Muhammad Aqil Arkanudin: Raih Prestasi Melalui Tae Kwondo


Selain melalui jalur akademis, setiap orang dapat pula mengukir prestasi lewat jalur non-akademis. Seperti Muhammad Aqil Arkanudin, misalnya, yang sukses membawa pulang berbagai medali dengan titel seni beladiri taekwondo.
            Laki-laki kelahiran Yogyakarta, 12 Oktober 1999 ini memulai perjalanannya sejak kelas empat sekolah dasar. Awalnya, ia hanya ikut-ikutan karena banyak temannya yang bergabung di tempat pelatihan taekwondo (dojang) tak jauh dari rumahnya. “ Tapi lama-lama jadi suka, karena pada dasarnya aku memang suka olahraga,” tuturnya menjelaskan.
           
Taekwondo adalah salah satu cabang seni beladiri asal negeri gingseng, Korea, yang sebagian besar gerakannya berfokus pada gerakan menyerang. Taekwondo berasal dari kata tae yang artinya tendangan, kwon yang artinya pukulan, dan do yang artinya seni, sehingga dapat diartikan sebagai seni beladiri yang menggunakan pukulan dan tendangan untuk menyerang.
            Dalam taekwondo, peringkat seseorang dapat dilihat melalui warna sabuk yang dikenakan. Secara berurutan, warna sabuk adalah putih, kuning, hijau, biru, merah, dan hitam, dengan sembilan tingkatan strip untuk warna hitam dan satu tingkatan strip untuk warna lainnya. Untuk dapat naik ke peringkat selanjutnya, setiap taekwondo-in diharuskan mengikuti ujian khusus.
Porsi latihan disesuaikan dengan keadaan. Setiap minggunya, Aqil, panggilan akrabnya, berlatih sebanyak dua hingga tiga kali. Namun jumlah latihan dapat bertambah apabila ia akan menghadapi kejuaraaan. Pola latihan yang dijalaninya sama seperti taekwondo-in (sebutan bagi pemain taekwondo) lainnya, yakni latihan dasar atau ketahanan fisik, latihan poomsae atau ragkaian jurus-jurus dasar, latihan kyokpa atau berlatih dengan objek sasaran tertentu, dan latihan kyorugi atau bertarung dengan lawan.  
            Ketika hendak menghadapi kejuaraan tertentu, tentu saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah menjaga berat badan. Sebab, kelas yang menentukan kelompok lawan bertanding dalam kejuaraan taekwondo dibedakan berdasarkan berat badan, bukan kelas sabuk atau peringkat. “ Sebenernya nggak ada pantangan makan, tapi jaga berat badannya harus ketat,” ujar pemilik sabuk hijau strip biru tersebut.
            Berkat kegigihannya dalam berlatih, siswa kelas sebelas SMA BIAS Yogyakarta ini sukses menyabet beberapa penghargaan. Pada 2013, Aqil mendapat medali emas lewat ajang Eagle Spirit (ESTA) Taekwondo Championship. Tahun berikutnya, ia membawa pulang medali perak dari UKDW Taekwondo Internal Championship. Kemudian dua medali perunggu Walikota Cup dan Yogyakarta Master Taekwondo Poomsae Championship pada 2015 dan 2016.
            Prestasi yang berhasil diraihnya, tentu saja tidak lepas dari dukungan keluarga. Aqil mengaku bahwa keluarganya memiliki peran penting dalam kisah kesuksesannya. Mulai dari hal mendasar yakni selalu mengizinkannya melanjutkan latihan dan membiayainya, hingga selalu datang di setiap pertandingannya. Hal tersebutlah yang menjadi motivasi untuknya agar selalu berusaha lebih keras.
Bagi Aqil, tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding melakukan apa yang kita suka, apalagi jika hal tersebut mampu menuai prestasi. Meskipun terkadang latihan membuatnya kelelahan, laki-laki dengan tinggi badan 174 sentimeter itu merasa bahagia. “ Apapun itu, kalau sudah suka dan dilakukan dengan sungguh-sungguh, pasti bisa berhasil,” tutup Aqil dengan mantap. (Sabila Royana)


Muhammad Aqil Arkanudin: Raih Prestasi Melalui Tae Kwondo Muhammad Aqil Arkanudin: Raih Prestasi Melalui Tae Kwondo Reviewed by Elisa ELisa on Sunday, July 08, 2018 Rating: 5

Sahabat

Powered by Blogger.