya. Saat di respons target seadannya, si korban akan berfikir. Setelah itu menyesali telah mengirim pesan/berkomunikasi dengan target. Karena merasa malu dan menjatuhkan harga dirinya sendiri. Apalagi jika yang memulai SMS duluan dengan isi pesan yang sesuatu, ketika direspons seperlunya dan seadannya. (tidak semua orang sih, ada juga yang masa bodoh dengan hal semacam ini)
  • Si korban yang sadar posisi dan batasannya, ketika tahu hubungannya, ia akan pesimis, dan terlanjur malu jika terus menunjukan dan mengungkapkan perasaan secara sepihak, mungkin semacam kayak menodai harga diri kali ya? kemudian memutuskan untuk mundur perlahan dan mencoba membuka hati pada yang lain. Ya, namannya saja mundur perlahan, tidak bisa langsung membalikan telapak tanganlah ya. Semua proses emang.

Sebenarnya masa-masa cinta tidak bersambut adalah masa paling nikmat dirasakan loh. Bahkan, kenikmatan ini bisa dibagikan kepada diri sendiri dan orang lain. Apa saja itu?

Tuesday, February 10, 2015

Teman Sebagai Semangat dan Pelarian?


“Saya itu sedih melihat perasaanku yang selalu sedih dan otak yang overthinking,” itulah bisiknya.
“Saya itu sampai tidak enak hati ketika teman-teman banyak yang menyapa, jika badanku semakin kurusan dan wajahnya kusem,” ceritanya lagi padaku.
“Saya itu juga marah pada diriku sendiri, kenapa saya begitu mencintainya dan sulit move on darinya. Padahal jelas, dengan sadar secara tidak langsung dia memang tidak pantas untukku, buktinya memang dia tidak peduli sama sekali. Bahkan terkesan nrimo dan tidak peduli, tidak mencoba mempertahankan dan memperjuangkan,” ceritanya semakin panjang lebar.
“Saya itu sampai berfikir, jangan-jangan diotaku terjadi kesalahan dalam berfikir waras? Saya tahu banyak orang yang menunggu jawaban dariku, sama halnya aku menunggu jawabannya dia dulu. Tapi kenapa bodoh sekali diriku memperjuangkan yang tidak pernah memperjuangkanku sama sekali. tidak pernah juga menahanku agar tetap disisinya, justru membiarkan begitu saja saya pergi,” ceritanya semakin menjadi-jadi.
“Yang bodoh itu sebenarnya aku. Bukankah begitu?” tanyanya kemudian padaku.
Hidup itu sangat sporadis dan berantakan. Kita tahu masalah yang menimpa pada diri kita, tetapi kita terlalu menuruti keinginan-keinginan yang semakin memperosokan kita. Karena cinta, efeksampingnya banyak hal. sebenarnya kita tahu langkah dan keputusan yang terbaik bagi diri kita dan orang lain, tapi seringkali kita menomorsatukan kepentingan pribadi.
“Ketika aku meminta saran, hampir semua saran mereka adalah menyuruhku benar-benar fokus dengan yang lain. Melupakannya dan mencoba menerima oranglain. Tidak ada satupun yang memihak hati kecilku, bahwa aku harus terus berjuang dan mempertahankannya, semua menyarankan pilih yang lain. Jika banyak saran yang menyuruh melepaskan, apa benar hatiku selama ini benar-benar salah mencintainya? Seandainya dia menyarankan dan mendukungku agar aku terus mencintai dan menyayanginya, ironisnya ia pun menyuruhku untuk berteman saja. Kenapa tidak ada suara yang memihak hati kecilku?” tambahnya kemudian

Monday, February 9, 2015

Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang



Sesunggunya, aku datang saat aku butuh dan aku pergi saat aku dapatkan yangku inginkan. Padahal, apa yangku inginkan semua itu datangnya dari kemurahanMu
Selepas sholat mahrib sengaja tidak tilawah. Entah kenapa aku duduk sambil mengerakan ruas jari begitu lama. Lelah memainkan ruas jari, aku pun kembali berfikir keras. Yah, tepatnya beberapa bulan ini aku selalu mempertanyakan dan memikirkan ganjalan yang ada dikepalaku. Entah kenapa aku suka sekali memikirkan ini. Padahal, sudah hampir tiga bulan aku mimikirkannya. Beberapa minggu terakhir semakin sering aku memikirkan hal ini. Ketikaku benar-benar temukan jawabannya, akupun memikirkan esensi keberadaan dan tingkah polahku. Aku memikirkan caranya aku mampu benar-benar ikhlas dan berserah, karena hal ini sulit bagiku.
Manusia tempat melakukan banyak kesalahan. Semakinku ingat, semakinku marah pada diriku sendiri. Marah dengan caraku dan sikapku. Yah, mungkin selama ini aku berperilaku dan bersikap salah. Aku memang egois, karena keegoisanku menyeret oranglain masuk ke konflik pribadi. Merepotkan banyak orang dan menganggu serta mengusik hidup orang. Sungguh, aku merasa seperti orang penjahat tak punya hati.
Ketika mengingat sakit hati masalalu yang terulang kembali, rasannya itu seperti dipanah dari segala penjuru arah mata angin. Panahnya menancap dari belakang,  depan, kanan, kiri dan dari atas dan bawah. Rasanya sampai ngilu jika tak sengaja, luka masa lalu teringat ditambah kekecewaan yang saat itu. Satu hal keegoisanku yang luput dari pikiranku, yaitu, aku tidak memikirkan perasaan teman yangku seret-seret dalam masalah pribadiku ini.
Gerimis malam inipun ditemani sebutir, dua butir dan tiga butir air yang menetes di mukenaku. Aku tidak peduli berasal darimana air itu, yang jelas, kedua pipiku mulai lengket. Dialog imajinerku masih berlanjut. Kucoba memposisikan diriku menjadi temanku. Semakin diriku ini seperti penjahat kelas dunia. Ah, ku kira memang dosaku memang banyak. Pantas saja Tuhan tidak mengabulkan doaku satu ini, mungkin karena dosaku terlalu banyak, sampai-sampai doaku tidak sampai langsung pada Tuhan.

Sabar Ada Batasnya



Apa yang paling menyedihkan di dunia ini? tidak mampu menerima kenyataan! Itu hal yang paling menyedihkan diri sendiri. Kenapa Tuhan timpakan rasa sedih hati? Karena Tuhan menyuruh hambanya untuk bersabar pada diri sendiri dan oranglain. Sabar itu mudah diucapkan, tapi sulit untuk dilakukan. Bahkan sering muncul pernyataan “Sampai kapan harus bersabar?” iya nggak?
Kesabaran itu menguji keteguhan hati. Termasuk bersabar menghadapi diri sendiri. Pernah suatu ketika, aku begitu marah dengan seseorang. Marah karena mengingat masa lalu yang indah. Bahkan, ketika bermain kami selalu tertawa, bersemangat untuk bekerja dan riang hati gembira. Bahkan, hal-hal yang tidak pernahku berikan kepada sembarang orang lain, akhirnya dianggap biasa-biasa saja. Dengan enteng dan mudahnya dijawab tanpa melihat selama berteman. Jawaban itulah yang sebenarnya membuat kebersamaan dulu menjadi begitu hitam hanya dengan satu kesalahan. Ingin menyalahkan dan menuding banyak hal, “kenapa dia seperti itu”, “Kenapa sejak awal tidak merespons”, “Kenapa?”, “bagaimana” dan lain-lain.
Setelah dipikirkan lagi, dia tidak salah. Itu karena aku tidak mampu bersabar. Alhasil dan walhasil menyalahkan diri sendiri lebih besar. Memang, mekanisme pertahanan diri yang paling efektif dan memuaskan adalah menyalahkan oranglain dan mengkambinghitamkan orang lain. Saya kira juga tidak ada manfaatnya menuding oranglain demi menyenangkan hati diri sendiri.
So, mau apa? bagaimana? Sampai kapan? Lagi-lagi berfikir dan berfikir, Sampai kapan aku akan menyalahkan orang lain dan menuding oranglain. Padalah, ketika aku menunjuk dan menyalahkan oranglain, ada empat jari yang menunjuk dan menyalahkan diri sendiri.
Kesabaran itu ada batasnya, itu kalimat mekanisme pertahanan diri yang paling ampuh. Orang-orang yang tengah jatuh sangat membutuhkan kalimat-kalimat untuk membangkitkan pikirannya menjadi bangkit. Hanya orang-orang yang baik dan bersih hati dan pikirannya yang akan mengatakan “kesabaran itu tidak ada batasannya” itu untuk ukuran hamba Tuhan yang tarafnya ma’rifat mungkin.

JUJUR HANCUR LEBUR! ORA POPO



Cinta itu misteri dan menakutkan itu memang benar. Cinta itu tidak melulu soal senang dan haha hihi huhu. Mungkin kita pernah mencintai seseorang, karena ketidakcocokan ego dan ketidakcocokan keinginan menjadi sumber perpisahan. Sebesar apapun mencintainya, hasilnya tetap saja, sulit disatukan. Ingin menyatukannya, tapi kalo hanya satu satu yang mengupayakannya sama aja bohong. Lain cerita semisal dihadapi bareng, sesulit apapun tetap terasa ringan.
Cinta itu saling melengkapi, saling dan saling yang lain. Bahkan, dia yang menyayangi dan mencintaimu namun belum ada kesempatan untuk mengungkapkannyapun akan berusaha mengiringi langkah kita agar terus berjalan seiring. Saya kira semua orang tahu, dalam soal perasaan dan romansa jelas ada masalah. Itu rahasia umum. Masalah itu harus dihadapi, bukan terus menerus dipikirkan namun tak pernah ada eksen sama sekali.
Cinta itu juga perlu diperjuangkan. Perjuangan secara diam-diam tidak cukup. Berjuang secara terang-terangan itu penting. Loh, logikanya saja. Loe suka sama gebetan loe, loe hanya diam-diam suka sama dia. Diam-diam ngasih ini itu dan ngasih yang lain-lain. Ketika gebetan ada masalah, loe yang menyelesaikan secara diem-diem, kira-kira si doi akan jadi tersentuh nggak tuh dengan ketulusanmu membantu? Ya kalo akhirnya doi tahu loe membantu dia. Kalo ternyata doi nggak tahu apa yang loe lakuin, SKATMAT sudah nasibmu!. Gegara doi tidak tahu perjuangan dan perasaanmu, doi akhirnya memutuskan mundur dan angkat tangan. Padahal si gebetan loe sebenarnya juga sayang dan cinta sama loe. Karena si gebetan ngirannya kamu tidak suka, dan akhirnya mundur duluan. Gimana perasaan loe? berjuang itu secara sportif, bukan diam-diam. Menurutku itu tidak sportif.
Lain cerita lagi ketika kamu memperjuangkan cinta secara terang-terangan. Bukan bermaksud cari muka, pamer dan perasaan ingin diketahui, bukan!. bukan bermaksud itu. Memperjuangkan yang benar-benar memperjuangkan karena tulus itu beda loh sama yang memperjuangkan karena modus. Awalnya dia ragu, karena melihat perjuanganmu yang bisa ditangkap dan dipahami si doi, si doi tambah yakin sama kita. Kecuali, emang kamu tidak pingin diperhatikan si doi. Tapi menurutku munafik deh kalo ngaku cinta dan sayang tapi tidak butuh perhatian doi. Siapa sih yang tidak senang diperhatikan oleh orang kita sayangi dan cintai. Iya nggak????

Thursday, February 5, 2015

Zona Nyaman vs Zona Gonjang-ganjing



Tik tok, waktu terus berputar. Tik tok waktu tidak bisa berputar kebelakang. Tik tok, tidak bisa mengulang waktu yang terlanjur terlontar. Tik tok, putaran jarum jam terus melesat ke depan. Bagaimana dengan diri kita? Apakah masih tetap berdiam diri di satu tempat bernama kesedihan dan kegelisahan? Atau tidak mempedulikan aral melintang, tetap melaju dan melupakan semuanya?.
Beberapa hari yang lalu, saya memiliki teman baru yang menceritakan masalahnya. Ya, sebenarnya saya dengan dia sama. sama-sama memiliki masalah sendiri. Hanya saja, bentuk masalah yang saya dan dia hadapi berbeda. Di Bluelogoon ia bercerita banyak kisah. Hingga akhirnya sayapun berfikir dan bertanya pada diri sendiri.
Lagi-lagi masih masalah hati. Yah, namannya anak mudah. Bermain hati dan mempermainkan hati sendiri itu seperti mainan yoyo. Ditarik menjauh, kemudian ditarik mendekat dengan asyik, tapi ketika jidad terbentur oleh yoyo, ya mewek dan kesakitan. Tidak ada salahnya menoleh ke belakang. Tahun pertama, ketika rasa tidak ikut campur, terasa indah, berbunga-bunga dan segala keindahan yang lainnya. Lagi-lagi “tik tok” terus berjalan, mendesak untuk mencari tahu sebuah jawaban, “Sebenarnya apa? kenapa? Bagaimana?”
Ketika terjawab sudah, mulai ada sisi kotor dari hati dan pikiranku. Ibarat seperti mendung, yang mendadak hitam dan mendadak cerah. Waktu terus bergulir, ketika mendung tiba, jangan ditanya, pasti terjadi gerimis dan hujan, baik lokal maupun beberapa lokal ikut turun hujan. Ketika cerah, indahnya hidup, tertawa bersama, senyam-senyum seperti orang gila dan betapa bersyukurnya menemukan sosoknya. Ah, jika mengingat waktu itu, betapa rindunya hati ini.
Tik tok, terus berjalan. Kita tidak boleh jalan ditempat, terus menerus di zona aman. Apapun pergerakannya, harus tetap berpindah dari satu titik lokasi. Jika terus menerus di satu titik dan terlena di zona aman, kita akan tertinggal jauh oleh waktu. Kita juga tertinggal jauh oleh teman-teman kita yang berani melangkah.
Kembali kabut tebal menyelimuti, kemudian cerah lagi. Terus seperti itu, tak terasa hampir satu tahun mendung dan cerah ceria terlewati. Hingga pada satu titik, detik ini saya kembali melihat ke belakang. Dari bulan ke bulan yang fluktuatif itu, semakin memburuk dan semakin sering mendung dan hujan. Ah, setiap kali rindu sebenarnya aku inginkan pagi yang cerah ceria dan membahagiakan. Saling berbagi, saling mengingatkan, saling memperhatikan dan saling mengungkapkan tanpa terhalang oleh perasaan “tidak enak” dan norma “kepantasan atau tidak pantas”.
Sempat berfikir, untuk kembali seperti yang dulu. Karena hidup dalam kekotoran dan prasangka sangat melelahkan.
Kembali bertanya pada diri sendiri, Seberapa lama kuat jalan ditempat dan kembali ke zona aman lagi? Ah, mungkin lain cerita jika rasa dan batasan “kepantasan” & “ketidakpantasan” itu tidak tertanam erat dalam benak. Ah, pasti jika tidak mempermasalahkan komitmen akan terus cerah ceriah. Kembali lagi, fungsi dari sebuah komitmen bukan persoalan menguntungkan pihak saya atau pihak mereka. Tetapi untuk kedua belah pihak.

LATAHZAN MY DEAR


Apakah ini termasuk salah mencintai seseorang? Awalnya aku merasa kau orang tepatku jatuhi cinta, tapi kau sendiri yang berkali-kali mencoba menyadarkanku bahwa kau bukan yang tepat untukku. Sampai detik ini, aku selalu berharap dan berdoa kepada Tuhan, kau memang orang yang tepat untukku. Namun, nampaknya kau masih tetap menyadarkanku, seolah-olah aku salah jika mencintaimu”
Membicarakan soal hati memang tidak akan habis. Ketika hati memupuk cinta pada seseorang yang tidak pernah peduli padamu. Cinta hanya mampu berdiam tanpa suara. Hanya berharap pada ruang hampa dan berdialog imajiner pada diri sendiri. Hanya bertanya pada diri sendiri kemudian dijawab sendiri. Hanya merindukannya sendiri dalam harapan yang tahu tidak akan terjawab.
Setiap detik teringat, hanya meneteskan peluh. Tak tahu ingin mengadu kepada siapa. Tidak tahu harus marah pada siapa dan tidak tahu harus berbuat apa. Benar, cinta tidak harus memiliki. Bukan berarti dilarang agar tidak menangis. Tak ada satupun orang yang tidak bersedih. Apapun bentuk romansa kita, bukan hal dosa kita menangis bukan? orang yang pernah terjatuh dari jurang dan nyaris mati, merasakan hal yang indah dan membahagiakan dalam hidup ini adalah nikmatnya kesempatan dan indahnya kehidupan manusia yang Tuhan berikan. Sedangkan bagi mereka yang tidak pernah mendapatkan cintanya, merasa, tidak ada yang lebih indah selain menemukan cinta dan ditemukan oleh cinta. tak ada yang lebih indah selain “SALING” menemukan satu sama lain.
Hati tidak bisa dipaksa. Begitupun dengan hatinya, ia berhak mencintai orang yang dicintai. Begitupun dengan kita, kita berhak mencintainya. Dan dia juga berhak bahwa dirinya tidak mencintai kita. Dan kita, juga berhak mendapatkan cinta yang mengasihi dan mencintai kita apa adannya. Ketika membicarakan hak, semua orang berhak dengan semua pilihannya masing-masing. Hal terindah dari dalam hidup ketika menemukan hak mereka yang seiring dan sejalan. Memang, hal seperti ini sulitnya minta ampun, ya seperti inilah hidup.
Karena hati tidak dipaksakan dan kita tidak berhak memaksa hatinya, yang kita lakukan hanyalah memaksa hati kita tidak mencintainya lagi. Cinta itu indah, cinta itu sederhana namun terasa begitu sempurna Indahnya. Namun, segala permasalahan yang terjadi datang, sedih dan air matapun bagian pelengkap dari bagian cinta dan keindahan. Apapun itu, bagi saya, saya tidak pernah menyesali apapun yang pernah saya rasakan selama hidup di dunia ini.
Bersyukurlah bagi kita yang bisa menangis dan sedih karena cinta. Itu menunjukan kita memiliki rasa. Mungkin kini rasa kita tidak tersambut, namun kelak, kitalah yang akan disambut oleh cinta dan kita akan menyambutnya penuh suka cita.